Menu

Mode Gelap
TNI AD Berjuang Bersama Rakyat, Kodim 0820 Peringati Hari Juang Ke-79 Polsek Widang Tingkatkan Patroli di Perbatasan Jelang Natal 2024 dan Tahun Baru 2025 Advokat Muda Salamul Huda Nahkodai GP Ansor Kota Probolinggo Masa Khidmat 2024-2029 88 Karateka Ikuti Ujian Kenaikan Tingkat Kodim 1009/Tanah Laut Peringatan Hari Juang Kartika TNI AD Ke-79, Dandim Tanah Laut Ajak Rakyat Bersama TNI Jaga NKRI HUT Ke-10 Sanggar Seni Reog Singo Lawu: Dukungan PKB Marelan

Berita

Netanyahu Dinilai Gagal, Israel Terancam Krisis Internal dan Eksternal

badge-check

Patrolihukum.net —- Sebuah survei terhadap komentar media Israel dan Amerika Serikat mengungkap meningkatnya kekhawatiran di kalangan para ahli bahwa pemerintahan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, semakin mendorong negara pendudukan itu ke dalam eskalasi krisis baik secara internal maupun eksternal.

Kebijakan Netanyahu dinilai memperdalam perpecahan dalam negeri, merusak kohesi sosial dan politik. Di sisi lain, pendekatannya terhadap tantangan regional justru memperburuk isolasi internasional Israel, membuat negara itu semakin rentan terhadap ancaman strategis jangka panjang. Demikian analisis yang disampaikan oleh pengamat politik Mohamad Hasan Sweidan dalam laporan yang dikutip dari The Cradle, Ahad (9/3/2025).

Netanyahu Dinilai Gagal, Israel Terancam Krisis Internal dan Eksternal

Tidak sedikit analis Israel yang menilai bahwa kekuatan Netanyahu yang diklaim selama ini hanyalah ilusi belaka, sementara kegagalannya dalam mengelola berbagai krisis terlihat jelas bagi siapa saja yang berani melihat kenyataan.

Carl von Clausewitz dalam bukunya On War menyatakan bahwa perang adalah “kelanjutan politik dengan cara lain.” Namun, ia juga memperingatkan, “Jangan mengambil langkah pertama tanpa memikirkan apa yang mungkin menjadi langkah terakhir.” Pelajaran inilah yang tampaknya tidak pernah dihiraukan oleh Netanyahu, sebagaimana halnya para mentor politiknya di Amerika Serikat.

Setelah serangan 11 September 2001, pemerintahan George W. Bush melancarkan invasi ke Afghanistan dan Irak tanpa strategi keluar yang jelas. Akibatnya, AS akhirnya harus menarik pasukannya dengan cara yang dianggap memalukan. Kini, respons Netanyahu terhadap Operasi Banjir Al-Aqsa dinilai menciptakan keguncangan serupa di seluruh Asia Barat. Namun, pertanyaan terbesar yang muncul adalah: Apa strategi Netanyahu untuk keluar dari kekacauan yang diciptakannya sendiri?

Israel Semakin Terisolasi, Netanyahu Kehilangan Kepercayaan Publik

Dalam artikel yang diterbitkan The Hill tahun lalu, Netanyahu disebut sebagai ahli taktik politik di dalam negeri, tetapi sekaligus seorang ahli strategi yang buruk.

Di dalam negeri, ketergantungannya pada sekutu ekstremis untuk mempertahankan koalisinya telah memperburuk perpecahan sosial dan merusak kepercayaan terhadap lembaga negara, termasuk militer dan badan intelijen Israel. Kebijakan kontroversialnya dalam mengubah sistem peradilan Israel telah mengasingkan sebagian besar masyarakat, termasuk tokoh-tokoh penting dalam lembaga keamanan.

Strategi lamanya yang membiarkan Hamas menjadi penyeimbang bagi Otoritas Palestina (PA) – dengan tujuan mencegah terbentuknya negara Palestina – kini menjadi bumerang. Banyak warga Israel mempertanyakan bagaimana Netanyahu kini mengklaim ingin membasmi perlawanan Palestina, padahal pertumbuhan Hamas sebagian besar merupakan konsekuensi dari kebijakannya sendiri.

Di sisi lain, Netanyahu juga menolak bertanggung jawab atas kegagalan keamanan yang memungkinkan terjadinya peristiwa 7 Oktober 2024. Ia bahkan berusaha menghalangi investigasi terkait insiden tersebut serta enggan memberikan rencana pascaperang untuk Gaza. Sikap ini semakin menyulut kemarahan publik dan memperkuat persepsi bahwa Netanyahu lebih mementingkan kelangsungan politik pribadinya dibandingkan keamanan nasional Israel.

Surat Perintah ICC dan Dampak Diplomatik

Di bawah kepemimpinan Netanyahu, Israel semakin terisolasi di panggung internasional. Pada tahun 2024, Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Israel, Yoav Gallant. Hal ini tidak hanya membatasi mobilitas internasional Netanyahu tetapi juga memperdalam krisis diplomatik yang dihadapi Tel Aviv.

Singkatnya, banyak pihak di Israel kini mulai mempertanyakan kepemimpinan Netanyahu. Baginya, politik tampaknya bukan soal kepentingan nasional, melainkan bagaimana mempertahankan kekuasaan dalam situasi apa pun. Namun, seiring meningkatnya tekanan dari dalam dan luar negeri, banyak yang meyakini bahwa era Netanyahu mungkin akan segera berakhir.

(Edi D/)**

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Dugaan Praktik Maksiat Dan Premanisme di Balik Izin Restoran, Pemcam Toili Barat Disorot; Tokoh Agama Diminta Turun Tangan.

1 Mei 2026 - 07:37 WIB

Dugaan Praktik Maksiat Dan Premanisme di Balik Izin Restoran, Pemcam Toili Barat Disorot; Tokoh Agama Diminta Turun Tangan.

Aksi Nyata! Kodim 1505/Tidore Bersama Warga Gotong Royong Bersihkan Pantai

30 April 2026 - 10:18 WIB

Aksi Nyata! Kodim 1505/Tidore Bersama Warga Gotong Royong Bersihkan Pantai

Mosi Tidak Percaya Publik Terhadap Komitmen Kapolda Sulteng dan Kapolres Banggai dalam Memberantas Maksiat Terselubung

30 April 2026 - 09:45 WIB

Mosi Tidak Percaya Publik Terhadap Komitmen Kapolda Sulteng dan Kapolres Banggai dalam Memberantas Maksiat Terselubung

Diduga Kuat Kapolres Banggai Dan Kapolda Sulteng, Takut Tindaki, Bisnis Lendir Berbalut Izin Makanan, Sarang Preman Dan Maksiat.

30 April 2026 - 06:31 WIB

Diduga Kuat Kapolres Banggai Dan Kapolda Sulteng, Takut Tindaki, Bisnis Lendir Berbalut Izin Makanan, Sarang Preman Dan Maksiat.

Jurnalis Minta Perlindungan Kapolri Dan Kapolda Sulteng, Usai Rumah Didatangi Yang Diduga Pemilik Cafe, Paksa Masuk Dan Periksa Kamar.

29 April 2026 - 18:31 WIB

Jurnalis Minta Perlindungan Kapolri Dan Kapolda Sulteng, Usai Rumah Didatangi Yang Diduga Pemilik Cafe, Paksa Masuk Dan Periksa Kamar.
Trending di Berita