Jakarta, Patrolihukum.net — Kisah hidup seorang perempuan tangguh bernama Safitri tengah menjadi sorotan publik setelah diungkap dalam sebuah podcast bersama Denny Sumargo (Densu). Ceritanya menggugah banyak hati karena menggambarkan arti sejati dari ketulusan, keikhlasan, dan amanah di tengah badai kehidupan rumah tangga.
Kak Safitri, demikian ia akrab disapa, adalah sosok perempuan sederhana yang dikenal baik oleh para tetangganya. Di balik senyum lembutnya, tersimpan kisah getir tentang perjuangan seorang ibu yang ditinggalkan suami tanpa kabar selama berbulan-bulan. Berdasarkan kesaksian seorang tetangga yang dikenal sebagai “ibu kerudung ijo”, Safitri pernah hidup dalam kondisi serba kekurangan, namun tetap berpegang pada prinsip kejujuran dan tanggung jawab.
Ditinggal Suami, Tetap Pilih Lunasi Utang
Sekitar tiga bulan lamanya, Safitri hidup berjuang sendirian bersama anak-anaknya. Suaminya pergi ke rumah orang tuanya dan tidak kembali. Meski menghadapi kesulitan ekonomi, Safitri memilih tidak kabur dari tanggung jawab. Ia tetap bertahan di rumah sambil berjualan untuk melunasi utang-utang kecilnya terlebih dahulu sebelum memutuskan pulang ke rumah orang tuanya.
“Dia orangnya amanah. Gak mau ninggalin utang. Katanya, kalau mau pulang, utang harus lunas dulu,” ungkap tetangganya.
Kejujuran dan rasa tanggung jawab inilah yang membuat banyak orang kagum. Dalam keterpurukan, Safitri tetap menunaikan kewajibannya — sesuatu yang jarang ditemui di tengah tekanan ekonomi dan emosional seperti yang dialaminya.
Bertahan Hidup dari Jualan Sayur
Selama lima tahun menikah, justru Safitri yang bekerja keras membiayai rumah tangga. Ia menjajakan sayur dan cabai dengan jarak tempuh yang tidak dekat. “Perjalanan dua jam pulang-pergi setiap malam. Berangkat malam, pulang subuh,” kata salah satu tetangga.
Dari hasil jerih payahnya, Safitri masih sempat menyisihkan Rp10.000 hingga Rp5.000 setiap hari untuk membeli seragam suaminya. Namun takdir berkata lain. Dua hari sebelum suaminya diangkat sebagai pegawai P3K, Safitri justru diceraikan.
Harapan yang Pupus dan Ikhlas yang Menyelamatkan
Sempat melapor ke tempat kerja sang suami, Safitri menanyakan apakah status suaminya bisa dibatalkan setelah perceraian tersebut. Namun pihak kantor menjelaskan bahwa urusan rumah tangga tidak bisa dijadikan alasan administratif, kecuali jika ada pelanggaran hukum berat.
Dengan hati lapang, Safitri memilih mengikhlaskan segalanya. Meski kecewa, ia tidak pernah menjelek-jelekkan mantan suaminya di depan publik. Bahkan ketika diingatkan kembali pada perlakuan tidak adil suaminya — mulai dari marah karena tak ada makanan hingga cuek terhadap kebutuhan istri yang sedang hamil — Safitri tetap menanggapi dengan sabar.
Diuji dalam Kemiskinan, Diuplift oleh Kebaikan
Dalam masa-masa sulitnya, Safitri dibantu oleh para tetangga yang peduli. Sering kali ia datang mengetuk rumah “ibu kerudung ijo” hanya untuk bertanya, “Ada nasi, Bu?” — dan selalu disambut dengan kehangatan. “Ayo makan,” jawab sang ibu, tanpa pamrih.
Kisah ini bukan sekadar potret kemiskinan, melainkan keteguhan moral dan spiritual. Safitri tak menuntut, tak mengeluh, hanya berusaha dan berdoa. Kini, setelah perceraian, hidupnya perlahan membaik. Rezekinya mengalir deras dari berbagai usaha yang ia jalani, seolah menjadi balasan dari keteguhan hati dan amanah yang dijaganya dulu.
“Allah menolong orang yang jujur,” ujar seorang netizen di kolom komentar podcast tersebut, yang kini viral di media sosial.
Kisah Kak Safitri menjadi pengingat bahwa di balik penderitaan, selalu ada pintu pertolongan — terutama bagi mereka yang tidak lari dari tanggung jawab dan tetap menjaga kebaikan hati.
(Edi D/Red/Tim Patrolihukum.net)















