Rusia melancarkan serangan balasan dengan menembak jatuh delapan rudal buatan Amerika Serikat (AS) yang melintas dari wilayah Ukraina ke Belgorod, Rusia, pada akhir pekan kemarin. Dalam pernyataannya, Moskow menegaskan bahwa serangan ini akan dibalas, merujuk pada penggunaan rudal jarak jauh ATACMS yang diberikan oleh Washington kepada Kyiv.
Kementerian Pertahanan Rusia menegaskan, “Tindakan rezim Kyiv ini, yang didukung oleh kurator Barat, akan dibalas dengan pembalasan,” ungkap mereka dalam sebuah pernyataan Telegram pada Sabtu waktu setempat. Rusia menganggap penggunaan ATACMS yang memiliki kemampuan menjangkau target hingga 300 kilometer sebagai eskalasi signifikan dalam perang yang sudah berlangsung sejak Februari 2022. Sejak Presiden AS Joe Biden mengizinkan penggunaan rudal tersebut pada November 2024, Ukraina telah menggunakannya untuk menyerang wilayah Rusia, termasuk serangan-serangan jauh di dalam wilayah Moskow.

Sebagai respons terhadap serangan tersebut, Rusia sebelumnya telah meluncurkan rudal hipersonik jarak menengah yang dikenal dengan nama “Oreshnik,” yang diklaim tidak dapat dicegat oleh sistem pertahanan udara Barat. Presiden Vladimir Putin juga mengumumkan akan mempercepat pengembangan produksi rudal Oreshnik secara industri pada Desember 2024.
Selain itu, Kementerian Pertahanan Rusia melaporkan perkembangan terbaru di medan perang wilayah Donetsk, Ukraina, di mana pasukan Moskow berhasil menembak jatuh jet tempur MiG-29 milik Ukraina. Sebanyak tujuh belas serangan balasan yang dilakukan pasukan Ukraina juga berhasil digagalkan. Laporan tersebut menyebutkan bahwa Ukraina telah kehilangan lebih dari 410 tentara, dua tank Leopard buatan Jerman, kendaraan tempur infanteri, dan pengangkut personel lapis baja, termasuk kendaraan M113 buatan AS.
Rusia juga mencatat keberhasilan dalam merebut senjata, seperti meriam L-119 buatan Inggris, serta serangan balik yang membuat Ukraina kehilangan lebih dari 230 personel di dua lokasi di wilayah Donetsk. Rusia melancarkan serangan skala besar di wilayah Donbass pada Februari 2024, dengan alasan diskriminasi yang dilakukan oleh rezim Kyiv terhadap wilayah mayoritas etnis Rusia dan niat Ukraina untuk bergabung dengan NATO.
Konflik ini juga telah melibatkan negara-negara Barat, termasuk AS, Inggris, dan sekutu-sekutu Eropa, yang memberikan bantuan militer besar-besaran kepada Ukraina, serta menjatuhkan ribuan sanksi ekonomi terhadap Rusia untuk melemahkan anggaran perang Moskow. (Edi D/Red/**)




























