Aceh – Dengan adanya telah terjadi pemberitaan miring dengan sorotan publik, di beberapa media masa secara online. Berjudul, Dugaan Pengadaan Buku Rp 15 Juta Per Desa Mencuat, 66 Desa di Langsa Disorot. Terbitan pada tanggal, 2 September 2026 lalu. Sepandai-pandainya, bangkai itu ditutup-tutupi. Dengan memiliki akal bulus, yang sangat rakus dan tamak. Pada akhirnya, perbuatan buruk tersebut pun terbongkar juga. Diduga proyek pengurasan dana desa, di 66 desa 5 kecamatan se-kota langsa-aceh. Kembali merebak, dikalangan sumber khusus masyarakat kota langsa. Dengan sistem dan modal dusta (modus) nya yang mereka perbuat, dengan cara kegiatan pokok kerja (pokja) pengadaan buku. Yang menelan biaya di setiap desa, sekitar Rp 15 juta rupiah dalam per/desa se-kota langsa tersebut.
Anehnya lagi, dugaan modus kegiatan pokja pengadaan buku. Di 66 desa, di 5 kecamatan itu se-kota langsa. Melibatkan, pihak perpanjang tangan. Dari masing-masing kecamatan, di 5 kecamatan itu. Selain itu juga, dari perpanjang tangan. Orang di belakangnya, adalah dari pihak aparat penegak hukum (aph). Yaitu, dengan sistem cara, dengan menggunakan satu pintu adalah dari pihak aph daerah kota langsa. Sesuai pula, wartawan media ini pula. Sempat juga, menerima himpunan informasi. Dari salah satu sumber khusus kalangan masyarakat, di salah satu tempat di warung cafe seputaran gampong jawa belakang kecamatan langsa kota kota langsa-aceh.
Untuk menindak lanjuti, dalam hal pemberitaan miring itu terjadi. Pihak pemerhati sosial di salah satu gampong, “popon engkol”. Kini kembali bersuara, kepada wartawan media ini. Terkait Pengurasan dana desa, dugaan dengan modal dusta (modus) yang mereka kerjakan itu. Kegiatan pokok kerja (pokja) pengadaan buku, yang senilai mencapai sekitar Rp 15 juta rupiah dalam per/desanya. Dengan jumlah 66 desa, di 5 kecamatan se-kota langsa-aceh. Diduga menuai adanya ajang bisnis, untuk memperkaya kepentingan ajang pribadi para bandit berdasi itu.
Apa yang telah di sampaikan oleh pihak pemerhati sosial gampong di kota langsa, ketika wartawan media ini, patut kita dengar komentarnya kembali bersuara “popon engkol” tersebut. “Saya sangat prihatin, dengan keadaan desa se-kota langsa hari ini. Yang sepertinya, masih di kendalikan dari pihak pemerintahan kota langsa. Dan diduga adanya memiliki kepentingan bisnis, untuk memperkaya kantong para pejabat di kecamatan itu masing-masing. Apakah desa se-kota langsa tersebut, tidak boleh menjalankan pemerintahan nya sendiri. Dalam pengelolaan dana desa itu, di setiap desa masing-masing se-kota langsa-aceh.
Yang sangat kita sayangkan, baru saja pemilihan geuchik di 47 desa di kota langsa ini. Yang artinya, desa tidak terkontaminasi dengan kegiatan yang gak penting. Bukannya mereka membenahi desa mereka dengan keuangan, yang mungkin kini telah terjadi sudah di visit. Tapi tetap juga, ada kegiatan yang menggunakan dana desa yang tak ada manfaat nya sama sekali. Ini menurut saya, bimtek juga. Tapi namanya di ganti dengan sebutan baru, miris dengan desa. Seakan-akan perawan desa, kini telah di gagahi oleh pemuda kota. Begitu lah filosofi nya”, pungkas “popon”. Menutup keterangan nya, kepada wartawan media ini. Kamis 3/9/2026, sekitar pukul.16.49.wib.
Yang lebih serunya lagi, ketika kembali wartawan media online ini juga. Sempat pernah melakukan jafrian konfirmasi, dengan salah satu seorang pejabat. Yaitu, camat di kecamatan langsa barat kota Langsa. Yang disebut-sebut sapaan panggilan “andrea”, melalui aplikasi via pesan WhatsApp selularnya itu. Di nomor selularnya, +62 853-71xx-xx84. Wartawan media ini juga, menyampaikan kepadanya “andrea” tersebut. Ass pak camat, ijin pak camat. Konfirmasi pak camat, terkait beberapa media online yang telah terbit tersebut pak camat, apa benar itu pak camat. Dengan adanya kejadian kronologis dalam hal tersebut pak camat, Ijin pak camat, jawaban dan komentar nya. Sebutnya, oleh wartawan media ini. Yang telah di sampaikan, dan juga telah terkirim. Kamis 3/9/2026, sekitar pukul.11.18.wib.
Namun, apa yang telah sampaikan oleh wartawan media online ini. Dirinya camat “andrea” itu, selaku camat di kecamatan langsa barat kota langsa tersebut. Hanya dapat dia lakukan, diam membisu. Diduga takut melakukan jawaban serta komentar kepada wartawan media ini.
(Jihandak Belang/Sumber : Popon Engkol)
















