Jakarta | Pada 8–9 April 1926, Padang menghadapi salah satu banjir terbesar yang tercatat dalam sejarahnya. Hujan berintensitas tinggi turun sejak sekitar pukul 18.00 hingga pukul 06.00 keesokan harinya. Laporan yang terbit pada masa itu menggambarkan curah hujan yang berlangsung kurang lebih selama dua belas jam tanpa jeda berarti. Dalam rentang waktu tersebut, air terus mengalir dari kawasan yang lebih tinggi menuju dataran rendah dan wilayah perkotaan, membawa dampak serius bagi Padang serta sejumlah daerah di sekitarnya.
Malam itu, suasana berubah menjadi semakin menegangkan. Warga mendengar suara gemuruh dari arah pegunungan, disusul bunyi aliran air yang bergerak deras menuju permukiman. Bagi masyarakat yang tinggal di sekitar jalur sungai dan dataran rendah, suara tersebut menjadi tanda bahwa volume air telah meningkat secara luar biasa. Kegelapan malam menyulitkan warga untuk mengetahui seberapa cepat air mendekat, sementara hujan yang terus turun membatasi jarak pandang dan menghambat upaya penyelamatan.
Kanal banjir yang seharusnya membantu mengalirkan limpasan tidak mampu menampung besarnya kiriman air. Air kemudian meluap ke berbagai arah, menerjang bangunan, jalan, dan kawasan tempat tinggal. Arus yang kuat menyeret material dari hulu serta memasuki ruang-ruang yang sebelumnya dianggap aman. Banjir besar itu tidak hanya menggenangi kota, tetapi juga mengganggu hubungan antarkawasan dan memperluas wilayah terdampak di sekitar Padang.
Keadaan semakin mencekam setelah listrik padam. Tanpa penerangan, warga harus menghadapi banjir dalam kegelapan, mengandalkan suara, ingatan terhadap kondisi lingkungan, dan bantuan dari orang-orang di sekitarnya. Padang seolah terputus dari ritme kehidupan normalnya. Hujan, gemuruh air, serta ketidakpastian mengenai keselamatan keluarga menjadikan malam 8 hingga 9 April 1926 sebagai salah satu episode bencana yang membekas dalam ingatan kolektif masyarakat setempat.
Banjir besar yang melanda Padang pada 1926 segera mengubah wajah kota. Arus air yang deras merusak sejumlah jembatan, bahkan menghanyutkan bagian-bagian yang menjadi penghubung penting antarkawasan. Rumah penduduk, pertokoan, toko, dan gudang terendam, sehingga barang dagangan, persediaan, serta perabotan mengalami kerusakan. Bagi masyarakat yang menggantungkan penghasilan pada perdagangan dan jasa, genangan tersebut berarti terhentinya kegiatan sehari-hari sekaligus hilangnya sumber pendapatan dalam waktu singkat.
Dampaknya juga terasa pada jaringan transportasi. Jalur kereta api menuju dataran tinggi terputus, menyebabkan pergerakan orang dan distribusi barang tidak dapat berlangsung sebagaimana biasa. Jalan-jalan di dalam dan sekitar kota mengalami kerusakan akibat tekanan arus. Sebagian ruas bahkan terkikis sedemikian rupa hingga menyerupai dasar sungai, sehingga sulit dilalui kendaraan maupun pejalan kaki. Terputusnya berbagai jalur ini memperlambat penyampaian bantuan dan memperbesar kesulitan warga untuk menjangkau kawasan lain.
Ketika air mulai surut, persoalan belum berakhir. Lumpur menutupi lantai rumah, halaman, jalan, serta ruang-ruang usaha. Warga harus mengerahkan tenaga untuk mengangkat endapan, membersihkan bangunan, dan menyelamatkan barang yang masih dapat digunakan. Pekerjaan tersebut berlangsung bersamaan dengan kebutuhan untuk memperbaiki jembatan, jalan, jalur kereta api, dan fasilitas umum lainnya. Dengan demikian, banjir tidak hanya melumpuhkan lalu lintas dan aktivitas ekonomi, tetapi juga meninggalkan beban pemulihan yang besar. Masyarakat menghadapi kerugian langsung, sementara pemerintah kota dituntut mengoordinasikan pembersihan, membuka kembali akses, dan memulihkan layanan penting di tengah keterbatasan sumber daya.
Setelah air mulai surut, skala bencana di sekitar Padang perlahan terungkap. Banjir tidak hanya merusak permukiman dan lahan, tetapi juga memicu longsor di sejumlah tempat. Material tanah yang bergerak menimbun sebuah rumah dan menewaskan seorang perempuan bersama seorang anak. Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa ancaman bencana tidak berakhir ketika arus mulai melemah, karena lereng yang jenuh air masih dapat runtuh sewaktu-waktu.
Korban jiwa juga tercatat dalam kejadian lain ketika seorang perempuan dan anaknya terseret arus saat berusaha menyeberangi sebuah jembatan. Keduanya tidak berhasil diselamatkan dan meninggal akibat tenggelam. Jumlah korban keseluruhan pada masa itu belum diketahui secara pasti. Keterbatasan pencatatan dan sulitnya akses ke berbagai wilayah terdampak membuat banyak kematian tidak segera terdata. Laporan yang muncul setelah bencana menyebutkan bahwa pada pagi hari banyak mayat ditemukan di tanah, menjadi gambaran suram tentang luasnya dampak banjir dan derasnya arus yang melanda kawasan tersebut.
Kerugian ekonomi yang ditanggung penduduk diperkirakan mencapai setengah juta gulden. Nilai itu kerap disetarakan dengan sekitar dua hingga tiga ton emas, sehingga memperlihatkan besarnya kehilangan harta benda pada masa tersebut. Angka itu belum mencakup kerugian yang dialami pelaku usaha. Perusahaan ekspor Eropa dan perusahaan impor Tionghoa masing-masing diperkirakan mengalami kerugian sekitar 25.000 gulden. Barang dagangan, persediaan, bangunan, serta sarana pengangkutan kemungkinan menjadi bagian dari kerusakan yang harus ditanggung.
Pemerintah kota sendiri mencatat kerusakan jalan dan berbagai fasilitas umum dengan nilai sekitar 7.000 gulden. Namun, total kerugian pemerintah belum dapat diperkirakan karena kerusakan mencakup lebih banyak infrastruktur dan layanan publik. Dengan demikian, catatan yang tersedia baru menggambarkan sebagian dari dampak finansial bencana. Di balik angka-angka tersebut terdapat kehilangan tempat tinggal, sumber penghasilan, serta anggota keluarga, yang membuat pemulihan Padang berlangsung jauh lebih berat daripada sekadar memperbaiki bangunan yang rusak.
Tragedi banjir besar Padang pada 1926 dan banjir yang kembali melanda wilayah tersebut memperlihatkan bahwa ancaman hidrometeorologi memiliki jejak panjang dalam sejarah kota. Hujan berintensitas tinggi pada Sabtu, 10 Oktober 2026, dan Minggu, 11 Oktober 2026, kembali memicu bencana yang mengganggu kehidupan masyarakat. Peristiwa ini menghubungkan pengalaman masa lalu dengan keadaan yang dihadapi Padang pada masa kini, sekaligus menunjukkan bahwa bahaya banjir belum sepenuhnya terlepas dari kehidupan wilayah tersebut.
Setelah kabar bencana 1926 menyebar, bantuan datang dari berbagai daerah di Hindia Belanda. Dukungan itu menunjukkan adanya kepedulian dan solidaritas lintas wilayah terhadap masyarakat yang terdampak. Selain bantuan dari daerah-daerah lain, dana juga diberikan oleh tokoh-tokoh nasional untuk mendukung proses pemulihan. Catatan mengenai respons tersebut penting karena memperlihatkan bahwa pemulihan setelah bencana tidak hanya bergantung pada masyarakat yang mengalami dampak secara langsung, tetapi juga memerlukan dukungan yang lebih luas.
Sejarah itu sekaligus menjadi pengingat bahwa Padang masih memiliki potensi bahaya banjir dan longsor. Hujan berintensitas tinggi dapat kembali menghadirkan tekanan bagi kawasan yang rentan, sehingga pengalaman 1926 dan peristiwa pada Oktober 2026 perlu dibaca sebagai bagian dari catatan kebencanaan yang saling berhubungan. Catatan masa lalu bukan sekadar dokumentasi tragedi, melainkan alarm mengenai pentingnya mitigasi. Mengingatnya secara hati-hati membantu menempatkan kesiapsiagaan, perhatian terhadap risiko, dan upaya pengurangan dampak sebagai kebutuhan yang tetap relevan bagi Padang.
Baca juga: Tragedi Gempa NTT: Kerugian Besar dan Upaya Pemulihan | Tragedi Pohon Tumbang di Jalan Raya: Satu Tewas dan Satu Terluka | Kembali Bertanding di SUGBK, Pramono Anung Serukan Sportivitas kepada Jakmania















