Pekanbaru – Polemik terkait dugaan aktivitas penimbunan bahan bakar minyak (BBM) ilegal di sebuah gudang di Jalan Melati, Panam, Pekanbaru, terus berkembang. Berbagai pemberitaan yang simpang siur mengenai keberadaan dan operasional gudang tersebut telah memicu kesalahpahaman di kalangan jurnalis dari beberapa media online di Pekanbaru.
Kesalahpahaman ini berujung pada tudingan adanya oknum wartawan yang diduga membackup aktivitas gudang BBM ilegal milik seseorang berinisial FG. Selain itu, muncul pula dugaan pengaburan berita investigasi yang dilakukan oleh sesama jurnalis.

Menanggapi situasi ini, Erick Simanjuntak, S.H., Kepala Perwakilan Riau dari media Radarblambangan.com, menegaskan bahwa dirinya tidak pernah melarang atau menghambat investigasi yang dilakukan oleh rekan-rekan wartawan. Ia menyampaikan klarifikasinya dalam sebuah pertemuan dengan jurnalis Fernando dan beberapa wartawan lainnya di sebuah warung dekat lampu merah Tobek Gadang, Rabu (12/2).
Dugaan Harus Berdasarkan Bukti Valid
Dalam diskusi tersebut, Erick menegaskan bahwa kata “dugaan” dalam pemberitaan harus merujuk pada fakta dan data yang valid, bukan sekadar spekulasi. Hal ini penting agar tidak menimbulkan hoaks yang dapat merugikan pihak lain dan berujung pada konsekuensi hukum berdasarkan UU ITE.
“Kita menghormati tugas dan fungsi wartawan. Saya mendukung penuh investigasi yang dilakukan secara profesional, dengan bukti, saksi, dan data yang valid. Jika memang ditemukan pelanggaran, mari buat laporan resmi ke aparat penegak hukum (APH),” ujar Erick.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa pemberitaan yang diterbitkan Radarblambangan.com sebelumnya, yang menyatakan gudang tersebut tidak beroperasi, murni berdasarkan hasil investigasi saat itu. “Saat berita dipublikasikan, gudang memang dalam kondisi tutup dan tidak ada aktivitas. Jika sebelumnya atau nanti gudang itu beroperasi, itu hal lain. Yang jelas, kami hanya melaporkan fakta di lapangan pada saat itu,” jelasnya.
Mengklarifikasi Tuduhan “Backup” dan Penerimaan Bayaran
Erick juga menyoroti tuduhan bahwa dirinya atau media yang ia pimpin terlibat dalam membackup atau menerima bayaran untuk melindungi aktivitas di gudang BBM ilegal tersebut. Ia menegaskan bahwa sebagai jurnalis, ia tidak memiliki kapasitas untuk memberikan perlindungan semacam itu.
“Saya hanya seorang wartawan, tidak ada kepentingan dalam investigasi ini selain untuk mengungkap fakta. Tidak ada yang mengaburkan berita, apalagi demi kepentingan pribadi atau bayaran. Jika ada dugaan penyalahgunaan, mari kita ungkap bersama, tetapi tetap harus berdasarkan fakta,” tegasnya.
Menurutnya, dalam menjalankan tugasnya, jurnalis harus menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik (KEJ) dan Kode Perilaku Wartawan yang mengatur integritas, profesionalisme, serta tanggung jawab dalam menyajikan berita yang akurat dan berimbang.
Kesepakatan untuk Bersinergi dan Menjaga Kekompakan
Setelah diskusi panjang yang diwarnai suasana penuh keakraban, Erick dan para wartawan yang hadir sepakat untuk mengakhiri kesalahpahaman yang terjadi. Mereka berkomitmen untuk tetap bersinergi, menjaga kekompakan, serta terus menyajikan berita yang akurat dan bermanfaat bagi masyarakat.
“Kita semua memiliki tujuan yang sama, yaitu memberikan informasi yang benar kepada publik. Jika ada perbedaan dalam pemberitaan, sebaiknya diklarifikasi dengan komunikasi yang baik. Mari kita jalankan tugas jurnalistik ini dengan penuh tanggung jawab,” pungkas Erick.
Dengan berakhirnya polemik ini, diharapkan investigasi terkait dugaan penimbunan BBM ilegal di Pekanbaru dapat terus berjalan secara objektif dan profesional tanpa ada kepentingan lain di luar kepentingan publik.
Sumber: D.S