Patrolihukum.net – Nama Ki Ageng Ngabehi Soerodiwirjo atau yang lebih dikenal dengan sebutan Eyang Suro menjadi salah satu tokoh penting dalam sejarah perkembangan pencak silat di Indonesia. Sosok yang memiliki nama lahir Muhamad Masdan itu dikenal sebagai peletak dasar ajaran Setia Hati, sebuah perguruan yang kemudian berkembang luas dan melahirkan berbagai organisasi pencak silat di tanah air.
Berdasarkan catatan sejarah, Muhamad Masdan lahir di Surabaya pada tahun 1876. Ia merupakan putra sulung Ki Ngabei Soeromihardjo yang saat itu bertugas sebagai mantri cacar di wilayah Ngimbang, Jombang. Dari garis keturunannya, Eyang Suro disebut memiliki hubungan silsilah dengan Betoro Katong, tokoh yang dikenal sebagai pendiri <a href="https://patrolihukum.net/ribuan-guru-tk-se-kabupaten-probolinggo-semarakkan-apel-besar-hut-igtki-pgri-ke-76/”>Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur.

Selain itu, ia juga memiliki hubungan keluarga dengan RAA Soeronegoro yang menjabat sebagai Bupati Kediri pada masa tersebut. Latar belakang keluarga yang dekat dengan lingkungan pemerintahan dan budaya Jawa turut membentuk karakter serta perjalanan hidupnya di kemudian hari.
Sejak usia muda, Muhamad Masdan telah menunjukkan minat besar terhadap pendidikan dan ilmu bela diri. Setelah menyelesaikan pendidikan Sekolah Rakyat pada tahun 1890, ia diasuh oleh pamannya yang menjabat sebagai Wedono di wilayah Wonokromo, Surabaya.
Dalam masa pembentukan karakter tersebut, ia sempat menimba ilmu agama di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. Di lingkungan pesantren itulah ia mulai mengenal dan mendalami seni bela diri pencak silat sebagai bagian dari pembinaan fisik dan mental.
Namun perjalanan pencarian ilmu tidak berhenti di sana. Pada tahun 1892, Muhamad Masdan melanjutkan pengembaraannya ke wilayah Parahyangan, Bandung. Di daerah tersebut, ia memperdalam berbagai aliran pencak silat yang berkembang di tanah Sunda.
Kemampuan bela dirinya terus berkembang seiring dengan tekadnya untuk mempelajari berbagai metode dan filosofi pertarungan dari para pendekar yang ditemuinya. Tidak hanya di Jawa Barat, ia juga melakukan perjalanan ke sejumlah daerah lain seperti Jakarta, Lampung, Padang hingga Aceh.
Di setiap wilayah yang disinggahinya, Muhamad Masdan belajar langsung kepada tokoh-tokoh silat setempat. Perjalanan panjang itu tidak hanya memperkaya teknik bela dirinya, tetapi juga memperluas pemahamannya mengenai nilai-nilai persaudaraan, spiritualitas, serta pembentukan karakter yang kemudian menjadi landasan ajaran Setia Hati.
Setelah bertahun-tahun mengembara, Muhamad Masdan kembali ke Surabaya pada tahun 1902. Sekembalinya ke kota kelahirannya, ia bekerja sebagai anggota kepolisian di Kampung Tambak Gringsing, Surabaya. Dalam catatan sejarah perguruan, ia disebut mengemban tugas sebagai aparat kepolisian dengan pangkat mayor polisi pada masa pemerintahan kolonial.
Di tengah aktivitasnya sebagai aparat, semangat untuk mengembangkan ilmu yang diperolehnya selama bertahun-tahun tidak pernah surut. Setahun kemudian, tepatnya pada 1903, ia mendirikan sebuah perkumpulan yang diberi nama “Sedulur Tunggal Kecer”.
Perkumpulan tersebut menjadi wadah awal penyebaran ajaran yang dikembangkannya. Adapun ilmu pencak silat yang diajarkan saat itu dikenal dengan nama “Joyo Gendelo Cipto Muljo”, yang kemudian menjadi cikal bakal berkembangnya ajaran Setia Hati.
Lebih dari sekadar bela diri, ajaran yang diwariskan Ki Ageng Ngabehi Soerodiwirjo menitikberatkan pada pembentukan budi pekerti, pengendalian diri, serta nilai persaudaraan antarsesama manusia. Filosofi inilah yang membuat ajarannya terus berkembang dan diwariskan lintas generasi hingga saat ini.
Seiring perjalanan waktu, warisan pemikiran dan nilai-nilai yang ditanamkan Eyang Suro melahirkan berbagai organisasi pencak silat berbasis ajaran Setia Hati yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Pengaruhnya tidak hanya terlihat dalam aspek olahraga dan bela diri, tetapi juga dalam pembinaan karakter, budaya, serta persaudaraan di tengah masyarakat.
Hingga kini, nama Ki Ageng Ngabehi Soerodiwirjo tetap dikenang sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah pencak silat nasional. Perjalanan hidupnya yang dipenuhi pencarian ilmu, pengabdian, dan semangat membangun persaudaraan menjadi bagian tak terpisahkan dari perkembangan seni bela diri tradisional Indonesia yang terus lestari dari generasi ke generasi.
(Edi D/Red/**)
- Viral! Ketua PGRI Bangkalan Pilih Ancam Somasi Ketimbang Buka Data Anggaran, Publik Bertanya Ada Apa?
- Kasus Dugaan Intimidasi Wartawan Saat Liputan MBG Mencuat, Redaksi Minta Penjelasan Pengelola SPPG
- Kolaborasi LKNU Kraksaan dan Baznas Ringankan Beban Keluarga Pasien Kurang Mampu Selama Kemoterapi di RSSA Malang


























3 Komentar