PAM Jaya Catat 1,22 Juta Pelanggan, Targetkan Layanan Penuh pada 2029

PAM Jaya Catat 1,22 Juta Pelanggan, Targetkan Layanan Penuh pada 2029
banner 468x60

Bandung | Jumlah pelanggan PAM Jaya tercatat sebanyak 1.222.484 hingga September 2026. Pada periode yang sama, cakupan layanan perusahaan mencapai 83,27 persen. Capaian tersebut menunjukkan bahwa layanan air perpipaan telah menjangkau sebagian besar wilayah dan penduduk yang menjadi sasaran pelayanan PAM Jaya, meskipun masih terdapat warga yang belum terlayani. Data jumlah pelanggan dan cakupan layanan itu disampaikan sebagai gambaran perkembangan pelayanan hingga bulan September.

Direktur Utama PAM Jaya Arief Nasrudin menyebut penduduk yang telah terlayani saat ini hampir mencapai sembilan juta jiwa. Angka tersebut menggambarkan skala pelayanan perusahaan di tengah kebutuhan air bersih masyarakat yang terus menjadi perhatian. Pernyataan Arief disampaikan di Bandung, Jawa Barat, pada Jumat malam, 30 Oktober. Keterangan itu menyertai penyampaian data terbaru mengenai jumlah pelanggan dan persentase cakupan layanan PAM Jaya.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Dalam membaca capaian tersebut, jumlah pelanggan dan cakupan layanan perlu dipahami sebagai dua ukuran yang saling melengkapi. Jumlah pelanggan merujuk pada banyaknya pelanggan yang tercatat, sedangkan cakupan layanan menunjukkan proporsi cakupan yang dilaporkan. Berdasarkan keterangan yang disampaikan, angka cakupan hingga September 2026 adalah 83,27 persen. Angka ini menjadi acuan untuk menggambarkan perkembangan layanan pada periode tersebut; angka berbeda yang mungkin tercantum pada judul sisipan tidak dijelaskan lebih lanjut dalam isi keterangan. Karena itu, data yang disebutkan Arief tetap menjadi dasar penyampaian capaian dalam berita ini. Hampir sembilan juta penduduk telah menikmati layanan, sementara lebih dari 1,22 juta pelanggan tercatat di jaringan PAM Jaya. Data tersebut memberi gambaran mengenai jangkauan pelayanan yang telah dibangun perusahaan sampai dengan September 2026.

PAM Jaya menargetkan perluasan layanan air bersih hingga menjangkau seluruh wilayah layanan pada 2029. Sasaran tersebut mencakup 2.016.011 pelanggan dan cakupan layanan sebesar 100 persen. Target ini menjadi tolok ukur penting bagi upaya perusahaan dalam memperluas akses masyarakat terhadap layanan air bersih. Untuk mendukung pencapaian itu, PAM Jaya memperkirakan kebutuhan jaringan pipa sepanjang 16.234 kilometer. Panjang jaringan tersebut diperlukan agar layanan dapat menjangkau jumlah pelanggan yang ditargetkan sekaligus memenuhi sasaran cakupan penuh pada 2029.

Gambaran kondisi saat ini menunjukkan bahwa pekerjaan perluasan masih berlangsung. Arief menyebut, per September 2026, suplai air tercatat sebesar 23,05 liter per detik, sementara panjang jaringan pipa telah mencapai 13.094 kilometer. Angka tersebut menjadi kondisi yang dapat dibandingkan dengan sasaran jaringan pipa 16.234 kilometer yang dibutuhkan pada 2029. Dengan demikian, masih terdapat jarak panjang pipa yang telah tersedia dan kebutuhan yang ditetapkan untuk mendukung target layanan. Data itu menggambarkan skala pengembangan jaringan yang perlu diperhatikan dalam perjalanan menuju cakupan penuh.

Penambahan sambungan baru juga menjadi bagian dari upaya PAM Jaya untuk mencapai sasaran tersebut. Semakin banyak sambungan yang tersedia, semakin luas pula kesempatan pelanggan untuk memperoleh layanan, sejalan dengan target 2.016.011 pelanggan. Pengembangan jumlah sambungan berjalan bersama kebutuhan untuk memperluas jaringan pipa, sehingga target pelanggan dan cakupan layanan dapat dicapai sebagai satu rangkaian sasaran. Hingga 2029, perusahaan menargetkan seluruh warga dalam wilayah layanan dapat tercakup oleh layanan air bersih. Perbandingan kondisi per September 2026 dengan sasaran yang telah ditetapkan menunjukkan bahwa perluasan tetap menjadi fokus. Pencapaian target akan bergantung pada upaya menambah sambungan dan memenuhi kebutuhan panjang jaringan pipa yang direncanakan.

Modal dasar PAM Jaya berubah dari Rp5,4 triliun menjadi Rp19,4 triliun. Perubahan tersebut menempatkan nilai modal dasar perusahaan pada angka yang jauh lebih besar dibandingkan jumlah sebelumnya, dengan kenaikan sebesar Rp14 triliun. Arief menyampaikan bahwa perubahan modal dasar itu telah disetujui di Bapemperda, yaitu Badan Pembentukan Peraturan Daerah. Keterangan tersebut menjadi informasi utama mengenai status perubahan yang disampaikan, tanpa merinci tahapan lanjutan atau keputusan lain di luar persetujuan yang disebutkan.

Angka Rp19,4 triliun merujuk pada modal dasar PAM Jaya, sedangkan nilai Rp5,4 triliun merupakan angka sebelum perubahan. Perbedaan kedua angka itu penting untuk memahami besaran penyesuaian yang diumumkan. Secara nominal, nilai baru tersebut bertambah Rp14 triliun dari nilai sebelumnya. Namun, besarnya perubahan modal dasar tidak dengan sendirinya menjelaskan jumlah dana yang telah tersedia bagi perusahaan, maupun waktu penggunaannya. Informasi yang disampaikan berfokus pada perubahan nilai modal dasar dan persetujuan yang telah diperoleh di Bapemperda.

Dalam pemberitaan mengenai PAM Jaya, perubahan tersebut menjadi salah satu informasi korporasi yang menyertai pembahasan tentang perkembangan perusahaan dan target layanan. Meski demikian, keterangan Arief sebagaimana disampaikan hanya menyebut perubahan modal dasar dari Rp5,4 triliun menjadi Rp19,4 triliun serta persetujuannya di Bapemperda. Tidak ada rincian tambahan mengenai alasan penetapan angka itu, penggunaan modal, jadwal pelaksanaan, atau proses persetujuan berikutnya dalam informasi yang tersedia. Karena itu, perubahan ini dapat dicatat secara jelas sebagai penyesuaian nilai modal dasar, sementara hal-hal lain tidak perlu diasumsikan dari keterangan tersebut. Pernyataan tentang persetujuan di Bapemperda juga perlu dipahami sesuai batas informasi yang disampaikan, yakni sebagai keterangan Arief mengenai perubahan tersebut, bukan sebagai penjelasan atas proses atau keputusan lain yang tidak disebutkan.

Ketua Bapemperda DKI Jakarta Abdul Aziz menilai penguatan struktur permodalan PAM Jaya menjadi kebutuhan penting untuk mempercepat pemenuhan layanan air perpipaan bagi masyarakat. Menurutnya, ketersediaan modal yang memadai dapat mendukung kemampuan perusahaan memperluas infrastruktur dan meningkatkan cakupan pelayanan, terutama di wilayah yang belum terjangkau jaringan. Upaya tersebut, kata dia, perlu ditempatkan dalam kerangka pembangunan daerah, bukan semata-mata sebagai kebutuhan korporasi. Arah pengembangan PAM Jaya harus sejalan dengan prioritas Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebagaimana tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD), yang mengarahkan peningkatan akses dan kualitas layanan dasar bagi warga.

Dalam pandangan Abdul Aziz, kebutuhan memperkuat permodalan berkaitan langsung dengan skala pekerjaan yang harus diselesaikan untuk menyediakan air melalui jaringan perpipaan. Perluasan jaringan memerlukan dukungan pembiayaan yang berkelanjutan, mulai dari pembangunan infrastruktur hingga pengembangan layanan di kawasan yang membutuhkan akses lebih baik. Karena itu, penyesuaian modal dasar dinilai dapat memberikan ruang gerak yang lebih luas bagi PAM Jaya dalam merencanakan dan menjalankan programnya. Langkah ini diharapkan mendukung percepatan pembangunan tanpa mengabaikan sasaran pelayanan publik yang telah ditetapkan dalam arah pembangunan daerah. Penguatan tersebut juga dipandang sebagai bagian dari upaya memastikan investasi perusahaan dapat diarahkan pada kebutuhan jaringan dan pemerataan akses.

Aziz berharap tambahan modal dasar tidak hanya memperbesar kapasitas perusahaan, tetapi juga mendorong PAM Jaya mengembangkan pembiayaan kreatif atau creative financing. Skema pembiayaan yang lebih beragam dapat menjadi salah satu cara untuk mendukung pembangunan serta memperluas jaringan pipa dengan lebih cepat. Dengan ruang permodalan yang lebih kuat, perusahaan diharapkan mampu menjajaki pilihan pembiayaan yang sesuai untuk menjalankan rencana infrastruktur, tetap memperhatikan tata kelola dan kebutuhan layanan masyarakat. Harapan tersebut sejalan dengan tuntutan untuk memperluas cakupan air perpipaan dan mengejar target pembangunan daerah. Ia berharap penguatan modal memberi PAM Jaya keleluasaan mengembangkan pembiayaan kreatif demi mempercepat pembangunan dan perluasan jaringan pipa bagi warga Jakarta.

Baca juga: Informasi Terbaru Tentang Layanan SIM Keliling di Jakarta

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60