JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 9 Oktober 2026, Sebuah taman kota mungkin tidak menghasilkan laba langsung, tetapi memberi ruang bernapas bagi jutaan orang. Jika sebuah benda bernilai Rp 1 miliar, maka ia dianggap lebih bernilai daripada benda yang hanya berharga Rp100 ribu.
Keterangan yang tercatat menyebut Dengan kata lain, angka yang terlihat tidak selalu menggambarkan nilai yang sesungguhnya.
Data lain dalam laporan menunjukkan Michael J Sandel, profesor filsafat politik di Harvard, mengajak kita berhenti sejenak pada pertanyaan tersebut dalam bukunya What Money Can’t Buy: The Moral Limits of Markets (Farrar, Straus and Giroux, 2012). Sandel, What Money Can’t Buy: The Moral Limits of Markets, 2012; Harvard Kennedy School/Weatherhead Center). Ketika sesuatu yang sebelumnya tersedia bagi semua orang mulai dijual, mereka yang memiliki uang mendapatkan akses lebih besar. Pada 1985, Dire Straits merilis Money for Nothing, lagu yang ditulis Mark Knopfler bersama Sting dan dimasukkan ke dalam album Brothers in Arms. (Brothers in Arms, Dire Straits, 1985).
Informasi lain yang berkaitan dengan peristiwa tersebut mencakup Oleh: Achmad Tshofawie, Kordinator ECOFITRAH; Keluarga ICMI dan FKPPI Ada sebuah pertanyaan sederhana yang semakin relevan di zaman ketika hampir segala sesuatu dapat diberi label harga: Berapa harga sesuatu—dan berapa nilainya? Kita sering menganggap keduanya sama. Pasar memang bekerja dengan cara demikian. Ia membutuhkan angka untuk mengalokasikan sumber daya, menentukan harga, mengukur transaksi, menghitung keuntungan dan kerugian. Namun kehidupan manusia jauh lebih rumit daripada spreadsheet.
Sandel melihat perubahan penting dalam masyarakat modern: kita tidak lagi sekadar hidup dengan ekonomi pasar, tetapi semakin mendekati masyarakat pasar—sebuah masyarakat ketika logika jual-beli dan insentif ekonomi merambah semakin banyak wilayah kehidupan. Inilah wilayah yang sering luput dari kalkulasi ekonomi. Sebuah rumah memiliki harga, tetapi rasa aman yang lahir di dalamnya tidak memiliki label harga. Sebatang pohon dapat dijual sebagai kayu, tetapi pada saat yang sama ia menyimpan air, menahan erosi, menyediakan habitat, menyerap karbon, dan membantu menjaga iklim mikro. Lalu pertanyaannya menjadi lebih serius: Apakah sesuatu yang mempunyai harga otomatis memiliki nilai yang lebih tinggi? Bagi Sandel, masalahnya bukan keberadaan pasar itu sendiri. Pasar memiliki fungsi penting. Ia membantu mempertemukan kebutuhan dan penawaran, mendorong efisiensi, inovasi, dan pertukaran. Masalah muncul ketika kita mulai menganggap bahwa semua hal sebaiknya diperlakukan sebagai komoditas. Pertama, uang menciptakan ketimpangan akses. Kedua, dan mungkin lebih mendalam, pasar dapat mengubah makna suatu benda atau tindakan. Ketika segala sesuatu diberi harga, kita bukan hanya mengubah cara membelinya. Kita bisa mengubah cara kita memandangnya. Bayangkan seorang anak belajar karena rasa ingin tahu, lalu sistem pendidikan memberinya uang untuk setiap buku yang dibaca. Pada awalnya insentif itu mungkin efektif. Tetapi dalam jangka panjang, anak tersebut bisa belajar memandang membaca bukan sebagai sesuatu yang menyenangkan atau bermakna, melainkan sebagai pekerjaan yang menghasilkan uang. Tetapi ia juga bisa mengubah motif. Dan menariknya, musik populer telah lama menangkap kegelisahan semacam itu. Lagu itu menggunakan sudut pandang seorang pekerja yang melihat kehidupan para bintang musik melalui televisi. Di balik humor dan ironi, terdapat gambaran tentang dunia ketika keberhasilan tampak sangat mudah diukur: uang, popularitas, gaya hidup, dan status. Yang tidak terlihat adalah proses. Yang terlihat adalah kemewahan. Yang tidak terlihat adalah latihan bertahun-tahun. Yang terlihat adalah popularitas. Yang tidak terlihat adalah kreativitas dan risiko. Beberapa dekade sebelumnya, The Rolling Stones menghadirkan refleksi yang jauh lebih lembut melalui As Tears Go By. Lagu yang ditulis Mick Jagger, Keith Richards, dan Andrew Loog Oldham itu pertama kali direkam Marianne Faithfull pada 1964, sebelum The Rolling Stones merekam versinya sendiri. Ada satu gagasan sederhana di dalam lagu tersebut: kekayaan ternyata tidak mampu membeli segala sesuatu. Sebuah pemikiran yang terdengar biasa. Namun semakin direnungkan, semakin dalam. Uang dapat membeli rumah, tetapi tidak otomatis membeli keluarga yang harmonis. Uang dapat membeli tempat tidur, tetapi tidak otomatis membeli tidur yang nyenyak. Uang dapat membeli obat, tetapi tidak otomatis membeli kesehatan. Uang dapat membeli sekolah mahal, tetapi tidak otomatis membeli kebijaksanaan. Uang dapat membeli lahan, tetapi tidak otomatis membeli tanah yang subur. Uang bahkan dapat membeli teknologi paling canggih, tetapi tidak otomatis membeli kebijaksanaan untuk menggunakannya. Di sinilah perbedaan harga dan nilai menjadi sangat penting. Harga adalah angka yang muncul dalam transaksi. Nilai adalah sesuatu yang kita anggap penting bagi kehidupan. Harga dapat dihitung dengan kalkulator. Nilai membutuhkan pertimbangan. Nilai sering kali bersifat kualitatif. Harga dapat berubah mengikuti pasar. Nilai tertentu justru harus dijaga agar tidak berubah hanya karena pasar berubah. Persoalan ini menjadi semakin genting ketika diterapkan pada alam. Sebuah hutan dapat memiliki harga berdasarkan kayunya. Tetapi apa harga air yang lahir dari kawasan tersebut? Berapa harga tanah yang tetap mampu menyerap hujan? Berapa harga keaneka- ragaman hayati? Berapa harga sungai yang tidak tercemar? Kita dapat membuat model ekonomi untuk menghitung sebagian dari semuanya. Ilmu ekonomi lingkungan bahkan telah mengembangkan konsep ecosystem services untuk membantu mengestimasi manfaat ekonomi dari fungsi-fungsi ekosistem. Tetapi estimasi ekonomi tetap bukan keseluruhan realitas. Karena ketika sebuah sungai dihitung hanya berdasarkan nilai air yang dapat dijual, kita bisa lupa bahwa sungai juga merupakan sistem kehidupan. Ketika hutan dihitung hanya berdasarkan nilai kayunya, kita dapat lupa bahwa hutan adalah infrastruktur ekologis. Ketika manusia dihitung hanya berdasarkan produktivitas ekonominya, kita berisiko lupa bahwa manusia bukan sekadar unit produksi. Di sinilah kita membutuhkan apa yang dapat disebut sebagai neraca nilai. Neraca ekonomi bertanya: Berapa yang kita dapat? Neraca ekologis bertanya : Apa yang kita ambil? Neraca sosial bertanya: Siapa yang mendapat manfaat dan siapa yang menanggung biaya? Neraca antar generasi bertanya: Apa yang kita wariskan kepada mereka yang belum lahir? Dan neraca moral bertanya: Apakah keuntungan yang kita peroleh memang layak disebut keuntungan? Pertanyaan terakhir sangat penting. Sebuah perusahaan bisa mencatat laba besar setelah menebang hutan. Secara finansial, itu keuntungan. Tetapi jika biaya ekologisnya ditanggung masyarakat melalui banjir, longsor, kekeringan, hilangnya mata air, dan kerusakan kesehatan, maka keuntungan tersebut sesungguhnya tidak lengkap. Sebagian biaya hanya dipindahkan.













