Kualitas Udara Makassar Memburuk, Asap Karhutla Diduga Terbawa Angin

Kualitas Udara Makassar Memburuk, Asap Karhutla Diduga Terbawa Angin
banner 468x60

MAKASSAR, SULAWESI SELATAN — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 4 Oktober 2026, Kualitas udara di Makassar dan sejumlah wilayah Sulawesi Selatan menurun dalam beberapa hari terakhir. Kondisi ini menjadi perhatian setelah pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan adanya peningkatan konsentrasi particulate matter (PM) 2,5 di Maros serta wilayah sekitarnya, termasuk Kota Makassar.

Partikel PM 2,5 merupakan polutan berukuran sangat kecil yang dapat masuk hingga ke saluran pernapasan bagian dalam. Berdasarkan hasil pemantauan tersebut, kualitas udara di kawasan terdampak berada pada kategori sedang hingga kurang sehat. Perubahan ini menandai memburuknya kondisi atmosfer dibandingkan periode sebelumnya, terutama pada waktu tertentu ketika konsentrasi partikel meningkat.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Maros menjadi salah satu wilayah yang mencatat perhatian khusus dalam pemantauan BMKG. Peningkatan kadar PM 2,5 di daerah tersebut berpotensi memengaruhi wilayah di sekitarnya, termasuk Makassar, bergantung pada arah dan kecepatan angin. Pergerakan massa udara dapat membawa partikel pencemar melintasi batas wilayah sehingga dampaknya dirasakan oleh masyarakat di kawasan perkotaan maupun daerah penyangga.

Penurunan kualitas udara ini diduga berkaitan dengan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terbawa angin, meskipun penyebab dan sumber pencemar masih memerlukan pemantauan lebih lanjut. BMKG terus mengamati perkembangan konsentrasi PM 2,5 serta kondisi atmosfer untuk memberikan gambaran terbaru mengenai situasi udara di Sulawesi Selatan.

Masyarakat di Makassar, Maros, dan wilayah sekitar diimbau memperhatikan informasi resmi mengenai kualitas udara sebelum beraktivitas di luar ruangan. Kelompok rentan, seperti anak-anak, lanjut usia, serta orang dengan gangguan pernapasan, perlu meningkatkan kewaspadaan ketika kadar polutan berada pada tingkat sedang hingga kurang sehat. Pemantauan berkelanjutan menjadi penting untuk mengantisipasi perubahan kondisi dan mengurangi risiko paparan terhadap kesehatan.

Berdasarkan pemantauan BMKG, perubahan kualitas udara di Makassar tidak berlangsung dengan tingkat yang sama sepanjang hari. Konsentrasi partikel halus PM2,5 cenderung mengalami peningkatan pada malam hari dan terus terpantau lebih tinggi hingga dini hari. Kondisi tersebut masih dapat berlanjut pada pagi hari, sehingga kualitas udara pada rentang waktu itu menjadi perhatian dalam pemantauan di Makassar, Maros, dan wilayah sekitarnya.

Pola harian itu menunjukkan bahwa penurunan kualitas udara tidak secara otomatis terjadi sejak pagi hingga malam, ataupun berlangsung terus-menerus tanpa perubahan. Peningkatan PM2,5 diamati terutama pada periode malam, dini hari, dan pagi. Setelah memasuki waktu menjelang siang, konsentrasinya berangsur menurun. Perbaikan tersebut kemudian dapat berlanjut hingga sore, ketika kondisi kualitas udara cenderung lebih baik dibandingkan periode sebelumnya.

Karena itu, pembacaan kualitas udara perlu mempertimbangkan waktu pengamatan, bukan hanya satu hasil pengukuran pada jam tertentu. Nilai PM2,5 yang meningkat pada malam hingga pagi menjadi dasar bagi BMKG untuk terus memantau kondisi udara di kawasan Makassar, Maros, dan sekitarnya. Pemantauan dilakukan untuk melihat perkembangan konsentrasi partikel halus dari waktu ke waktu, termasuk perubahan saat kondisi mulai membaik menjelang siang sampai sore. Dengan memahami pola tersebut, masyarakat dapat memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai perubahan kualitas udara harian berdasarkan keterangan dan pengamatan BMKG.

BMKG menduga penurunan kualitas udara di Makassar dan sejumlah wilayah Sulawesi Selatan berkaitan dengan masuknya asap kebakaran hutan dan lahan dari luar provinsi. Dugaan tersebut didasarkan pada pola arah angin yang dapat membawa partikel asap melintasi wilayah perairan dan antarpulau. Ketika angin bertiup dari barat hingga barat laut, asap dari wilayah Kalimantan berpotensi bergerak menuju Sulawesi Selatan, termasuk Makassar. Pergerakan ini dapat meningkatkan konsentrasi partikel halus di udara, terutama PM2,5, yang berukuran sangat kecil dan berisiko terhirup hingga ke saluran pernapasan bagian dalam.

Prakirawan BMKG Wilayah IV Makassar, Asriani Idrus, menjelaskan bahwa sumber asap yang memengaruhi Sulawesi Selatan dapat berubah mengikuti dinamika angin. Apabila angin dominan bertiup dari arah timur, partikel asap dari wilayah Papua dan Maluku juga berpotensi masuk ke Sulawesi Selatan. Dengan demikian, kondisi kualitas udara tidak hanya dipengaruhi oleh aktivitas lokal, tetapi juga oleh sumber polusi dari wilayah lain yang terbawa atmosfer. Perubahan arah dan kecepatan angin menjadi faktor penting dalam menentukan sejauh mana asap tersebut mencapai kawasan perkotaan.

BMKG juga menilai kendaraan bermotor belum menjadi faktor dominan dalam peningkatan PM2,5 saat ini. Meskipun emisi transportasi tetap berkontribusi terhadap pencemaran udara, pola peningkatan partikel yang terpantau lebih mungkin berkaitan dengan asap kiriman dan kondisi atmosfer. Potensi pergerakan asap menuju Sulawesi Selatan pun belum sepenuhnya berakhir karena jumlah titik panas di Kalimantan masih tergolong tinggi. Selama kebakaran di wilayah tersebut masih berlangsung dan arah angin mendukung, tambahan asap tetap berpeluang mencapai Makassar serta daerah lain di Sulawesi Selatan. Masyarakat disarankan memantau informasi kualitas udara dan mengurangi paparan di luar ruangan ketika konsentrasi partikel meningkat.

Selain persoalan kualitas udara, masyarakat Makassar dan sejumlah wilayah di Sulawesi Selatan juga merasakan kondisi yang cukup panas dalam beberapa waktu terakhir. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menilai keadaan tersebut masih tergolong wajar karena wilayah Sulawesi Selatan masih berada dalam periode musim kemarau. Pada fase ini, berkurangnya tutupan awan dan curah hujan dapat membuat paparan sinar matahari terasa lebih kuat pada siang hari.

Suhu udara di wilayah tersebut disebut berkisar 30 hingga 35 derajat Celsius. Angka itu dapat membuat aktivitas luar ruangan terasa lebih menyengat, terutama pada waktu ketika matahari berada pada posisi tinggi. Namun, tingkat panas yang dirasakan tubuh tidak hanya ditentukan oleh suhu yang tercatat pada termometer. Kondisi lingkungan lain turut memengaruhi kenyamanan dan risiko paparan panas.

Salah satu ukuran yang dapat digunakan untuk menggambarkan rasa panas adalah indeks panas. Indikator ini memperhitungkan kombinasi suhu udara dan kelembapan, serta dapat dipengaruhi oleh kondisi angin dan radiasi matahari. Karena itu, suhu yang sama belum tentu menimbulkan sensasi panas yang identik di setiap tempat atau waktu. Kelembapan yang tinggi, misalnya, dapat menghambat penguapan keringat sehingga tubuh merasakan panas lebih kuat. Sebaliknya, angin dapat membantu mengurangi sebagian rasa gerah melalui pergerakan udara.

Informasi mengenai cuaca panas tersebut perlu dibedakan dari isu penurunan kualitas udara yang dibahas dalam laporan ini. Suhu 30 hingga 35 derajat Celsius dan pengaruh musim kemarau menjelaskan kondisi termal yang dirasakan masyarakat, sedangkan kualitas udara berkaitan dengan kandungan atau konsentrasi polutan di atmosfer. Kedua kondisi tersebut dapat terjadi pada waktu yang sama, tetapi merupakan informasi yang berbeda dan perlu dipahami berdasarkan indikator masing-masing.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60