BPOM Soroti Tingginya Kematian akibat Penyakit Tidak Menular di Indonesia

BPOM Soroti Tingginya Kematian akibat Penyakit Tidak Menular di Indonesia
banner 468x60

Jakarta | Kepala BPOM Prof. Taruna Ikrar menyatakan bahwa penyakit tidak menular menyebabkan 74 persen kematian di Indonesia. Angka tersebut lebih tinggi daripada rata-rata dunia, yang tercatat sebesar 69 persen. Ia menyampaikan pernyataan itu saat ditemui di Jakarta Timur pada Selasa, 27 Oktober 2026. Perbandingan angka Indonesia dan rata-rata dunia tersebut menjadi perhatian BPOM. Dengan demikian, porsi kematian yang dikaitkan dengan penyakit tidak menular di Indonesia berada di atas angka pembanding dunia sebagaimana disampaikan Kepala BPOM. Pernyataan ini menyoroti perbedaan persentase tersebut, tanpa mengubah pokok informasi yang disampaikan, yakni 74 persen untuk Indonesia dan 69 persen sebagai rata-rata dunia.

Selisih kedua angka itu menjadi perhatian BPOM. Dalam keterangan Prof. Taruna Ikrar, besarnya porsi kematian di Indonesia dibandingkan rata-rata dunia merupakan hal yang disoroti. Angka 74 persen merujuk pada kematian akibat penyakit tidak menular di Indonesia, sedangkan angka 69 persen menunjukkan rata-rata dunia. Ia menyampaikan informasi tersebut ketika ditemui di Jakarta Timur pada Selasa, 27 Oktober 2026. Perbandingan itu menempatkan angka Indonesia lebih tinggi daripada angka dunia yang disebutkan. Tidak ada perubahan pada inti keterangan tersebut: penyakit tidak menular terkait dengan 74 persen kematian di Indonesia, dan selisih terhadap rata-rata dunia menjadi perhatian BPOM.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Keterangan Kepala BPOM itu menegaskan perbedaan porsi kematian akibat penyakit tidak menular Indonesia dan rata-rata dunia. Indonesia disebut berada pada angka 74 persen, sementara rata-rata dunia sebesar 69 persen. Prof. Taruna Ikrar menyampaikan angka dan perbandingan tersebut saat ditemui di Jakarta Timur pada Selasa, 27 Oktober 2026. BPOM menaruh perhatian pada selisih kedua persentase itu. Fokus informasi ini adalah pernyataan mengenai tingginya porsi kematian di Indonesia dibandingkan rata-rata dunia, serta perhatian BPOM terhadap perbedaan tersebut. Angka-angka itu merujuk pada keterangan yang disampaikan dalam kesempatan tersebut dan menjadi pokok sorotan mengenai kematian akibat penyakit tidak menular.

Taruna menyoroti konsumsi gula, garam, dan lemak yang berlebihan sebagai salah satu faktor risiko penting bagi penyakit tidak menular. Ketiga unsur tersebut memang diperlukan tubuh dalam jumlah tertentu, tetapi pola konsumsi yang tidak seimbang dapat meningkatkan beban kesehatan, terutama jika berlangsung terus-menerus. Makanan dan minuman tinggi gula, makanan dengan kandungan garam tinggi, serta asupan lemak berlebih kerap ditemukan dalam pola makan sehari-hari. Karena itu, perhatian terhadap komposisi pangan dan kebiasaan makan menjadi bagian penting dari upaya pencegahan.

Asupan gula berlebihan dapat berkaitan dengan meningkatnya risiko diabetes, sementara konsumsi garam yang tinggi dapat mendorong tekanan darah menjadi tidak terkendali dan berkontribusi pada hipertensi. Lemak berlebih, khususnya bila menjadi bagian dari pola makan yang kurang seimbang, juga dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan kardiovaskular. Taruna mengaitkan faktor-faktor tersebut dengan sejumlah penyakit serius, termasuk diabetes, hipertensi, penyakit jantung, stroke, dan gangguan ginjal. Risiko seseorang tidak ditentukan oleh satu jenis makanan saja, tetapi dipengaruhi pula oleh kebiasaan hidup, kondisi kesehatan, dan faktor lain.

Penyakit-penyakit tersebut dapat menimbulkan dampak besar terhadap kesehatan, aktivitas sehari-hari, serta kualitas hidup. Diabetes, misalnya, memerlukan pengelolaan kadar gula darah secara konsisten. Hipertensi dan penyakit jantung juga membutuhkan pemantauan, perubahan gaya hidup, dan pada sebagian pasien penggunaan obat dalam jangka panjang. Stroke dapat menyebabkan gangguan fungsi tubuh yang memerlukan perawatan serta rehabilitasi, sedangkan gangguan ginjal dapat berkembang dan membutuhkan penanganan berkelanjutan. Dengan demikian, konsekuensi konsumsi berlebihan tidak selalu muncul seketika; dampaknya dapat terakumulasi dan memerlukan perhatian medis dalam waktu lama.

Pengendalian risiko dapat dimulai melalui pilihan makan yang lebih bijak, seperti membatasi produk tinggi gula, mengurangi garam, memperhatikan sumber dan jumlah lemak, serta membiasakan membaca informasi nilai gizi pada kemasan. Langkah tersebut sebaiknya disertai pola makan beragam, aktivitas fisik teratur, dan pemeriksaan kesehatan sesuai kebutuhan. Upaya pencegahan bukan berarti menghilangkan seluruh gula, garam, atau lemak dari makanan, melainkan menjaga konsumsinya tetap wajar. Edukasi yang konsisten dapat membantu masyarakat mengenali risiko dan mengambil keputusan sehari-hari yang mendukung kesehatan jangka panjang.

BPOM menerapkan Nutri-Level sebagai salah satu pendekatan untuk mendukung upaya pencegahan penyakit tidak menular sekaligus memperkuat edukasi konsumen. Sistem pelabelan ini dirancang agar informasi mengenai kandungan gula, garam, dan lemak pada produk pangan lebih mudah dikenali. Dengan informasi yang tersaji secara jelas, konsumen dapat mempertimbangkan komposisi produk sebelum membeli atau mengonsumsinya, bukan hanya mengandalkan rasa, merek, maupun tampilan kemasan.

Penerapan pelabelan tersebut mewajibkan pelaku usaha mencantumkan informasi terkait kandungan gizi sesuai ketentuan yang berlaku. Informasi itu dapat menjadi bahan pertimbangan ketika masyarakat memilih makanan dan minuman, terutama produk yang dikonsumsi secara rutin. Konsumen dapat membandingkan produk sejenis, memperhatikan kandungan zat gizi tertentu, serta menyesuaikan pilihan dengan kebutuhan dan pola makan masing-masing. Label bukan pengganti saran tenaga kesehatan, tetapi menjadi sumber informasi awal yang membantu pengambilan keputusan lebih sadar.

Nutri-Level juga diharapkan mendorong kebiasaan membaca label pangan sebagai bagian dari perilaku konsumsi sehari-hari. Ketika konsumen memahami informasi pada kemasan, mereka memiliki bekal lebih baik untuk mengenali karakteristik produk dan mempertimbangkan frekuensi konsumsinya. Edukasi yang menyertai sistem ini penting agar angka dan keterangan gizi tidak sekadar tercantum, melainkan benar-benar dimaknai oleh masyarakat. Dengan demikian, pelabelan dapat menghubungkan informasi produk dengan pilihan konsumsi yang lebih bijak.

Taruna berharap penyediaan informasi gizi tersebut membuat konsumen semakin memahami produk yang mereka konsumsi setiap hari. Pemahaman itu mencakup kesadaran terhadap kadar gula, garam, dan lemak, serta kemampuan menggunakan informasi tersebut saat menentukan pilihan. Harapan ini juga menempatkan konsumen sebagai pihak yang aktif, sementara pelaku usaha bertanggung jawab menyediakan keterangan yang diperlukan. Melalui pendekatan edukatif dan penerapan label yang konsisten, BPOM berupaya memperluas akses masyarakat terhadap informasi pangan yang berguna untuk mendukung pilihan konsumsi yang lebih terukur.

Taruna berharap masyarakat dapat menggunakan informasi pada label pangan untuk menentukan pilihan konsumsi yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi kesehatannya. Label tidak hanya berfungsi sebagai keterangan pada kemasan, tetapi juga dapat menjadi bahan pertimbangan sebelum seseorang membeli atau mengonsumsi suatu produk. Dengan memahami informasi gizi, konsumen diharapkan lebih cermat membandingkan produk dan memperhatikan kandungan yang relevan bagi dirinya, termasuk gula, garam, dan lemak.

Pertimbangan tersebut dapat menjadi penting bagi orang yang memiliki faktor risiko diabetes, atau mulai menunjukkan tanda hipertensi maupun prediabetes. Mereka dapat memberi perhatian lebih pada produk dengan kadar gula tinggi, lalu mempertimbangkan jenis produk serta jumlah yang dikonsumsi. Langkah ini bukan berarti setiap orang harus menghindari seluruh produk tertentu secara mutlak, melainkan menyesuaikan pilihan dengan informasi yang tersedia, kebutuhan masing-masing, dan anjuran tenaga kesehatan. Membaca label juga membantu konsumen mengenali kandungan per sajian sehingga dapat memperkirakan asupan secara lebih bijak.

Taruna menekankan bahwa keputusan konsumsi tetap berada pada masyarakat, sementara informasi pada label dapat membantu keputusan tersebut dibuat secara lebih sadar. Karena kondisi kesehatan dan kebutuhan gizi setiap orang berbeda, satu pilihan tidak selalu tepat bagi semua konsumen.

Baca juga: Polisi Ungkap Kasus Kematian Perempuan di Serang: Pacar Ditunjuk Sebagai Tersangka | Fenomena Cuaca di Balik Tingginya Partisipasi Pemilih di Bekasi

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60