BANJARMASIN, KALIMANTAN SELATAN — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 5 Oktober 2026, Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Kalimantan Selatan mencatat Jawa Timur sebagai daerah asal korban meninggal kapal Virgo Transport 8 yang paling banyak teridentifikasi. Dari 63 jenazah yang telah berhasil dikenali, sebanyak 28 korban diketahui berasal dari provinsi tersebut. Data ini menempatkan Jawa Timur sebagai wilayah dengan jumlah korban teridentifikasi tertinggi dalam proses pendataan yang dilakukan tim DVI.
Keterangan mengenai jumlah tersebut disampaikan Kabid Dokkes Polda Kalimantan Selatan, Kombes Pol dr Much Sofwan, di Banjarmasin pada Minggu. Ia menyebutkan, identifikasi terhadap para korban dilakukan berdasarkan sejumlah data pembanding, termasuk informasi dari keluarga dan pemeriksaan yang menjadi bagian dari prosedur identifikasi jenazah.
Angka 28 korban asal Jawa Timur menjadi bagian penting dalam perkembangan penanganan kecelakaan Virgo Transport 8. Selain menunjukkan sebaran daerah asal korban, data itu juga membantu keluarga memperoleh kepastian mengenai anggota keluarga mereka yang sebelumnya dinyatakan hilang atau belum diketahui kondisinya.
Proses identifikasi masih menjadi perhatian utama setelah kapal Virgo Transport 8 mengalami musibah. Tim DVI Polda Kalimantan Selatan terus mencocokkan data ante mortem dan post mortem untuk memastikan setiap jenazah dapat dikenali secara akurat sebelum diserahkan kepada keluarga. Dari total jenazah yang telah berhasil diidentifikasi, catatan asal daerah tersebut memberikan gambaran awal mengenai dampak musibah terhadap masyarakat dari berbagai wilayah, dengan Jawa Timur mencatat jumlah korban terbanyak.
Berdasarkan data Tim DVI, korban Virgo Transport 8 yang telah teridentifikasi berasal dari sejumlah provinsi. Rincian tersebut memperlihatkan sebaran korban di luar daerah dengan jumlah paling banyak. Data disajikan secara berurutan berdasarkan jumlah korban yang telah teridentifikasi, sehingga Jawa Tengah berada pada posisi berikutnya, disusul Kalimantan Selatan dan Jawa Barat.
Jawa Tengah menjadi daerah dengan jumlah korban teridentifikasi terbanyak kedua. Tim DVI mencatat sebanyak 16 orang korban berasal dari provinsi tersebut. Angka 16 orang menempatkan Jawa Tengah sebagai daerah dengan jumlah korban teridentifikasi paling tinggi setelah daerah yang mencatat jumlah terbanyak. Dengan demikian, berdasarkan urutan data, Jawa Tengah menjadi rincian pertama setelah jumlah terbesar tersebut.
Setelah Jawa Tengah, Kalimantan Selatan mencatat delapan orang korban yang telah teridentifikasi. Jumlah tersebut berada di bawah catatan Jawa Tengah. Dalam urutan sebaran korban berdasarkan data Tim DVI, Kalimantan Selatan menempati posisi berikutnya dengan total delapan orang. Penyebutan jumlah ini mengikuti data identifikasi yang telah tersedia.
Jawa Barat berada setelah Kalimantan Selatan dalam rincian tersebut. Tim DVI mencatat enam orang korban yang telah teridentifikasi berasal dari Jawa Barat. Jumlah enam orang menjadikan provinsi ini berada pada urutan berikutnya setelah Jawa Tengah dengan 16 orang dan Kalimantan Selatan dengan delapan orang.
Dengan demikian, urutan daerah asal korban yang tercatat dalam data Tim DVI adalah Jawa Tengah dengan 16 orang, Kalimantan Selatan dengan delapan orang, kemudian Jawa Barat dengan enam orang. Ketiga angka tersebut menggambarkan rincian korban yang telah teridentifikasi dari sejumlah provinsi sebagaimana tercantum dalam data. Tidak ada perubahan pada urutan jumlah: angka 16 orang berada di atas delapan orang, sedangkan enam orang menjadi jumlah setelahnya. Rincian ini disampaikan berdasarkan daerah asal dan jumlah korban yang telah teridentifikasi.
Proses identifikasi korban Virgo Transport 8 di Rumah Sakit Bhayangkara Banjarmasin masih berlangsung. Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Kalimantan Selatan telah berhasil mengidentifikasi 63 dari total 80 jenazah yang diterima oleh rumah sakit tersebut. Dengan demikian, masih terdapat 17 jenazah yang belum memperoleh kepastian identitas dan masih menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa proses identifikasi belum sepenuhnya selesai. Setiap jenazah perlu diperiksa secara cermat melalui pencocokan berbagai data, termasuk informasi antemortem dari keluarga, pemeriksaan postmortem, serta sampel biologis yang diperlukan untuk analisis DNA. Tahapan tersebut dilakukan secara bertahap agar identitas korban dapat dipastikan secara akurat dan disampaikan kepada keluarga berdasarkan hasil pemeriksaan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Dalam prosesnya, sampel DNA dari jenazah maupun keluarga korban masih dikirim ke Pusat Kedokteran dan Kesehatan (Pusdokkes) Polri di Jakarta. Pengiriman sampel ini menjadi bagian penting dari pemeriksaan, terutama untuk membantu pencocokan identitas ketika data lain belum memberikan hasil yang meyakinkan. Hasil analisis dari Pusdokkes akan menjadi salah satu dasar bagi tim DVI dalam menetapkan identitas korban yang masih belum terungkap.
Sofwan meminta keluarga korban untuk bersabar menunggu hasil proses identifikasi yang masih berjalan. Ia menyampaikan bahwa seluruh tahapan membutuhkan ketelitian dan waktu, sehingga kepastian identitas tidak dapat diberikan sebelum pemeriksaan selesai. Keluarga diharapkan terus mengikuti informasi resmi dari pihak rumah sakit, tim DVI, dan kepolisian agar memperoleh pembaruan yang akurat mengenai perkembangan identifikasi 17 jenazah tersebut.
Proses identifikasi korban Virgo Transport 8 dimulai pada Senin (14/9). Jenazah korban yang ditemukan kemudian dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Banjarmasin untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Di rumah sakit tersebut, Tim Disaster Victim Identification (DVI) melakukan rangkaian pemeriksaan dan pengenalan terhadap setiap jenazah yang diterima. Tahapan ini dilakukan secara terukur untuk memperoleh data yang dapat digunakan dalam memastikan identitas korban.
Jenazah pertama yang berhasil dikenali dalam proses tersebut adalah Reyner Fausta Yosilianto. Pria berusia 22 tahun itu tercatat sebagai warga Malang, Jawa Timur. Pengenalan terhadap Reyner dilakukan melalui catatan sidik jari. Data tersebut menjadi dasar bagi tim untuk mencocokkan informasi jenazah dengan data yang tersedia, sehingga identitasnya dapat dipastikan berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan oleh petugas.
Dalam menjalankan tugasnya, Tim DVI memeriksa data post mortem yang diperoleh dari jenazah. Data ini kemudian dibandingkan dengan informasi ante mortem yang disampaikan atau dimiliki oleh keluarga. Data ante mortem dapat mencakup keterangan mengenai ciri-ciri korban dan informasi lain yang relevan, sedangkan data post mortem berasal dari hasil pemeriksaan terhadap jenazah. Pencocokan kedua jenis data tersebut menjadi bagian penting dalam proses pengenalan.
Sofwan menyampaikan bahwa tim tetap bekerja tanpa libur, termasuk pada Sabtu dan Minggu. Kegiatan terutama dilakukan ketika jenazah diterima di Rumah Sakit Bhayangkara Banjarmasin. Setiap jenazah yang masuk diproses melalui pemeriksaan dan pencatatan sesuai kebutuhan identifikasi. Melalui mekanisme pencocokan data ante mortem dari keluarga dan data post mortem jenazah, tim berupaya memastikan identitas korban yang belum dikenali.
















