Gempa Berulang Guncang Tanggamus, BMKG Catat 20 Susulan

Gempa Berulang Guncang Tanggamus, BMKG Catat 20 Susulan
banner 468x60

Kabupaten Tanggamus | Rangkaian gempa mengguncang Kabupaten Tanggamus, Lampung, pada Rabu sore, 28 Oktober 2026. Getaran yang terjadi berulang kali membuat sejumlah warga terkejut dan berhamburan keluar bangunan untuk menyelamatkan diri. Peristiwa itu terasa ketika aktivitas masyarakat dan pekerjaan di lingkungan perkantoran masih berlangsung. Di warga yang merasakan guncangan adalah Danu, warga Pugung, yang saat itu berada di lingkungan kantor Pemerintah Kabupaten Tanggamus di Kotaagung. Ia mengatakan suasana sempat berubah ketika orang-orang di sekitarnya menyadari adanya getaran. Mereka segera meninggalkan ruangan dan bergerak keluar, sementara aktivitas yang sebelumnya berjalan seperti biasa terhenti sejenak. Perhatian warga tertuju pada kondisi sekitar dan keselamatan orang-orang yang berada di dalam bangunan.

Danu merasakan guncangan sebanyak dua kali saat berada di area kantor tersebut. Menurut kesaksiannya, getaran datang ketika aktivitas masih berjalan, sehingga orang-orang yang berada di dalam gedung tidak menunggu lama untuk keluar. Mereka bergegas menyelamatkan diri dan berkumpul di luar bangunan. Warga yang berada di lingkungan kantor pun tampak berusaha menjauh dari ruangan, mengikuti langkah orang lain yang lebih dahulu keluar. Pengalaman itu membuat suasana di sekitar kantor sempat ramai. Meski demikian, kesaksian Danu menggambarkan bahwa guncangan tidak berlangsung terus-menerus; setelah beberapa kali terasa, getaran kemudian mereda. Ia menyebut dirinya dan orang-orang di sekitarnya merasakan dua kali guncangan, sebelum keadaan berangsur tenang kembali.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Setelah getaran mereda, warga mulai menenangkan diri dan memperhatikan situasi di sekitar mereka. Danu menyampaikan bahwa kondisi saat itu sudah lumayan, menandakan suasana tidak lagi seramai ketika orang-orang bergegas keluar. Warga yang sempat meninggalkan bangunan dapat melihat bahwa keadaan perlahan kembali tenang. Namun, pengalaman merasakan guncangan berulang membuat mereka tetap terhadap perubahan situasi. Kesaksian tersebut memperlihatkan bagaimana gempa yang terasa saat kegiatan masih berlangsung dapat segera mendorong orang mengambil langkah untuk keluar dari bangunan. Di lingkungan kantor Pemerintah Kabupaten Tanggamus, Kotaagung, warga merespons getaran dengan bergerak menyelamatkan diri, lalu menunggu hingga guncangan mereda dan keadaan menjadi lebih terkendali.

Devi Triyani, warga Pekon Banyu Urip, Kecamatan Wonosobo, sedang beristirahat di rumah ketika gempa mengguncang wilayah Tanggamus. Dalam kesaksiannya, ia mengatakan guncangan terasa singkat, tetapi datang berkali-kali sehingga sulit baginya menganggap kejadian itu hanya satu kali getaran. Saat tubuhnya merasakan gerakan tersebut, Devi berupaya memahami apakah guncangan sudah berhenti, namun sensasi bergetar kembali muncul. Ia menyebut suasana itu membuat dirinya terus menyadari perubahan gerak di sekeliling rumah. Pengalaman itu berlangsung ketika ia berada dalam keadaan beristirahat, bukan sedang melakukan kegiatan di luar. Karena guncangan terasa datang berulang dalam waktu singkat, kesan yang tertinggal baginya adalah kejadian yang susah dipastikan kapan berakhir.

Untuk menggambarkan sensasi yang dialaminya, Devi mengibaratkan tubuhnya seperti sedang diayak. Perumpamaan itu merujuk pada rasa terguncang yang berulang, bukan pada durasi panjang dalam satu getaran. Ia merasakan tubuh dan lingkungan di sekitarnya bergerak, lalu kembali merasakan guncangan setelah jeda singkat. Dalam pengalamannya, pola tersebut membuat kejadian terasa seperti rangkaian getaran yang terus muncul. Devi juga mengungkapkan kekhawatirannya apabila gempa berlangsung lebih lama. Ia membayangkan kondisi itu akan semakin menegangkan, terlebih karena ia sedang berada di rumah dan tidak mengetahui kapan guncangan benar-benar berhenti. Meski demikian, ia menyampaikan kekhawatiran tersebut sebagai respons pribadi terhadap apa yang dirasakannya saat itu, bukan sebagai keterangan mengenai durasi atau tingkat bahaya gempa.

Devi memperkirakan dirinya merasakan sekitar 15 kali guncangan. Angka tersebut merupakan hitungan berdasarkan pengalaman dan persepsi pribadi selama berada di rumah, bukan jumlah resmi kejadian gempa. Ia juga mengaku mewaspadai gempa susulan karena getaran yang dirasakannya cukup kuat. Kekhawatiran itu muncul setelah guncangan berulang membuatnya merasa perlu tetap memperhatikan kemungkinan gerakan berikutnya. Kesaksian Devi menggambarkan bagaimana gempa dapat terasa berbeda bagi setiap orang, bergantung pada posisi dan pengalaman saat kejadian. Dalam hal ini, ia tengah beristirahat dan merasakan getaran yang datang beberapa kali, sehingga sulit membedakan setiap guncangan secara pasti. Perkiraannya tentang jumlah getaran perlu dipahami sebagai catatan pengalaman warga, terpisah dari pencatatan BMKG mengenai gempa susulan. Kisah tersebut memperlihatkan dampak langsung guncangan terhadap rasa aman warga, tanpa menggantikan data pengamatan resmi.

Pelaksana Tugas Kepala Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah II Tangerang, Ana Oktavia Setiowati, menyampaikan bahwa pemantauan BMKG hingga pukul 16.14 WIB mencatat 20 aktivitas gempa susulan di wilayah Tanggamus. Catatan tersebut mengikuti dua gempa awal yang terjadi berdekatan dalam waktu dan lokasi. Data ini menggambarkan rangkaian aktivitas seismik yang dipantau BMKG setelah guncangan pertama dirasakan.

Gempa pertama terjadi pada pukul 15.22 WIB dengan magnitudo 3,9. Pusat gempa berada di darat, sekitar 9 kilometer barat laut Tanggamus, dengan kedalaman 4 kilometer. Selang satu menit, yakni pukul 15.23 WIB, gempa kedua tercatat dengan magnitudo 4,1. Episenternya berada di darat sekitar 6 kilometer barat laut Tanggamus, pada kedalaman 5 kilometer.

BMKG menggunakan lokasi episenter dan kedalaman hiposenter untuk menjelaskan karakter kedua gempa tersebut. Karena pusatnya berada di darat dan sumbernya tergolong dangkal, gempa dinyatakan berkaitan dengan aktivitas sesar aktif. Kedalaman beberapa kilometer menunjukkan bahwa sumber guncangan berada relatif dekat dengan permukaan. Namun, penentuan karakter ini didasarkan pada analisis parameter gempa, bukan semata-mata pada kuatnya guncangan yang dirasakan masyarakat.

Jumlah 20 gempa susulan merupakan hasil pemantauan sampai batas waktu yang disampaikan Ana, yaitu pukul 16.14 WIB. Angka itu merujuk pada aktivitas yang tercatat selama rentang pemantauan tersebut dan dapat berubah seiring pembaruan informasi. Karena itu, data berkala dari BMKG menjadi rujukan untuk mengetahui perkembangan aktivitas gempa di kawasan Tanggamus. Rangkaian susulan juga dicatat sebagai bagian dari pemantauan setelah dua gempa awal, bukan sebagai informasi bahwa seluruh aktivitas telah berhenti.

Perbedaan magnitudo, jarak episenter, dan kedalaman dua gempa awal menunjukkan bahwa masing-masing kejadian memiliki parameter tersendiri. Gempa kedua sedikit lebih besar daripada gempa pertama, sementara keduanya berpusat di sekitar wilayah yang berdekatan. BMKG menyampaikan rincian waktu, magnitudo, lokasi, dan kedalaman untuk membantu masyarakat memahami kejadian berdasarkan data pengukuran. Jumlah susulan yang tercatat hingga pukul 16.14 WIB pun memberi gambaran tentang aktivitas yang terpantau pada saat laporan disampaikan, tanpa mengubah klasifikasi kedua gempa awal sebagai gempa dangkal akibat sesar aktif.

BMKG mencatat bahwa intensitas guncangan gempa dirasakan berbeda-beda di sejumlah wilayah. Di Kotaagung, guncangan tercatat pada skala III MMI. Pada tingkat ini, getaran dapat terasa nyata di dalam rumah, dan dampaknya kerap disamakan dengan sensasi ketika sebuah truk melintas di dekat bangunan. Pengalaman tersebut dapat membuat warga menyadari adanya guncangan, meskipun tingkat yang dilaporkan tidak dengan sendirinya menunjukkan adanya kerusakan.

Sementara itu, Kotabumi, Pringsewu, Ulu Belu, Gisting, Sumberejo, dan Kotaagung Timur berada pada skala II MMI. Getaran pada skala ini dirasakan oleh sebagian orang, terutama mereka yang berada di dalam ruangan atau sedang beristirahat. Benda-benda ringan yang digantung dapat tampak bergoyang, sehingga perubahan kecil di lingkungan rumah mungkin menjadi petunjuk yang dirasakan warga.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60