BMKG Gunakan Dry Ice untuk Membantu Mengurai Asap Karhutla di Sumatera dan Kalimantan

BMKG Gunakan Dry Ice untuk Membantu Mengurai Asap Karhutla di Sumatera dan Kalimantan
banner 468x60

Jakarta | BMKG menerapkan penyemaian dry ice atau es kering sebagai bagian dari operasi modifikasi cuaca untuk membantu mengatasi kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera dan Kalimantan. Keterangan mengenai langkah tersebut disampaikan Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto, di Jakarta pada Selasa. Upaya ini merupakan langkah taktis di tengah kondisi ketika asap telah mengganggu kualitas udara dan jarak pandang di sejumlah wilayah.

Penyemaian es kering dilakukan dengan memanfaatkan awan yang tersedia sebagai sasaran operasi. Dalam modifikasi cuaca, bahan semai disebarkan ke awan tertentu untuk mendukung proses pembentukan butir air dan meningkatkan peluang terjadinya hujan. Hujan diharapkan membantu membasahi area rawan kebakaran, menekan potensi meluasnya titik api, serta mengurangi partikel asap yang berada di atmosfer. Dengan demikian, dry ice tidak dimaksudkan untuk menghilangkan asap secara langsung, melainkan menjadi bagian dari intervensi cuaca yang dapat membantu meredakan dampaknya.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

BMKG memilih pendekatan ini karena awan yang berpotensi menghasilkan hujan di wilayah terdampak jumlahnya terbatas. Kondisi tersebut membatasi kesempatan untuk mengandalkan hujan alami sebagai bantuan dalam penanganan karhutla dan kabut asap. Sementara itu, asap pekat perlu ditangani segera karena dapat memengaruhi kesehatan masyarakat, aktivitas sehari-hari, dan transportasi. Penyemaian menjadi upaya untuk memanfaatkan peluang awan yang ada, bukan jaminan bahwa hujan akan turun di setiap lokasi atau bahwa kabut asap akan langsung hilang.

Operasi modifikasi cuaca juga perlu disesuaikan dengan pemantauan kondisi atmosfer dan perkembangan awan. Penentuan waktu serta lokasi penyemaian bergantung pada ketersediaan awan yang dinilai layak, sehingga pelaksanaannya memerlukan evaluasi berkelanjutan. Hasilnya dapat berbeda menurut keadaan cuaca dan kondisi kebakaran di lapangan. Karena itu, langkah BMKG ini lebih tepat dipahami sebagai dukungan terhadap upaya penanganan karhutla, bukan pengganti pemadaman langsung, pencegahan kebakaran, ataupun perlindungan kesehatan warga. Penanganan asap tetap memerlukan koordinasi lintas pihak, sementara modifikasi cuaca berperan membantu ketika kondisi atmosfer memungkinkan.

Operasi untuk membantu mengurai asap karhutla diarahkan pada kondisi atmosfer yang membuat asap tidak mudah bergerak ke lapisan udara lebih tinggi. Dalam keadaan tertentu, asap dapat terperangkap di bagian bawah atmosfer, dengan jangkauan ketinggian sekitar 6.000–7.000 kaki. Selama tetap berada di lapisan tersebut, asap sulit terangkat dan menyebar ke udara yang lebih tinggi.

Salah satu penyebabnya adalah lapisan inversi. Pada kondisi atmosfer biasa, udara dapat bergerak naik dan turun sehingga membantu mencampurkan udara dari berbagai ketinggian. Namun, ketika inversi terbentuk, susunan suhu udara menghambat pergerakan vertikal itu. Udara di dekat permukaan menjadi lebih sulit naik melewati lapisan yang membatasi, sehingga asap yang berada di bawahnya tertahan.

Keadaan tersebut membuat kabut asap bertahan dekat permukaan tanah, alih-alih terangkat dan menyebar melalui pergerakan udara vertikal. Dengan demikian, persoalan yang menjadi sasaran operasi bukan sekadar keberadaan asap, tetapi juga kondisi atmosfer yang menghambat perpindahannya. Ketinggian sekitar 6.000–7.000 kaki menggambarkan rentang lapisan bawah tempat asap dapat terkumpul ketika inversi membatasi sirkulasi vertikal.

Selama penghambat ini masih ada, asap dapat tetap terkonsentrasi di bawah lapisan inversi. Pergerakan udara yang terbatas mengurangi peluang asap untuk terangkat dari lapisan bawah, sehingga kabut asap tidak segera meninggalkan kawasan dekat permukaan. Karena itu, pemahaman atas struktur atmosfer menjadi penting untuk menjelaskan mengapa asap karhutla dapat bertahan pada ketinggian rendah. Operasi yang memanfaatkan dry ice dikaitkan dengan upaya membantu mengurai keadaan tersebut, dengan sasaran pada kondisi udara yang menahan asap. Penjelasan mengenai lapisan inversi memberi konteks tentang kendala yang dihadapi: asap berada di lapisan bawah dan jalur pergerakan vertikalnya terhambat. Akibatnya, kabut asap tetap tertahan dekat permukaan tanah sampai kondisi yang menghalangi pergerakan udara itu berubah atau asap dapat bergerak naik dan menyebar.

Menurut penjelasan BMKG, penggunaan dry ice dalam penanganan asap karhutla bukanlah bentuk penyemaian awan yang bertujuan memicu hujan. Bahan tersebut disebarkan dari pesawat pada ketinggian dan lokasi yang diperhitungkan, khususnya di atas lapisan inversi. Lapisan ini dapat bertindak seperti penghalang atmosfer: udara di bawahnya sulit bergerak naik, sehingga asap dan partikel hasil kebakaran tertahan di dekat permukaan. Ketika kondisi langit cenderung kering dan peluang pembentukan hujan terbatas, intervensi ini diarahkan untuk memengaruhi kestabilan udara, bukan menambah curah hujan.

Dry ice, atau karbon dioksida padat, mengalami sublimasi ketika dilepaskan ke atmosfer, yakni berubah langsung dari bentuk padat menjadi gas. Proses tersebut menyerap panas dari lingkungan di sekitarnya dan memicu pendinginan. BMKG menjelaskan bahwa penyemaian yang dilakukan secara akurat di atas lapisan inversi ditujukan untuk menimbulkan penurunan suhu secara mendadak pada bagian atmosfer tertentu. Perubahan suhu itu diharapkan mengganggu kestabilan lapisan yang menahan gerak udara. Dengan demikian, udara dapat kembali bergerak secara vertikal melalui proses konveksi.

Jika aliran konveksi terbuka, asap yang sebelumnya terkumpul di lapisan bawah berpeluang terangkat ke atmosfer yang lebih tinggi. Di sana, asap dapat menyebar dan terurai, sehingga konsentrasinya di dekat permukaan berkurang. Mekanisme ini berbeda dari penyemaian awan konvensional, yang umumnya memasukkan bahan tertentu ke dalam awan untuk membantu proses pembentukan atau pertumbuhan butir air dan meningkatkan peluang hujan. Pada pendekatan dry ice, sasaran utamanya adalah perubahan dinamika udara di atas lapisan inversi. Keberhasilan langkah tersebut tetap bergantung pada kondisi atmosfer, ketepatan sasaran, serta pelaksanaan operasi. Karena itu, penyemaian dry ice tidak dapat dipahami sebagai cara langsung untuk menghasilkan hujan atau menghilangkan sumber kebakaran. Upaya ini merupakan intervensi atmosfer yang dirancang membantu mengurai asap, terutama saat keadaan kering membuat jalur konveksi terhambat. Pemantauan cuaca dan evaluasi kondisi lapangan diperlukan untuk menentukan apakah penyemaian sesuai dilakukan.Keberhasilan operasi penggunaan dry ice untuk membantu mengurai asap karhutla dinilai melalui sejumlah indikator yang dapat diamati, bukan hanya dari pelaksanaan teknis di lapangan. BMKG memantau perubahan jarak pandang atau visibility serta konsentrasi partikel polutan PM2.5. Kedua indikator tersebut membantu menggambarkan kondisi udara dan dampak asap terhadap aktivitas masyarakat. Pemantauan juga memberi dasar untuk menilai apakah kondisi membaik setelah upaya penanganan dilakukan, sekaligus mengidentifikasi wilayah yang masih memerlukan perhatian. Data dikaji dengan mempertimbangkan perubahan dari waktu ke waktu, sehingga penilaian tidak bergantung pada satu pengamatan sesaat.

Perhatian khusus diberikan pada kawasan vital, termasuk bandar udara, karena jarak pandang yang terbatas dapat mengganggu keselamatan dan kelancaran penerbangan. Perubahan visibility menjadi salah satu tanda yang penting untuk diperiksa, sementara pengukuran PM2.5 membantu menunjukkan tingkat paparan partikel halus di udara. Kedua informasi tersebut saling melengkapi: jarak pandang mencerminkan kondisi atmosfer yang terlihat, sedangkan konsentrasi partikel memberikan gambaran mengenai polutan yang dapat terhirup. Pemantauan di kawasan terdampak juga membantu pihak terkait mengikuti perkembangan kondisi udara dan mempertimbangkan langkah yang diperlukan sesuai situasi.

Berdasarkan pemantauan sementara selama beberapa hari pelaksanaan operasi, terdapat indikasi perbaikan kualitas udara di sejumlah lokasi. Salah satu tanda yang disebutkan adalah jarak pandang di Palembang, Sumatera Selatan, yang berangsur membaik. Perubahan tersebut menjadi bahan evaluasi awal, tetapi belum dengan sendirinya menggambarkan hasil menyeluruh di seluruh wilayah terdampak.

Baca juga: Akses Sulit, TNI dan Warga Gunakan Peralatan Sederhana Padamkan Karhutla | Polsek Gunung Kijang Respons Cepat Informasi Karhutla di Bukit Piatu | Karhutla Dekat Permukiman, Babinsa Koramil Pandawan Bersama Relawan Bergerak Cepat

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60