Jakarta | Tujuh orang tewas dan 27 lainnya terluka setelah sejumlah orang bersenjata menembaki para pelayat dalam sebuah upacara pemakaman di Yordania. Penembakan itu terjadi di Gereja Ortodoks Yunani Santo George, yang berada di Desa Hamoud, wilayah Karak, bagian selatan negara tersebut. Para korban tengah berkumpul untuk menghadiri pemakaman ketika serangan berlangsung, menurut informasi yang disampaikan mengenai peristiwa itu.
Otoritas keamanan menyatakan bahwa para pelayat menjadi sasaran tembakan. Keterangan tersebut menempatkan mereka yang hadir dalam upacara sebagai target langsung, bukan sekadar orang-orang yang kebetulan berada di sekitar lokasi. Serangan di area pemakaman gereja itu menyebabkan korban jiwa serta puluhan orang mengalami luka-luka. Informasi mengenai jumlah korban yang dilaporkan mencakup tujuh orang meninggal dunia dan 27 orang terluka.
Di sisi lain, sejumlah laporan media yang mengutip sumber anonim menyebutkan bahwa dua penyerang turun dari sebuah kendaraan sebelum melepaskan tembakan. Rincian itu perlu dibedakan dari keterangan resmi otoritas keamanan: informasi tentang para pelayat sebagai sasaran tembakan berasal dari otoritas, sedangkan gambaran mengenai dua orang yang turun dari kendaraan disampaikan melalui sumber yang tidak disebutkan namanya. Dengan demikian, rincian tersebut merupakan laporan media, bukan keterangan resmi yang dikonfirmasi secara terbuka.
Lokasi serangan di Desa Hamoud, wilayah Karak, menunjukkan bahwa penembakan terjadi saat kegiatan pemakaman berlangsung di sebuah gereja Ortodoks Yunani. Keberadaan para pelayat dalam upacara itu menjadi konteks utama dalam laporan mengenai serangan tersebut. Hingga informasi yang tersedia dalam pemberitaan ini, hal yang dapat dipastikan adalah jumlah korban, lokasi kejadian, serta keterangan otoritas bahwa para pelayat ditembaki. Rincian mengenai kedatangan para penyerang tetap disampaikan sebagai laporan yang bersumber dari narasumber anonim.
Aparat keamanan Yordania masih memburu para penyerang dan pihak lain yang diduga terlibat dalam serangan di pemakaman gereja tersebut. Operasi pencarian dilakukan ketika penyelidikan terus berjalan untuk mengungkap rangkaian peristiwa, mengidentifikasi orang-orang yang bertanggung jawab, serta mengetahui apakah ada pihak yang membantu atau memiliki keterkaitan dengan pelaku. Hingga kini, pemerintah belum menyampaikan kepastian mengenai identitas maupun afiliasi mereka.
Juru bicara pemerintah sekaligus Menteri Komunikasi Mohammad Momani mengatakan penyelidik sedang mendalami kemungkinan hubungan para penyerang dengan organisasi tertentu. Ia mengaitkan serangan itu dengan ideologi ekstremis takfiri, yang menggunakan penafsiran keagamaan radikal untuk membenarkan kekerasan terhadap pihak yang dianggap menyimpang. Namun, Momani menegaskan bahwa kaitan ideologis tersebut belum cukup untuk memastikan siapa pelaku atau kelompok yang berada di balik kejadian itu.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa penyidik masih memeriksa berbagai petunjuk sebelum menetapkan kesimpulan. Kemungkinan adanya hubungan dengan organisasi tertentu tetap menjadi bagian dari penyelidikan, bukan konfirmasi bahwa suatu kelompok telah bertanggung jawab. Pemerintah juga belum mengumumkan bukti yang dapat menjelaskan secara pasti motif, jaringan, atau peran masing-masing pihak yang dicurigai. Karena itu, identitas penyerang dan afiliasi mereka masih belum dapat dipastikan secara resmi.
Menteri Dalam Negeri Mazin al Farrayeh menyatakan aparat bekerja tanpa henti untuk menemukan para penyerang. Ia juga memperingatkan agar masyarakat tidak terlalu dini menyimpulkan siapa pelaku maupun kelompok yang mungkin terkait dengan serangan tersebut. Sikap hati-hati itu, menurut pemerintah, diperlukan selagi petugas mengumpulkan dan memeriksa informasi. Momani menyatakan hasil penyelidikan akan diumumkan setelah seluruh proses selesai. Sampai pengumuman resmi disampaikan, belum ada dasar untuk menyebut identitas atau afiliasi tertentu sebagai fakta. Pemerintah belum memberikan batas waktu penyelesaian penyelidikan, sementara pencarian terhadap para tersangka dan pemeriksaan kemungkinan keterlibatan pihak lain masih berlangsung. Dengan demikian, keterangan mengenai ideologi ekstremis takfiri perlu dipahami sebagai konteks yang sedang ditelaah penyelidik, bukan penetapan akhir atas pelaku. Informasi yang telah dipastikan tetap terbatas pada langkah pencarian aparat dan proses pemeriksaan yang belum tuntas. Otoritas meminta publik menunggu hasil penyelidikan resmi sebelum menarik kesimpulan mengenai jaringan yang mungkin berada di balik serangan itu.
Pemerintah Yordania menetapkan tiga hari berkabung nasional menyusul serangan di pemakaman sebuah gereja yang menewaskan tujuh orang. Perdana Menteri Jafar Hassan mengumumkan masa berkabung dimulai pada Jumat, 23 Oktober 2026. Keputusan tersebut menjadi bentuk resmi penghormatan negara kepada para korban sekaligus ungkapan duka atas tragedi yang mengguncang masyarakat. Pemerintah juga memerintahkan agar bendera dikibarkan setengah tiang di kementerian dan berbagai lembaga publik selama masa berkabung. Langkah itu berlaku di institusi pemerintahan dan dimaksudkan agar suasana kehilangan yang dirasakan masyarakat tercermin secara nasional.
Hassan menyatakan bahwa kebijakan berkabung tersebut mencerminkan kesedihan rakyat Yordania serta solidaritas kepada para korban dan keluarga mereka. Di tengah suasana duka, pemerintah menegaskan bahwa negara berdiri bersama masyarakat yang terdampak oleh serangan tersebut. Pengibaran bendera setengah tiang menjadi simbol penghormatan, sementara penetapan masa berkabung memberikan ruang bagi publik untuk mengenang mereka yang meninggal. Pemerintah belum mengurangi keseriusan peristiwa itu menjadi sekadar persoalan keamanan; responsnya juga menekankan ikatan sosial dan kepedulian terhadap semua warga yang merasakan dampak tragedi.
Raja Abdullah II turut menunjukkan perhatian langsung dengan mengunjungi korban luka di Rumah Sakit Pemerintah Karak pada Jumat malam. Kunjungan itu berlangsung setelah serangan dan menjadi bagian dari respons kerajaan terhadap para penyintas yang tengah menjalani perawatan. Sebelumnya, Raja Abdullah berjanji bahwa pihak yang bertanggung jawab akan menerima hukuman paling berat. Pernyataan tersebut menegaskan tuntutan agar pelaku dimintai pertanggungjawaban, meskipun proses penanganan dan penyelidikan tetap menjadi urusan pihak berwenang. Kehadiran raja di rumah sakit sekaligus memperlihatkan dukungan negara bagi korban yang terluka.
Dalam respons pemerintah, Menteri Komunikasi Pemerintah Momani juga menegaskan posisi umat Kristen dalam kehidupan nasional Yordania. Ia menyebut umat Kristen sebagai bagian integral yang tidak terpisahkan dari tatanan negara, dengan akar kuat dalam sejarah dan identitas Yordania. Penegasan ini menyampaikan pesan bahwa komunitas Kristen merupakan unsur penting dalam masyarakat, bukan kelompok yang berada di luar kehidupan nasional. Saat negara berkabung, penghormatan terhadap para korban berjalan berdampingan dengan pengakuan atas keberagaman dan hubungan historis antarkomunitas. Pernyataan tersebut menempatkan solidaritas nasional sebagai bagian penting dari sikap pemerintah terhadap tragedi itu.
Kecaman terhadap serangan di pemakaman gereja Yordania datang dari sebelas negara Arab: Lebanon, Suriah, Irak, Palestina, Mesir, Uni Emirat Arab, Oman, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, dan Bahrain. Pemerintah negara-negara tersebut menyampaikan penolakan terhadap kekerasan sekaligus solidaritas kepada Yordania. Pernyataan itu menegaskan dukungan terhadap langkah Amman untuk menjaga keamanan dan stabilitas, serta melindungi masyarakat dari ancaman terorisme. Serangan tersebut terjadi di Yordania, bukan di Indonesia.
Dukungan juga disampaikan Liga Arab dan Dewan Menteri Dalam Negeri Arab. Kedua lembaga regional itu berdiri bersama Yordania dan menolak upaya apa pun untuk memicu perpecahan di tengah masyarakat. Sekretaris Jenderal Liga Arab, Nabil Fahmy, menyebut serangan terhadap tempat ibadah sebagai tindakan teroris yang tidak dapat diterima. Ia menegaskan bahwa tindakan tersebut merupakan kejahatan yang dikutuk menurut standar apa pun. Pernyataan itu menempatkan perlindungan rumah ibadah dan keselamatan warga sebagai kepentingan bersama.
Presiden Lebanon Joseph Aoun menyatakan bahwa terorisme tidak mengenal agama maupun tanah air. Pernyataan tersebut menyoroti bahwa kekerasan tidak seharusnya dikaitkan dengan keyakinan tertentu atau digunakan untuk mempertajam perbedaan.















