Jakarta | Fitri Carlina yang tinggal di Jeddah segera pulang ke Jakarta setelah ayahnya, Tasrun Hadinoto, meninggal dunia pada Sabtu (7/11). Kabar duka itu membuatnya bergegas kembali ke Tanah Air agar dapat berada di dekat keluarga dan menghadiri pemakaman sang ayah. Kepergian Tasrun menjadi peristiwa yang berat bagi Fitri, terlebih ia harus menerima kabar tersebut ketika berada jauh dari rumah.
Sebelumnya, Fitri berada di Masjid Qisas, Jeddah, tepat saat salat Jumat. Pada waktu itu, ia mendapat kabar bahwa kondisi ayahnya kritis dan Tasrun dibawa ke instalasi gawat darurat (IGD). Informasi tersebut langsung membuat Fitri mencemaskan keadaan sang ayah. Namun, karena berada di Jeddah, ia hanya dapat mengetahui perkembangan kondisi Tasrun dari jarak jauh.
Selama menunggu kabar, Fitri terus memantau keadaan ayahnya dan berusaha menenangkan diri. Situasi itu tentu tidak mudah, sebab ia harus menghadapi ketidakpastian sambil berharap kondisi Tasrun membaik. Di tengah rasa khawatir, Fitri berupaya menjaga ketenangan dan mengikuti informasi yang diterimanya dari keluarga. Ia pun tetap mengikuti perkembangan keadaan sang ayah meski tidak dapat berada langsung di sisi Tasrun saat itu.
Tak lama kemudian, kabar bahwa Tasrun meninggal dunia pada Sabtu (7/11) membuat Fitri harus menghadapi kehilangan tersebut dari jauh. Ia kemudian langsung pulang dari Jeddah menuju Jakarta. Kepulangannya menjadi langkah untuk menyusul keluarga setelah kabar duka itu datang. Fitri sempat menghadiri pemakaman ayahnya, sebuah momen yang menandai kesempatan untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Tasrun. Peristiwa ini memperlihatkan betapa mendadak perubahan yang harus dihadapi Fitri: dari memantau kondisi ayahnya di Jeddah, hingga menerima kabar kepergian sang ayah dan kembali ke Jakarta untuk berkumpul dengan keluarga. Meski berada jauh saat kondisi Tasrun memburuk, ia berusaha terus mengikuti kabar dan menguatkan diri dalam menghadapi masa sulit tersebut.
Fitri Carlina segera memesan tiket perjalanan setelah menerima kabar duka mengenai ayahnya. Saat itu, ia masih berada di Jeddah. Keputusan untuk segera pulang membuatnya dapat tiba sebelum sang ayah dimakamkan. Dengan demikian, Fitri masih berkesempatan melihat jenazah ayahnya dan ikut hadir dalam pemakaman.
Pada Minggu (8/11/2026), Fitri tiba di rumah duka yang berada di kawasan Gunung Putri, Jawa Barat. Ia menangis saat sampai di rumah duka. Kedatangannya berlangsung setelah perjalanan pulang dari Jeddah, yang ia upayakan secepat mungkin begitu mengetahui kabar kehilangan tersebut.
Fitri menyampaikan rasa syukurnya karena perjalanan pulang dapat berjalan lancar. Ia merasa bersyukur masih diberi kesempatan untuk melihat jenazah ayahnya secara langsung sebelum dimakamkan. Kesempatan itu juga memungkinkannya untuk ikut dalam prosesi pemakaman, setelah sempat berada jauh dari keluarga di Jeddah.
Baginya, dapat tiba sebelum pemakaman merupakan hal yang sangat berarti di tengah kabar duka. Setelah mendengar berita tersebut, ia langsung berusaha mengatur perjalanan agar bisa pulang ke Tanah Air. Usaha itu berujung pada kedatangannya di rumah duka pada Minggu, sehingga ia tidak kehilangan kesempatan untuk melihat ayahnya untuk terakhir kali dan turut menghadiri pemakaman.
Dalam pernyataannya, Fitri menekankan rasa syukur atas kelancaran perjalanan dan kesempatan yang masih diberikan kepadanya. Ia bersyukur bisa berada di rumah duka, melihat jenazah sang ayah, serta ikut dalam pemakaman. Meski keberangkatannya harus dilakukan segera setelah kabar duka diterima, ia akhirnya dapat menyusul keluarga sebelum ayahnya dimakamkan.
Kepulangannya dari Jeddah menjadi bagian penting dari momen perpisahan tersebut. Fitri tidak hanya berhasil sampai di rumah duka di Gunung Putri, tetapi juga hadir sebelum pemakaman berlangsung. Hal yang ia syukuri adalah kesempatan untuk melihat jenazah ayahnya dan ikut mengantarkan dalam pemakaman. Pernyataan itu mencerminkan rasa lega karena perjalanan pulang dilancarkan dan ia masih dapat hadir pada saat yang penting bagi keluarga.
Fitri Carlina menyampaikan permohonan maaf karena suaminya, Hendra, tidak dapat ikut pulang ke Jakarta. Dalam kepulangan dari Jeddah, Fitri harus menjalani perjalanan tanpa didampingi oleh sang suami. Ia menjelaskan bahwa ketidakhadiran Hendra bukan karena persoalan lain yang perlu ditafsirkan, melainkan karena Hendra masih menjalankan tugasnya sebagai pilot. Keterangan tersebut menjadi penjelasan mengenai alasan Hendra tidak ikut dalam perjalanan Fitri kali ini.
Permintaan maaf Fitri menunjukkan bahwa ia menyadari suaminya tidak dapat hadir mendampinginya saat kembali ke Jakarta. Namun, berdasarkan informasi yang disampaikan, alasan yang dapat dipastikan hanya berkaitan dengan pekerjaan Hendra sebagai pilot. Tidak ada keterangan tambahan mengenai lokasi tugas, durasi pekerjaan, ataupun jadwal yang sedang dijalani. Karena itu, penjelasan mengenai ketidakhadiran Hendra sebaiknya tetap merujuk pada pernyataan bahwa ia masih bertugas, tanpa menambahkan dugaan tentang keadaan lain.
Meski pulang tanpa suami, informasi yang tersedia tidak merinci lebih jauh bagaimana perjalanan Fitri berlangsung atau apakah ada pihak lain yang mendampinginya. Hal yang disampaikan secara jelas ialah permohonan maaf atas ketidakikutsertaan Hendra dan penjelasan bahwa pekerjaannya sebagai pilot membuatnya belum dapat mendampingi kepulangan tersebut. Dengan demikian, kabar ini memberi konteks singkat tentang alasan Fitri kembali ke Jakarta tanpa Hendra, sekaligus menjaga informasi tetap sesuai dengan keterangan yang ada. Tidak ada pula rincian yang dapat digunakan untuk menyimpulkan kapan Hendra akan menyusul atau kapan tugasnya berakhir. Pembaca cukup memahami bahwa pada saat Fitri pulang, Hendra masih bertugas, sehingga tidak dapat ikut dalam perjalanan itu. Penjelasan ringkas ini menghindari asumsi mengenai jadwal maupun lokasi kerja suaminya dan tetap berfokus pada alasan yang telah disampaikan Fitri.
Di tengah suasana duka setelah pemakaman Tasrun, Fitri Carlina bersama kakak-kakaknya, Nini dan Wiwik, menyampaikan janji di depan makam sang ayah. Mereka bertekad untuk saling mendukung dan menjaga ibu mereka, terutama setelah kehilangan sosok yang selama ini menjadi bagian penting dalam keluarga. Janji tersebut menjadi pengingat bahwa perhatian kepada ibu kini menjadi tanggung jawab bersama, yang akan mereka jalankan dengan penuh kasih dan kebersamaan.
Bagi Fitri dan kedua kakaknya, masa-masa terakhir Tasrun diwarnai kondisi kesehatan yang naik turun. Selama sekitar dua tahun terakhir, keluarga menghadapi berbagai perubahan dalam kesehatannya dan berupaya mendampinginya. Tasrun pernah menjalani pemasangan ring, sementara pada kesempatan lain ia didiagnosis mengalami infeksi paru-paru. Berbagai informasi mengenai kesehatannya menjadi bagian dari perjalanan panjang keluarga dalam merawat dan mendukung sang ayah. Namun, keluarga tidak menyatakan bahwa salah satu kondisi tersebut menjadi penyebab meninggalnya Tasrun, sehingga keduanya perlu dipahami sebagai riwayat kesehatan yang pernah dialami, bukan sebagai penjelasan atas kepergiannya.
Kenangan tentang Tasrun juga melekat pada perhatian yang diberikan anak-anaknya semasa ia hidup. Fitri, Nini, dan Wiwik membuatkan masjid serta rumah Al-Qur’an untuk sang ayah. Pemberian itu menjadi wujud kasih sayang sekaligus bentuk penghormatan anak-anak kepada orang tua mereka. Tasrun disebut sangat bahagia menerima hadiah tersebut, yang memiliki makna khusus bagi keluarga. Kebahagiaan itu kini dikenang sebagai salah satu momen berharga bersama ayah mereka.
Setelah pemakaman, kenangan mengenai kebersamaan dan perhatian Tasrun tetap hidup dalam keluarga. Janji Fitri, Nini, dan Wiwik untuk menjaga ibu menjadi langkah nyata dalam meneruskan kasih yang telah mengikat mereka. Sementara itu, masjid dan rumah Al-Qur’an yang dibangun untuk sang ayah menjadi peninggalan bermakna bagi keluarga dan lingkungan. 31 kunjungan














