Jakarta | Binance mengungkap bahwa peretasan yang berdampak pada aset klien senilai Rp114,4 triliun bermula dari akses tidak sah melalui laptop milik seorang insinyur di tim DevOps. Menurut penjelasan perusahaan, perangkat tersebut lebih dahulu diretas, kemudian menjadi titik awal bagi pelaku untuk memasuki lingkungan layanan internal. Keterangan ini menggambarkan rangkaian teknis yang disampaikan Binance, tetapi belum menjawab identitas pihak yang berada di balik serangan maupun alasan mereka melakukannya.
Setelah memperoleh akses ke laptop insinyur, pelaku disebut berhasil menjangkau kontainer layanan. Kontainer merupakan lingkungan perangkat lunak yang digunakan untuk menjalankan layanan secara terpisah. Dari akses tersebut, pelaku kemudian menjalankan transaksi penarikan tanpa izin. Dengan demikian, peristiwa ini tidak dijelaskan sebagai tindakan yang langsung dilakukan melalui akun pengguna biasa, melainkan sebagai rangkaian akses terhadap perangkat kerja dan layanan yang terkait dengan sistem platform.
Urutan yang dipaparkan perusahaan penting untuk memahami bagaimana insiden berkembang: kompromi terhadap laptop, akses ke kontainer layanan, lalu penarikan aset secara ilegal. Namun, informasi yang tersedia tidak cukup untuk memastikan bagaimana laptop pertama kali diretas, kredensial atau celah apa yang digunakan, maupun apakah ada pihak lain yang turut membantu. Karena itu, rincian tersebut sebaiknya diperlakukan sebagai hal yang masih belum diketahui, bukan sebagai fakta yang telah dikonfirmasi.
Binance belum memastikan siapa pelakunya atau apa motif serangan tersebut. Tanpa hasil penyelidikan yang lebih lengkap, tidak tepat mengaitkan insiden ini dengan kelompok tertentu atau menyimpulkan bahwa tindakan itu didorong oleh alasan khusus. Penjelasan perusahaan sejauh ini berfokus pada jalur akses yang digunakan dan transaksi yang terjadi setelahnya. Bagi pengguna, pengungkapan tersebut memberi gambaran awal tentang bagaimana penyerang mencapai sistem, sementara penetapan tanggung jawab dan konteks serangan masih memerlukan bukti lebih lanjut. Detail tambahan dari penyelidikan dapat membantu menjelaskan titik kompromi serta langkah pengamanan yang relevan.Setelah aktivitas mencurigakan terdeteksi, Binance mengambil langkah darurat untuk membatasi risiko terhadap aset dan akun pengguna. Perusahaan untuk sementara menghentikan penarikan dana, sehingga permintaan pemindahan aset keluar dari platform tidak dapat diproses selama pemeriksaan dan penanganan berlangsung. Kebijakan tersebut ditujukan untuk memberi ruang bagi tim keamanan menilai cakupan insiden, mengamankan sistem yang terkait, serta mencegah kemungkinan transaksi lanjutan yang tidak sah.
Co-CEO Binance Richard Teng menyatakan bahwa serangan yang terjadi lebih kompleks daripada sekadar penyalahgunaan izin oleh seorang insinyur. Pernyataan itu menunjukkan bahwa perusahaan tidak memandang insiden tersebut sebagai masalah akses tunggal atau kesalahan sederhana dalam pemberian hak pengguna internal. Penyelidikan perlu menelaah rangkaian faktor teknis dan proses yang memungkinkan serangan, termasuk bagaimana otorisasi digunakan dan bagaimana sistem merespons aktivitas yang tidak biasa. Binance belum menjadikan satu penjelasan sederhana sebagai kesimpulan atas kejadian tersebut.
Di sisi teknis, perusahaan memperbaiki sistem keamanan penarikan dan mencabut otorisasi pada alamat yang terdampak. Pencabutan itu dimaksudkan untuk memutus kewenangan yang dapat dimanfaatkan dalam insiden, sementara pembaruan sistem berfokus pada penguatan kontrol sebelum penarikan diproses. Langkah-langkah tersebut merupakan bagian dari respons langsung, bukan pernyataan bahwa seluruh risiko telah hilang. Pengguna tetap perlu merujuk pada pengumuman resmi Binance untuk mengetahui perkembangan layanan, status permintaan, dan prosedur yang berlaku setelah pemeriksaan.
Binance juga menyebut bahwa deposit tidak terpengaruh oleh insiden ini. Artinya, berdasarkan keterangan perusahaan, gangguan yang diumumkan berkaitan dengan penarikan dan tindakan pengamanan yang menyertainya, bukan kemampuan pengguna untuk menyetorkan aset. Perbedaan ini penting bagi pengguna yang menilai dampak operasional peretasan, meskipun keterangan tersebut tidak menggantikan informasi individual mengenai akun atau transaksi tertentu. Dengan menghentikan penarikan sementara, memperbarui perlindungan, dan membatalkan otorisasi alamat terkait, perusahaan berupaya menahan dampak insiden sekaligus memulihkan layanan dengan kontrol yang lebih ketat.
Dampak peretasan terhadap aset klien Binance dilaporkan mencapai US$6,3 miliar, atau sekitar Rp114,4 triliun. Nilai tersebut menggambarkan besarnya dana yang terdampak dan menjadi perhatian utama setelah insiden terungkap. Dalam kasus yang melibatkan aset digital, angka kerugian tidak selalu berarti seluruh dana hilang secara permanen. Sebagian aset dapat dilacak melalui transaksi blockchain, sementara pemulihan bergantung pada kemampuan mengidentifikasi tujuan transfer dan membatasi akses pelaku terhadap dana tersebut.
Binance menyatakan sekitar US$3 miliar, setara kurang lebih Rp54,4 triliun, berhasil dibekukan di blockchain. Pembekuan ini membatasi pergerakan aset yang teridentifikasi dan berpotensi menghambat upaya pencairan atau pemindahan lebih lanjut. Namun, dana yang dibekukan tidak serta-merta dapat langsung dikembalikan kepada pemiliknya. Proses tersebut memerlukan penelusuran transaksi, koordinasi dengan pihak terkait, serta prosedur yang berlaku untuk memastikan aset dapat diamankan dan dipulihkan secara tepat. Karena itu, jumlah yang berhasil dibekukan merupakan langkah penting, tetapi bukan gambaran akhir dari keseluruhan proses pemulihan.
Untuk menutup kerugian, perusahaan menyebut akan menggunakan Secure Asset Fund for Users (SAFU), dana perlindungan pengguna yang diluncurkan pada 2018 untuk menghadapi keadaan darurat, termasuk peretasan. Penggunaan dana ini dimaksudkan untuk melindungi pengguna dari dampak langsung kehilangan aset, sesuai mekanisme dan ketentuan yang berlaku. Di saat yang sama, Binance bekerja sama dengan penegak hukum serta perusahaan intelijen blockchain guna melacak aliran dana curian, mengidentifikasi alamat yang terkait, dan mendukung upaya pemulihan. Kolaborasi lintas pihak penting karena transaksi blockchain bersifat terbuka untuk ditelusuri, tetapi penguasaan aset dan pengembaliannya sering membutuhkan tindakan lebih lanjut dari berbagai yurisdiksi. Perkembangan pembekuan dan pemulihan dana akan menentukan seberapa besar nilai yang pada akhirnya dapat dikembalikan. Langkah-langkah tersebut menunjukkan bahwa respons terhadap insiden mencakup penanganan kerugian, pelacakan aset, dan perlindungan pengguna, bukan hanya upaya menghentikan serangan.FBI menyatakan telah mengetahui insiden yang berdampak pada aset klien Binance tersebut. Lembaga itu berkomunikasi dengan mitra dari sektor publik dan swasta untuk memahami cakupan aktivitas yang terjadi, menilai kemungkinan dampaknya, serta mengoordinasikan penyelidikan. Keterlibatan berbagai pihak diharapkan membantu menyusun gambaran yang lebih menyeluruh mengenai peristiwa tersebut, termasuk pola aktivitas dan konsekuensi bagi pihak yang terdampak.
Pernyataan FBI mengenai koordinasi penyelidikan tidak dengan sendirinya mengidentifikasi pihak yang bertanggung jawab. Sampai informasi yang tersedia memberikan kepastian lebih lanjut, atribusi terhadap pelaku perlu diperlakukan sebagai dugaan. Penyelidikan insiden siber, khususnya yang melibatkan aset digital, dapat memerlukan analisis transaksi, bukti teknis, dan pertukaran informasi lintas organisasi sebelum kesimpulan dapat ditetapkan.
Secara terpisah, perusahaan analitik blockchain TRM Labs menduga peretas Korea Utara mungkin terlibat. TRM mengaitkan dugaan tersebut dengan insiden peretasan Bybit dan KelpDAO pada April 2026. Pengaitan ini merupakan penilaian analitis, bukan konfirmasi resmi mengenai identitas pelaku. Kesamaan pola atau petunjuk teknis dapat menjadi bahan pemeriksaan, tetapi belum cukup untuk memastikan bahwa satu kelompok tertentu melakukan setiap insiden yang disebutkan.
Chainalysis juga menuding Korea Utara dan menyebut kelompok yang dikenal sebagai TraderTraitor. Menurut perusahaan itu, kelompok tersebut sebelumnya menargetkan berbagai bagian ekosistem kripto, termasuk industri kripto secara luas, bursa, protokol keuangan terdesentralisasi (DeFi), dan investor. Chainalysis mengatakan telah mengamati aktivitas kelompok itu sebelum peretasan Binance. Pengamatan sebelum kejadian dapat membantu penyelidik menilai urutan aktivitas dan kemungkinan kaitannya, tetapi tidak membuktikan bahwa kelompok tersebut menjadi pelaku dalam insiden ini.
Dengan demikian informasi dari TRM Labs dan Chainalysis memberikan arah yang dapat ditelaah sementara FBI.
Baca juga: Pemkot Salatiga Tindak Lanjuti Aduan Warga Terkait Sumur Berdampak Aroma Bahan Bakar | Bamsoet Apresiasi Kenaikan TKD 2027 Jadi Rp735 Triliun, Ini Pesannya untuk Pemda 394 kunjungan















