Kota Palembang | Harga daging ayam potong di sejumlah pasar tradisional Kota Palembang, Sumatera Selatan, naik dari kisaran Rp35.000 menjadi Rp40.000 per kilogram. Kenaikan sebesar sekitar Rp5.000 per kilogram itu menjadi perubahan harga yang dirasakan pembeli ketika berbelanja kebutuhan pangan. Gani, pedagang ayam di Pasar 7 Ulu, mengatakan kenaikan tersebut terjadi dalam dua hari terakhir sebelum ia memberikan keterangan pada Minggu. Dengan demikian, harga yang sebelumnya berada di kisaran Rp35.000 per kilogram kini mencapai Rp40.000 per kilogram di lapaknya.
Perubahan harga itu menunjukkan bahwa harga ayam potong di pasar tradisional Palembang dapat bergerak dalam waktu singkat. Bagi warga yang membeli ayam untuk konsumsi rumah tangga, selisih harga tersebut perlu diperhitungkan, terutama apabila mereka membeli dalam jumlah lebih dari satu kilogram. Pada saat yang sama, pedagang harus menyesuaikan harga jual dengan kondisi yang mereka hadapi. Keterangan Gani memberikan gambaran langsung mengenai perkembangan harga di Pasar 7 Ulu, salah satu lokasi perdagangan bahan pangan di kota itu. Informasi kenaikan juga tercatat di sejumlah pasar tradisional Palembang.
Meski harga yang disebutkan telah mencapai Rp40.000 per kilogram, besaran harga dapat berbeda menurut pasar maupun pedagang. Karena itu, pembeli yang ingin memperoleh harga terkini dapat membandingkan penawaran di beberapa lapak sebelum bertransaksi. Keterangan mengenai kenaikan dalam dua hari terakhir juga menjadi penanda bahwa perubahan berlangsung relatif cepat, bukan sekadar perbedaan harga yang tercatat dalam rentang waktu panjang. Namun, informasi yang disampaikan Gani tidak menjelaskan penyebab kenaikan tersebut, sehingga faktor pemicunya tidak dapat dipastikan dari keterangan ini saja. Untuk sementara, angka Rp40.000 per kilogram menjadi gambaran harga ayam potong yang dilaporkan di sejumlah pasar tradisional Palembang.
Menurut Gani, kenaikan harga ayam potong di Palembang bukan terjadi karena pasokan di pasar terbatas. Ia mengatakan stok ayam masih tersedia dengan lancar dan jumlahnya berlimpah, sehingga pedagang tidak mengalami kesulitan memperoleh barang untuk dijual. Kondisi tersebut, menurutnya, membedakan kenaikan harga kali ini dari situasi ketika gangguan distribusi atau kelangkaan membuat harga terdorong naik. Meski pasokan tetap terjaga, harga jual kepada konsumen tetap meningkat. Gani menjelaskan bahwa penyebab yang ia lihat berada pada harga yang ditetapkan agen pemasok, bukan pada kurangnya ayam di tingkat pasar. Karena itu, ketersediaan barang saja belum cukup untuk menahan harga eceran apabila biaya pembelian pedagang ikut bertambah.
Gani menyebut agen pemasok yang berasal dari Kabupaten Ogan Ilir menetapkan harga ayam lebih tinggi. Pedagang di Palembang kemudian menyesuaikan harga jual agar dapat menutup biaya pembelian dan tidak mengalami kerugian. Dengan kata lain, perubahan harga dari pemasok diteruskan ke konsumen melalui harga di lapak. Pedagang menghadapi pilihan untuk mengikuti kenaikan tersebut atau menjual dengan selisih yang semakin tipis. Mereka tetap perlu memperhitungkan modal, biaya operasional, serta risiko barang tidak terjual seluruhnya. Dalam keadaan demikian, penyesuaian harga dipandang sebagai langkah untuk menjaga usaha tetap berjalan, bukan semata-mata keputusan menaikkan harga tanpa alasan. Gani menekankan bahwa aliran pasokan yang lancar tidak otomatis berarti harga dari agen tetap sama.
Ia memperkirakan kenaikan harga pakan di tingkat peternakan mungkin menjadi salah satu faktor yang mendorong agen menaikkan harga kepada pedagang. Jika biaya pemeliharaan ayam meningkat, biaya tersebut berpotensi memengaruhi harga jual dari pihak pemasok. Namun, Gani menyampaikan hal itu sebagai perkiraan, bukan kepastian mengenai penyebab yang telah dipastikan. Ia tidak menyatakan bahwa kenaikan pakan merupakan satu-satunya alasan, ataupun bahwa hubungan tersebut sudah dibuktikan secara langsung. Penjelasan yang dapat dipastikan dari keterangannya adalah stok ayam potong di pasar masih lancar dan berlimpah, sedangkan agen asal Ogan Ilir menawarkan harga lebih tinggi. Pedagang pun menyesuaikan harga eceran untuk menghindari kerugian. Dengan demikian, dugaan mengenai pakan perlu dipahami sebagai kemungkinan yang disampaikan Gani, sementara pemicu langsung yang ia soroti adalah harga dari agen pemasok.
Kenaikan harga ayam potong hingga Rp40.000 per kilogram mulai berdampak pada daya beli masyarakat dan aktivitas pedagang di Palembang. Marni, salah seorang pedagang, mengatakan jumlah pembeli kini lebih sedikit dibandingkan ketika harga masih normal. Sebagian pelanggan mengurangi jumlah ayam yang dibeli, sementara lainnya memilih menunda pembelian atau mencari bahan pangan lain yang dianggap lebih terjangkau. Perubahan tersebut terasa dalam kegiatan jual beli sehari-hari, terutama karena ayam merupakan kebutuhan yang biasa dibeli rumah tangga untuk konsumsi. Saat harga meningkat, pembeli perlu menyesuaikan pengeluaran agar tetap sesuai dengan anggaran mereka. Kondisi ini membuat transaksi di lapak tidak seramai biasanya.
Penurunan jumlah pembeli turut memengaruhi omzet Marni. Ia menyebutkan, pada kondisi normal penjualan ayam potongnya biasanya mencapai 40 hingga 50 kilogram dalam sehari. Namun, selama dua hari terakhir, jumlah yang terjual paling banyak hanya sekitar 20 kilogram. Selisih tersebut menunjukkan perubahan yang cukup besar dalam waktu singkat, seiring harga yang semakin tinggi. Bagi pedagang, barang yang tidak terjual sebanyak biasanya dapat mengurangi pemasukan harian. Marni juga merasakan suasana pasar yang lebih sepi, sehingga peluang untuk mempertahankan tingkat penjualan seperti sebelumnya menjadi lebih sulit. Ia berharap kondisi ini tidak berlangsung lama dan harga kembali terjangkau bagi pembeli.
Menurut Marni, stabilitas harga penting agar masyarakat dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari tanpa harus mengurangi terlalu banyak belanja pangan. Pedagang pun membutuhkan keadaan pasar yang lebih pasti supaya penjualan dapat kembali berjalan normal. Ia berharap pemerintah mengambil langkah untuk menstabilkan harga berbagai kebutuhan pokok, termasuk ayam potong. Upaya tersebut diharapkan dapat membantu meringankan beban pembeli sekaligus menjaga kegiatan perdagangan di pasar. Jika harga tidak terus berfluktuasi pada tingkat tinggi, konsumen dapat berbelanja dengan lebih leluasa dan pedagang berpeluang kembali menjual dalam jumlah yang biasa mereka capai. Untuk saat ini, Marni masih menghadapi penurunan penjualan sambil menunggu adanya perubahan harga yang dapat mengembalikan minat beli masyarakat.
Elsa Noviani, Kepala Bidang Stabilisasi dan Sarana Distribusi Perdagangan Dinas Perdagangan Kota Palembang, menjelaskan bahwa kenaikan harga ayam potong biasanya berkaitan dengan meningkatnya biaya produksi yang harus ditanggung peternak. Ketika biaya pemeliharaan naik, harga jual di tingkat pedagang dapat ikut terdorong, termasuk hingga menyentuh Rp40.000 per kilogram. Karena itu, perubahan harga tidak hanya dipengaruhi oleh transaksi di pasar, tetapi juga oleh kondisi usaha peternakan dan pasokan bahan produksi.
Menurut Elsa, keterbatasan stok dapat menambah tekanan terhadap harga. Pada saat yang sama, tingginya harga bahan baku pakan meningkatkan biaya pakan yang menjadi salah satu komponen penting dalam produksi ayam. Kenaikan pengeluaran tersebut dapat memperbesar modal usaha peternak dan memengaruhi harga yang diteruskan ke rantai distribusi berikutnya. Kondisi pasokan dan biaya itu perlu dipantau agar perkembangan harga dapat diketahui secara lebih utuh. Dengan informasi yang memadai, dinas dapat menilai situasi pasar dan menentukan langkah pengawasan yang sesuai, terutama ketika harga komoditas pangan mengalami perubahan.
Dinas Perdagangan Kota Palembang, lanjut Elsa, sedang meningkatkan pemantauan untuk memastikan harga kebutuhan pokok tetap terkendali dan tidak melampaui harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah. Pengawasan dilakukan di sejumlah lapak pasar tradisional, lain Pasar KM 5, Lemabang, Soak Bato, 10 Ulu, dan 16 Ilir.
Baca juga: Dampak Lonjakan Harga Daging Ayam Terhadap Pedagang Kecil di Depok















