Palembang | Kabut asap tebal akibat kebakaran hutan dan lahan kembali menyelimuti Palembang, Sumatera Selatan, pada Rabu pagi, 21 Oktober 2026. Sejak sekitar pukul 06.00 WIB, langit di sejumlah kawasan tampak keabu-abuan dan suasana pagi terlihat berbeda dari biasanya. Lapisan asap yang menggantung membuat pandangan ke arah sekitar tidak sejernih kondisi normal, sementara bau asap menyengat dilaporkan terasa hingga permukiman warga. Kehadiran asap sejak awal hari menjadi perhatian masyarakat yang mulai beraktivitas di luar rumah.
Jarak pandang yang terbatas membuat kondisi jalan perlu dicermati oleh para pengguna kendaraan. Dalam suasana berkabut asap, objek di kejauhan dapat terlihat kurang jelas, terutama ketika warga melintasi ruas jalan pada pagi hari. Pengendara diimbau menjaga kewaspadaan, menyesuaikan kecepatan, serta memberi ruang aman dengan kendaraan lain. Kondisi tersebut penting diperhatikan bukan hanya oleh pengemudi mobil dan sepeda motor, tetapi juga pejalan kaki yang beraktivitas di sekitar jalan. Asap yang tercium kuat di kawasan permukiman turut menandai bahwa dampaknya dirasakan di luar titik-titik lalu lintas.
Peristiwa ini kembali menempatkan kabut asap sebagai gangguan yang dirasakan warga Palembang pada pagi hari. Langit kelabu, pandangan yang tidak leluasa, dan aroma asap yang masuk hingga lingkungan tempat tinggal menjadi gambaran kondisi yang dilaporkan pada 21 Oktober. Warga yang hendak bepergian dapat mempertimbangkan keadaan sekitar sebelum memulai perjalanan, khususnya bila harus melintasi jalan dengan jarak pandang terbatas. Informasi mengenai kondisi setempat juga dapat membantu masyarakat menyesuaikan kegiatan dengan situasi yang sedang berlangsung. Belum ada rincian mengenai tingkat kualitas udara maupun sumber kebakaran dalam informasi yang tersedia, sehingga kondisi yang dapat dipastikan dalam laporan ini adalah kabut asap tebal yang menyelimuti kota sejak pagi, beserta gangguan pandangan dan bau menyengat yang dirasakan warga.
Ridwan, petugas keamanan di UIN Raden Fatah Palembang, merasakan langsung dampak asap saat menjalankan tugas di luar ruangan. Ia bertugas sejak pagi, ketika kabut asap masih terlihat sangat tebal. Kondisi tersebut membuat kegiatan sehari-hari di lingkungan kampus terasa terganggu, terutama bagi orang yang harus berada di luar ruangan dalam waktu lama. Sebagai petugas yang menjalani tugas sejak awal hari, Ridwan harus tetap berjaga di tengah udara yang dipenuhi asap.
Menurut keterangannya, gangguan yang dirasakan tidak hanya berkaitan dengan jarak pandang atau kenyamanan beraktivitas. Asap juga menimbulkan keluhan pada tubuh. Ridwan menyebut matanya terasa perih saat terpapar, sementara napas terasa sesak apabila ia tidak memakai masker. Keluhan tersebut menggambarkan bagaimana kondisi udara dapat menyulitkan pekerja yang harus tetap menjalankan tugasnya di luar, meskipun asap mengganggu aktivitas.
Ridwan menyampaikan bahwa penggunaan masker menjadi penting baginya ketika berada di tengah asap. Tanpa perlindungan itu, ia merasakan sesak napas. Namun, masker tidak menghilangkan seluruh dampak paparan yang ia alami, termasuk rasa perih pada mata. Ia juga menggambarkan asap sebagai sesuatu yang masih sangat tebal, sehingga gangguan tetap terasa selama bertugas. Keterangan ini terbatas pada keluhan yang ia sampaikan; tidak ada kondisi medis lain yang disebutkan.
Pengalaman Ridwan menunjukkan bahwa kabut asap bukan sekadar persoalan lingkungan yang terlihat dari kejauhan. Bagi petugas luar ruangan, paparan dapat hadir sepanjang jam kerja dan menghambat kegiatan sekaligus menimbulkan rasa tidak nyaman. Keluhan mata perih dan sesak saat tidak menggunakan masker menjadi gambaran konkret dari dampak yang ia rasakan. Karena itu, kondisi asap yang masih tebal menjadi perhatian bagi warga dan pekerja yang beraktivitas di luar, termasuk mereka yang tetap harus menjalankan tanggung jawabnya sejak pagi di kawasan Palembang.
Bagi Erwin, warga Palembang, asap karhutla bukan hanya membuat suasana kota terasa tidak nyaman, tetapi juga mengganggu kegiatan sehari-hari. Dampaknya paling ia rasakan ketika harus berkendara. Asap yang menyelimuti jalan membuatnya lebih sulit memantau kondisi di sekeliling, sehingga perjalanan yang biasanya dapat dilakukan dengan biasa kini perlu dijalani dengan lebih . Pengalaman itu menambah kekhawatiran, terutama saat ia melintas di ruas jalan yang ramai.
Menurut Erwin, jarak pandang yang terbatas menjadi persoalan utama bagi pengendara. Kendaraan di depan tidak selalu terlihat dengan jelas, terlebih ketika asap menutupi pandangan sepanjang jalan. Ia perlu menjaga perhatian dan memperkirakan pergerakan kendaraan lain dengan lebih hati-hati. Situasi seperti ini dapat membuat pengendara merasa waswas, sebab perubahan kondisi lalu lintas mungkin sulit diketahui sejak jauh. Bagi Erwin, ketidakpastian itu membuat berkendara terasa lebih berisiko.
Kekhawatiran tersebut semakin terasa ketika melintasi jalan besar. Kendaraan yang melaju di ruas seperti itu dapat berada cukup jauh di depan, tetapi asap membuat keberadaannya lebih sukar dikenali. Erwin khawatir pengendara tidak sempat melihat kendaraan di hadapan mereka dengan cukup jelas untuk menyesuaikan laju atau menjaga jarak. Ia menyoroti potensi bahaya tersebut sebagai alasan agar pengguna jalan tidak mengabaikan kondisi udara dan jarak pandang. Kekhawatiran ini bukan berarti kecelakaan telah terjadi, melainkan mencerminkan risiko yang ia rasakan saat berkendara.
Pengalaman Erwin menunjukkan bahwa asap karhutla dapat memengaruhi rasa aman warga, khususnya ketika mereka berada di jalan. Keterbatasan pandangan menuntut konsentrasi lebih besar dan membuat perjalanan terasa menegangkan. Ia berharap pengendara memahami bahwa jarak pandang yang terganggu perlu disikapi dengan kehati-hatian, terutama di jalan besar. Bagi warga yang tetap harus bepergian, kondisi asap menjadi pertimbangan penting karena kemampuan melihat kendaraan lain merupakan bagian mendasar dari keselamatan berkendara.
Maya, seorang pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK), mengatakan anaknya kini mengikuti pembelajaran jarak jauh setelah pihak sekolah menyampaikan imbauan. Keputusan tersebut diambil di tengah kondisi asap yang mengganggu aktivitas warga Palembang. Bagi keluarga, belajar dari rumah menjadi langkah untuk menyesuaikan diri dengan situasi, tetapi perubahan itu juga menambah kerepotan orang tua.
Maya harus mengatur kegiatan anak selama belajar jarak jauh di sela tanggung jawab pekerjaannya. Situasi ini menunjukkan bahwa dampak karhutla tidak hanya terasa di jalan atau melalui gangguan pernapasan, tetapi juga menjalar ke rutinitas keluarga dan kegiatan pendidikan. Orang tua perlu memastikan anak tetap mengikuti pembelajaran, sementara aktivitas sehari-hari mereka turut berubah karena asap.
Sejumlah warga menilai penanganan pemerintah kota maupun provinsi belum tuntas. Meski pemadaman kebakaran diperlukan, mereka khawatir upaya yang hanya berfokus pada api tidak cukup untuk mengatasi persoalan yang berulang. Selama karhutla masih terjadi, asap kiriman berisiko terus mencapai Palembang dan mengganggu warga, bahkan ketika sumber kebakaran berada di luar wilayah kota.
Karena itu, warga berharap pemerintah tidak hanya bergerak memadamkan kebakaran, tetapi juga memperkuat langkah pencegahan agar lahan tidak kembali terbakar. Mereka meminta penegakan hukum terhadap pihak yang membakar lahan dilakukan secara tegas, sehingga tindakan tersebut tidak dibiarkan berulang tanpa konsekuensi. Upaya pencegahan dan penindakan, menurut harapan warga, perlu berjalan seiring dengan respons darurat.
Warga juga menginginkan informasi kualitas udara disampaikan secara terbuka setiap hari. Informasi yang rutin dan mudah dipahami dapat membantu keluarga mempertimbangkan kegiatan, termasuk keputusan terkait aktivitas anak. Mereka berharap pemerintah menyampaikan perkembangan kondisi udara dengan jelas, bukan membuat warga bergantung pada kabar yang tidak pasti. Selama penanganan belum tuntas dan karhutla terus dibiarkan, warga khawatir Palembang akan kembali terdampak asap kiriman.
Baca juga: Upaya Maksimal BPBD Jatim dalam Penanganan Karhutla di Gunung Buthak dan Kawinajang | Polsek Gunung Kijang Respons Cepat Informasi Karhutla di Bukit Piatu | Karhutla Dekat Permukiman, Babinsa Koramil Pandawan Bersama Relawan Bergerak Cepat















