Korban Jiwa Karhutla di Bromo Bertambah, Munawi Meninggal setelah Dirawat

Korban Jiwa Karhutla di Bromo Bertambah, Munawi Meninggal setelah Dirawat
banner 468x60

Surabaya | Munawi, anggota Masyarakat Mitra Polisi Hutan (MMP) berusia 44 tahun, meninggal dunia pada Senin (19/10) setelah menjalani perawatan di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya. Ia mengalami luka bakar ketika ikut membantu memadamkan kebakaran hutan dan lahan di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Kepergiannya menambah jumlah petugas gabungan yang meninggal dalam upaya pemadaman menjadi lima orang.

Kepala Balai Besar TNBTS Rudijanta Tjahja Nugraha menyampaikan bahwa Munawi berpulang setelah menjalani perawatan intensif. Ia sebelumnya dirawat di rumah sakit akibat luka yang dialaminya saat terlibat dalam penanganan kebakaran. Keterangan tersebut menegaskan bahwa upaya pemadaman di kawasan taman nasional tidak hanya menghadapi tantangan mengendalikan api, tetapi juga membawa risiko keselamatan bagi petugas dan anggota masyarakat yang membantu.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Munawi merupakan bagian dari MMP, kelompok masyarakat yang bermitra dengan polisi hutan dalam mendukung pengelolaan kawasan. Keterlibatannya dalam pemadaman menunjukkan peran warga dan petugas lapangan ketika kebakaran terjadi di wilayah TNBTS. Namun, luka bakar yang dideritanya berujung pada perawatan intensif dan kemudian kematian. Informasi mengenai wafatnya Munawi menjadi perhatian di tengah penanganan kebakaran hutan dan lahan yang telah merenggut nyawa sejumlah personel.

Dengan bertambahnya korban, jumlah petugas gabungan yang meninggal selama upaya pemadaman kini tercatat lima orang. Angka tersebut menggambarkan beratnya dampak kebakaran bagi mereka yang berada di lapangan, termasuk personel yang bertugas mengendalikan api dan membantu proses penanganan. Pernyataan Rudijanta mengenai perawatan intensif yang dijalani Munawi sekaligus menandai bahwa ia sempat memperoleh penanganan medis sebelum dinyatakan meninggal. Kepergiannya menambah duka bagi keluarga, rekan sesama anggota MMP, serta petugas yang terlibat dalam upaya pemadaman di kawasan Bromo Tengger Semeru. Peristiwa ini juga menyoroti konsekuensi serius yang dapat dialami para petugas dan mitra masyarakat saat membantu menangani kebakaran di kawasan konservasi.

Munawi merupakan salah satu dari 12 petugas dan relawan yang berupaya memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Mereka bekerja di Resort Tengger Laut Pasir, Seksi Pengelolaan Taman Nasional (PTN) Wilayah I, Cemorolawang, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Upaya penanganan kebakaran tersebut telah berlangsung sejak Kamis (15/10), ketika api dan asap menyelimuti area yang menjadi lokasi pemadaman. Para petugas dan relawan berusaha mengendalikan kobaran sekaligus mencegah api meluas ke bagian kawasan lainnya.

Dalam proses pemadaman, kondisi di lapangan menjadi berbahaya karena Munawi dan rekan-rekannya berada di tengah kepungan asap serta api. Pada suatu titik, Munawi ditemukan dalam keadaan tak berdaya. Rekan-rekan di lokasi kemudian mengevakuasinya agar ia segera memperoleh pertolongan medis. Peristiwa tersebut menunjukkan risiko yang dihadapi para petugas dan relawan saat menjalankan penanganan karhutla, terutama ketika jarak pandang terganggu asap dan kobaran api berada di sekitar area kerja. Penanganan kebakaran tetap dilakukan, sementara Munawi dibawa keluar dari lokasi untuk mendapatkan perawatan.

Munawi selanjutnya dirujuk ke RSUD Dr. Soetomo untuk menjalani perawatan atas luka bakar yang dialaminya. Ia mendapat penanganan intensif setelah insiden saat pemadaman tersebut. Rudijanta menjelaskan bahwa Munawi meninggal dunia setelah menjalani perawatan intensif pascapemadaman. Dengan demikian, korban yang sebelumnya mengalami luka bakar itu akhirnya tidak tertolong meskipun telah memperoleh perawatan di rumah sakit. Keterangan tersebut menegaskan bahwa kondisi Munawi membutuhkan penanganan serius sejak ia ditemukan di lokasi kebakaran. Kejadian ini menambah jumlah korban jiwa dalam peristiwa karhutla di kawasan Bromo, sekaligus menjadi pengingat atas bahaya yang dihadapi petugas dan relawan yang bekerja langsung di area terdampak api.

Sebelum Munawi meninggal setelah menjalani perawatan, empat orang lebih dahulu kehilangan nyawa dalam kebakaran hutan dan lahan di kawasan Bromo. Mereka merupakan bagian dari tim gabungan yang berupaya memadamkan api di titik Pusung Lingker, Kabupaten Probolinggo, pada Kamis (15/10). Peristiwa tersebut menimbulkan duka bagi petugas yang menangani kebakaran maupun pekerja di sekitar lokasi. Keempat korban meninggal itu berasal dari dua kelompok, yakni personel Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) dan karyawan hotel yang berada di sekitar kawasan kejadian.

Dua korban yang bertugas di Balai Besar TNBTS adalah Sukaris, 55 tahun, dan Hendra Rony Wagiyanata. Sementara itu, Wisnu Yuda Pratama, 25 tahun, serta Sefriel Ardiansyah, 19 tahun, bekerja sebagai karyawan hotel di sekitar lokasi kebakaran. Informasi mengenai identitas dan pekerjaan korban memperlihatkan bahwa dampak insiden tidak hanya menimpa petugas yang terlibat dalam penanganan api. Karyawan di kawasan sekitar juga menjadi korban ketika kebakaran berlangsung di Pusung Lingker. Keempatnya meninggal sebelum Munawi, yang turut terluka dalam kejadian tersebut, akhirnya dinyatakan meninggal setelah dirawat.

Selain korban jiwa, kebakaran itu menyebabkan dua personel mengalami luka bakar. Munawi sempat mendapatkan perawatan, tetapi kondisinya tidak tertolong. Korban luka lainnya adalah Suraji, sekuriti hotel yang berada di sekitar lokasi. Suraji masih menjalani perawatan intensif di RSUD Dr. Soetomo akibat luka bakar yang dideritanya. Dengan meninggalnya Munawi, jumlah korban meninggal dalam rangkaian kejadian tersebut bertambah, sedangkan Suraji tetap berada dalam penanganan medis. Kondisi Suraji menunjukkan bahwa dampak kebakaran tidak berhenti pada empat korban yang lebih dahulu meninggal saat upaya pemadaman berlangsung. Peristiwa di titik Pusung Lingker itu melibatkan korban dari unsur petugas taman nasional dan pekerja hotel, dengan penanganan luka bakar menjadi bagian penting dari situasi pascakebakaran. Rangkaian korban tersebut menggambarkan beratnya risiko yang dihadapi orang-orang di sekitar lokasi ketika api meluas dan upaya pemadaman dilakukan.Rudijanta menyampaikan bahwa meninggalnya Munawi merupakan kehilangan besar, bukan hanya bagi keluarga yang ditinggalkan, tetapi juga bagi rekan-rekan yang mengenalnya dan pihak-pihak yang selama ini ikut menjaga kawasan Bromo. Kepergian Munawi setelah menjalani perawatan menjadi kabar duka bagi mereka yang terlibat dalam upaya penanganan dan perlindungan kawasan. Rudijanta menempatkan duka tersebut sebagai kehilangan bersama, sekaligus mengingatkan bahwa para petugas dan pihak terkait menjalankan tugas dengan risiko yang tidak ringan. Ia menyampaikan belasungkawa kepada keluarga Munawi serta berharap mereka diberi kekuatan dalam menghadapi masa sulit ini.

Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) juga menyampaikan penghormatan kepada Munawi dan para korban yang telah gugur sebelumnya. Penghormatan tersebut ditujukan kepada mereka yang telah berjuang dan ikut berperan dalam menjaga kawasan, termasuk ketika menghadapi situasi berbahaya. Pihak balai menyampaikan doa agar almarhum memperoleh tempat terbaik, sementara keluarga yang ditinggalkan diharapkan mendapat ketabahan dan dukungan. Pernyataan duka itu sekaligus menjadi pengakuan atas pengabdian para korban, serta dampak kehilangan yang dirasakan oleh orang-orang terdekat dan lingkungan kerja mereka.

Ucapan belasungkawa dan penghormatan disampaikan dengan harapan keluarga para korban tidak menghadapi masa berkabung tanpa perhatian. Dukungan moral dan bantuan bagi keluarga dipandang penting setelah kehilangan anggota keluarga yang meninggal dalam peristiwa tersebut. Pemerintah Provinsi Jawa Timur disebut menyiapkan santunan sebesar Rp10 juta bagi keluarga masing-masing korban meninggal. Bantuan itu ditujukan kepada keluarga yang ditinggalkan sebagai bentuk dukungan pemerintah di tengah situasi duka. Penyaluran santunan diharapkan dapat membantu meringankan kebutuhan keluarga, meskipun tidak dapat menggantikan kehilangan yang mereka alami. Dengan demikian, perhatian kepada keluarga mencakup doa, penghormatan atas para korban, serta bantuan yang telah disiapkan oleh pemerintah daerah.

Baca juga: Polsek Gunung Kijang Respons Cepat Informasi Karhutla di Bukit Piatu | Karhutla Dekat Permukiman, Babinsa Koramil Pandawan Bersama Relawan Bergerak Cepat | Lanud Sjamsudin Noor Kerahkan Tangki Portable dan Gambut Injection di Kawasan Ring I Bandara Sjamsudin Noor Atasi Titik Api Karhutla

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60