Kabupaten Sleman | Gunung Merapi mengalami tiga kali guguran lava pada Minggu pagi, 11 Oktober 2026. Guguran tersebut tercatat dalam laporan pemantauan Gunung Merapi untuk periode pengamatan pukul 00.00 hingga 06.00 WIB. Berdasarkan laporan itu, jarak luncur maksimum guguran lava mencapai 1.800 meter atau sekitar 1,8 kilometer.
Seluruh guguran lava yang tercatat mengarah ke Kali Krasak. Arah luncuran tersebut menjadi keterangan utama dalam catatan pemantauan pada pagi hari tersebut. Data mengenai jumlah kejadian dan jarak luncur disampaikan sebagai hasil pengamatan terhadap aktivitas Gunung Merapi selama enam jam, sejak tengah malam hingga pukul 06.00 WIB.
Informasi itu berasal dari laporan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Kondisi Gunung Merapi dalam laporan tersebut disampaikan oleh pengamat Gunung Merapi dari Badan Geologi, Alzwar Nurmanaji, A.Md. Dengan demikian, catatan pemantauan menyebutkan adanya tiga guguran lava, dengan jarak luncur terjauh 1.800 meter, yang seluruhnya mengarah ke Kali Krasak pada pengamatan Minggu pagi, 11 Oktober 2026.
Selama enam jam pengamatan pada 11 Oktober 2026, kondisi visual Gunung Merapi terpantau jelas. Cuaca di sekitar puncak relatif cerah sehingga bentuk tubuh gunung dapat diamati dengan baik. Angin bertiup tenang dan bergerak ke arah tenggara. Pada periode tersebut, tidak terlihat asap kawah dari puncak Merapi. Kondisi visual yang baik ini menunjukkan bahwa jarak pandang di sekitar gunung cukup mendukung pemantauan, meskipun pengamatan permukaan tidak sepenuhnya menggambarkan aktivitas di dalam tubuh gunung.
Aktivitas kegempaan tetap tercatat selama periode pemantauan. Data menunjukkan terjadi 20 kali gempa guguran dengan amplitudo 1 dan 25 milimeter serta durasi 23,5 hingga 201,56 detik. Selain itu, tercatat 17 kali gempa hybrid atau fase banyak. Gempa jenis ini memiliki amplitudo 2–32 milimeter, dengan selisih waktu tiba gelombang S-P sebesar 0,3–0,5 detik dan durasi 14,36–60,84 detik. Catatan tersebut memperlihatkan bahwa aktivitas internal Merapi masih berlangsung meskipun kondisi visual permukaan tampak tenang.
Parameter klimatologi selama pengamatan turut menunjukkan suhu udara berada pada kisaran 17,3–19,7 derajat Celsius. Kelembapan tercatat 81–93,1 persen, sedangkan tekanan udara berkisar 873,8–917,3 mmHg. Variasi unsur cuaca tersebut menjadi bagian penting dalam pemantauan karena dapat memengaruhi jarak pandang, penampakan asap kawah, serta proses pengamatan visual terhadap material yang bergerak dari puncak.
Berdasarkan sumber pemantauan, suplai magma ke dalam sistem Merapi masih berlangsung. Kondisi tersebut menandakan bahwa potensi aktivitas erupsi belum berakhir, meskipun tidak terlihat asap kawah selama pengamatan. Suplai magma yang berkelanjutan dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya guguran lava maupun awan panas guguran. Karena itu, masyarakat dan pengunjung perlu memperhatikan informasi resmi serta mematuhi rekomendasi kewaspadaan, terutama di wilayah yang termasuk zona bahaya Merapi.
PVMBG masih menyebut adanya potensi bahaya berupa guguran lava dan awan panas guguran di sejumlah sektor Gunung Merapi. Potensi tersebut berkaitan dengan pergerakan material dari area puncak menuju lembah sungai yang menjadi jalur aliran. Masyarakat dan pengunjung perlu memperhatikan arah serta batas jarak yang telah ditetapkan, karena risiko tidak berlaku secara merata ke seluruh kawasan di sekitar gunung.
Pada sektor selatan hingga barat daya, potensi bahaya mencakup kawasan di sekitar Sungai Boyong dengan jarak maksimal 5 kilometer dari puncak. Sementara itu, sektor yang meliputi Sungai Bedog, Sungai Krasak, dan Sungai Bebeng memiliki potensi terdampak hingga jarak maksimal 7 kilometer dari puncak. Batas tersebut menjadi acuan untuk mengenali wilayah yang berisiko terkena guguran lava maupun awan panas guguran, terutama di sepanjang alur sungai yang disebutkan.
Adapun pada sektor tenggara, potensi bahaya berada di sekitar Sungai Woro hingga jarak maksimal 3 kilometer dari puncak. Wilayah Sungai Gendol juga berpotensi terdampak hingga jarak maksimal 5 kilometer dari puncak. Penentuan sektor dan jarak ini perlu dipahami secara tepat agar tidak terjadi perluasan informasi mengenai wilayah bahaya di luar keterangan resmi PVMBG.
Selain bahaya yang berkaitan dengan guguran lava dan awan panas guguran, PVMBG juga mengingatkan kemungkinan lontaran material vulkanik apabila terjadi letusan eksplosif. Dalam kondisi tersebut, material dapat terlontar hingga radius 3 kilometer dari puncak. Karena itu, pemantauan informasi resmi dan kepatuhan terhadap arahan petugas tetap diperlukan, khususnya bagi warga maupun wisatawan yang beraktivitas di kawasan sekitar jalur sungai dan lereng Merapi.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas di kawasan yang termasuk wilayah potensi bahaya Gunung Merapi. Warga, pendaki, wisatawan, serta pengelola kegiatan di sekitar lereng perlu mematuhi batas rekomendasi dan informasi resmi yang disampaikan melalui kanal pemerintah. Pembatasan tersebut diperlukan untuk mengurangi risiko akibat guguran lava, material vulkanik, maupun perubahan aktivitas yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
Masyarakat juga diminta mewaspadai ancaman lahar dan awan panas guguran, terutama ketika hujan turun di sekitar Merapi. Aliran lahar dapat membawa material vulkanik melalui sungai-sungai yang berhulu di lereng gunung, sementara hujan dapat memengaruhi kestabilan endapan material di kawasan puncak. Warga yang tinggal atau beraktivitas di dekat alur sungai perlu memperhatikan perkembangan cuaca, menjauhi bantaran ketika hujan deras, dan segera mengikuti arahan evakuasi apabila dikeluarkan oleh pihak berwenang. Gangguan abu vulkanik juga perlu diantisipasi karena dapat menyertai aktivitas erupsi. Masyarakat sebaiknya menyiapkan masker, pelindung mata, dan perlengkapan darurat, serta mengurangi kegiatan di luar ruangan apabila sebaran abu terjadi.
Tingkat aktivitas Gunung Merapi akan ditinjau kembali apabila terjadi perubahan aktivitas yang signifikan. Merapi berada di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah, mencakup wilayah Kabupaten Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten, dengan ketinggian sekitar 2.968 meter di atas permukaan laut. Sebagai salah satu gunung api aktif di Indonesia, Merapi membutuhkan pemantauan dan mitigasi bencana secara berkelanjutan. Karena itu, masyarakat di wilayah rawan perlu menjaga kesiapsiagaan, mengandalkan informasi resmi PVMBG dan pemerintah daerah, serta tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
















