Rekor Gas Rumah Kaca Menambah Tekanan pada Iklim Global

Rekor Gas Rumah Kaca Menambah Tekanan pada Iklim Global
banner 468x60

Jakarta | Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), badan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang memantau atmosfer dan iklim, melaporkan bahwa peningkatan gas rumah kaca pada 2025 belum pernah terjadi sebelumnya. Temuan ini menandai kelanjutan tren kenaikan yang telah berlangsung selama beberapa dekade dan memperlihatkan tekanan yang terus bertambah pada sistem iklim global. Konsentrasi gas-gas tersebut di atmosfer mencapai tingkat tertinggi dalam catatan pengamatan modern.

Rata-rata konsentrasi karbon dioksida (CO₂) di permukaan mencapai 426,8 bagian per juta (ppm). Angka itu setara dengan 153 persen dari tingkat pra-industri sebelum 1750. Karbon dioksida terutama berasal dari pembakaran batu bara, minyak, dan gas, serta perubahan penggunaan lahan. Gas ini bertahan lama di atmosfer, sehingga emisi yang dilepaskan sekarang dapat memengaruhi suhu dan iklim selama bertahun-tahun.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Metana tercatat pada 1.948 bagian per miliar, atau 267 persen dari tingkat sebelum 1750. Meski masa tinggalnya di atmosfer lebih pendek daripada karbon dioksida, metana merupakan gas pemanas yang kuat. Sementara itu, konsentrasi dinitrogen oksida mencapai 339,1 bagian per miliar, setara dengan 126 persen tingkat pra-industri. Sumber utamanya mencakup kegiatan pertanian, proses industri, dan pembakaran bahan bakar.

Ketiga angka tersebut menunjukkan bahwa akumulasi gas pemanas tidak terbatas pada satu jenis emisi. Karbon dioksida, metana, dan dinitrogen oksida memiliki sumber serta karakteristik berbeda, tetapi semuanya menahan panas di atmosfer. Perbandingan dengan tingkat sebelum 1750 memberi gambaran tentang besarnya perubahan sejak awal industrialisasi. Ketika konsentrasi terus naik, energi tambahan terperangkap dalam sistem bumi dan risiko dampak iklim ikut meningkat.

Wakil Sekretaris Jenderal WMO Ko Barrett merangkum catatan berulang itu dengan pernyataan, “Satu tahun lagi, satu rekor baru.” Ungkapan tersebut menegaskan bahwa rekor bukan lagi kejadian yang terpisah, melainkan pola yang berulang. Data pemantauan ini penting bagi pemerintah dan masyarakat untuk memahami laju perubahan atmosfer serta urgensi mengurangi emisi. Tanpa penurunan emisi yang cepat dan berkelanjutan, konsentrasi gas rumah kaca dapat terus bertambah dan memperberat tantangan dalam membatasi pemanasan global.

Ko Barrett menilai bahwa gas rumah kaca kini memerangkap panas dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya di atmosfer. Penumpukan gas-gas tersebut, termasuk karbon dioksida (CO₂), menghambat pelepasan sebagian panas dari bumi ke ruang angkasa. Akibatnya, lebih banyak energi tersimpan dalam sistem iklim dan memengaruhi kondisi atmosfer, lautan, serta permukaan daratan. Perubahan ini bukan sekadar angka dalam catatan ilmiah: panas tambahan menyediakan energi yang dapat memperkuat berbagai peristiwa cuaca ekstrem.

Energi berlebih di atmosfer dan lautan dapat memperbesar risiko gelombang panas, hujan lebat, kekeringan, dan dampak iklim lain, meskipun bentuk serta tingkat keparahannya berbeda menurut wilayah. Peristiwa ekstrem dapat merusak infrastruktur, mengganggu pertanian dan pasokan air, serta menekan layanan kesehatan dan kegiatan ekonomi. Dengan demikian, tren pemanasan berpotensi meningkatkan beban bagi masyarakat, terutama kelompok yang paling rentan dan wilayah yang memiliki sumber daya terbatas untuk menghadapi bencana. Barrett memperingatkan bahwa konsekuensi tersebut mencakup risiko bagi perekonomian maupun kehidupan sehari-hari.

Barrett juga menyatakan bahwa tren kenaikan suhu yang berlangsung selama 11 tahun terakhir kemungkinan besar akan berlanjut. Perkembangan suhu dari tahun ke tahun dapat berfluktuasi karena pengaruh alami, tetapi variasi jangka pendek itu tidak menghapus arah pemanasan yang lebih luas. Selama emisi gas rumah kaca terus menambah konsentrasi di atmosfer, panas akan terus tertahan dan tekanan terhadap sistem iklim tetap tinggi. Karena itu, dampak perubahan iklim tidak selalu dapat dihentikan segera setelah emisi dikurangi.

Salah satu alasannya adalah masa hidup CO₂ yang sangat panjang. Setelah dilepaskan, sebagian karbon dioksida tetap berada di atmosfer dan terus memengaruhi keseimbangan panas bumi untuk waktu yang lama. Barrett menekankan bahwa konsekuensi iklim dari gas ini dapat bertahan bukan hanya bertahun-tahun, melainkan selama beberapa dekade hingga berabad-abad. Artinya, keputusan emisi saat ini turut membentuk kondisi yang akan dihadapi generasi mendatang. Pengurangan emisi dapat membatasi pemanasan lebih lanjut, tetapi tidak serta-merta menghilangkan dampak yang telah terakumulasi. Memahami lamanya pengaruh tersebut penting untuk merencanakan langkah adaptasi dan perlindungan masyarakat secara berkelanjutan.

Rata-rata konsentrasi karbon dioksida (CO₂) global meningkat 2,8 bagian per juta (ppm) dari 2024 ke 2025. Angka ini lebih rendah daripada kenaikan 3,6 ppm yang tercatat pada tahun sebelumnya, sehingga laju pertumbuhan tahunan tampak melambat. Namun, perbandingan tersebut tidak berarti jumlah CO₂ di atmosfer menurun atau tekanan terhadap iklim mereda. Konsentrasi gas rumah kaca tetap bertambah dan mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. Perbedaan besaran kenaikan antartahun juga dipengaruhi oleh perubahan kondisi alam yang mengatur penyerapan dan pelepasan karbon, selain emisi manusia. Karena itu, penurunan angka tahunan perlu dipahami sebagai perubahan pada laju penambahan, bukan pembalikan tren jangka panjang.

Oksana Tarasova, pejabat ilmiah senior Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), menjelaskan bahwa perubahan dari kenaikan 3,6 ppm menjadi 2,8 ppm mencerminkan pemulihan penyerapan karbon di daratan. Ekosistem darat dapat menyerap sebagian karbon dari atmosfer, tetapi kemampuannya berubah mengikuti keadaan iklim dan vegetasi. Pada 2025, emisi karbon dari kebakaran hutan berkurang dibandingkan periode yang dipengaruhi El Niño kuat pada 2023–2024. El Niño dapat memperburuk kondisi panas dan kering di sejumlah wilayah, sehingga meningkatkan risiko kebakaran dan pelepasan karbon. Ketika tekanan tersebut berkurang, kebakaran yang lebih sedikit dapat menekan sumber emisi sementara, sementara penyerapan karbon darat kembali berperan lebih besar dalam neraca tahunan.

Meski demikian, Tarasova menegaskan bahwa kenaikan CO₂ pada 2024–2025 tetap didominasi pembakaran bahan bakar fosil. Batu bara, minyak, dan gas yang digunakan untuk energi, transportasi, serta kegiatan industri terus melepaskan karbon yang sebelumnya tersimpan di bawah tanah. Variasi kebakaran hutan dan penyerapan alami dapat mengubah angka dari satu tahun ke tahun berikutnya, tetapi tidak menghapus sumber emisi utama yang berasal dari aktivitas manusia. Tarasova juga mengingatkan bahwa tambahan tahunan sebesar 2,8 ppm masih merupakan penambahan karbon yang signifikan ke atmosfer akibat pembakaran bahan bakar fosil. Dengan demikian, perlambatan relatif itu bukan alasan untuk mengendurkan upaya pengurangan emisi; tren konsentrasi tetap menunjukkan bahwa karbon terus terakumulasi di atmosfer.

Metana merupakan gas rumah kaca yang memiliki karakteristik berbeda dari karbon dioksida (CO₂), terutama dalam hal lamanya bertahan di atmosfer. Setelah dilepaskan, metana umumnya terurai lebih cepat daripada CO₂, sehingga pengaruhnya terhadap pemanasan berlangsung dalam rentang waktu yang lebih pendek. Namun, masa hidup yang relatif singkat tidak berarti gas ini dapat diabaikan. Selama berada di atmosfer, metana efektif memerangkap panas dan turut mendorong perubahan iklim. Karena itu, memahami jumlah emisi serta asalnya penting untuk menilai tekanan yang ditimbulkan oleh berbagai sumber terhadap sistem iklim global.

Menurut pembagian yang disampaikan dalam bahan, metana menyumbang sekitar 16% dari efek pemanasan iklim akibat gas rumah kaca. Angka ini menunjukkan bahwa kontribusinya cukup berarti, meskipun metana bukan satu-satunya penyebab pemanasan dan memiliki masa hidup lebih pendek dibandingkan CO₂. Sumber emisi metana terbagi proses alami dan kegiatan manusia. Sekitar sepertiga metana berasal dari sumber alami, sementara sisanya berkaitan dengan sumber antropogenik.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60