Kabupaten Seruyan | TNI AD mengupayakan pengambilan black box helikopter Mi-17V5 yang jatuh di Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, saat menjalankan misi pemadaman kebakaran hutan dan lahan. Upaya tersebut menjadi bagian dari penyelidikan untuk mengetahui rangkaian kejadian sebelum kecelakaan, termasuk informasi yang mungkin tersimpan dalam perangkat perekam penerbangan. Helikopter itu mengalami kecelakaan ketika bertugas mendukung penanganan kebakaran, dan peristiwa tersebut menewaskan tiga prajurit. Hingga kini, penyebab jatuhnya pesawat belum dapat dipastikan. TNI AD menyatakan proses investigasi masih berlangsung, sehingga kesimpulan mengenai faktor yang berkontribusi terhadap kecelakaan belum disampaikan kepada publik.
Tim investigasi masih mengumpulkan fakta dan bukti di lokasi kejadian. Pemeriksaan lapangan diperlukan untuk mendokumentasikan kondisi area, mengidentifikasi bagian pesawat, serta mencatat temuan yang dapat membantu menjelaskan peristiwa secara menyeluruh. Pengambilan black box diupayakan sebagai salah satu langkah penting, tetapi hasil pemeriksaan perangkat tersebut perlu dikaji bersama bukti lain yang ditemukan penyidik. Informasi dari saksi maupun data operasional juga dapat menjadi bagian dari proses analisis, apabila tersedia dan relevan. Karena pengumpulan serta verifikasi bukti belum selesai, berbagai dugaan mengenai penyebab kecelakaan sebaiknya tidak diperlakukan sebagai kesimpulan. Penyelidikan perlu berjalan berdasarkan temuan yang dapat diuji, bukan spekulasi. TNI AD diharapkan menyampaikan perkembangan setelah pemeriksaan menghasilkan informasi yang cukup dan dapat dipertanggungjawabkan. Untuk sementara, perhatian diarahkan pada proses pencarian dan pengamanan perangkat perekam, pemeriksaan lokasi, serta penghimpunan keterangan terkait misi. Langkah tersebut akan membantu tim membangun kronologi secara hati-hati, tanpa mendahului hasil investigasi. Sampai ada keterangan resmi yang didukung bukti, penyebab kecelakaan Mi-17V5 di Seruyan tetap menjadi bagian dari perkara yang sedang diselidiki.Upaya pengambilan black box helikopter Mi-17V5 yang mengalami kecelakaan di Seruyan diarahkan pada dua perangkat perekam, yakni flight data recorder (FDR) dan cockpit voice recorder (CVR). Keduanya merupakan bagian penting dalam proses pencarian informasi setelah kecelakaan, karena masing-masing menyimpan jenis data yang berbeda. FDR merekam data penerbangan, sedangkan CVR merekam komunikasi dan suara di dalam kokpit. Dengan memperoleh kedua perangkat tersebut, pihak yang menangani penyelidikan diharapkan dapat mengumpulkan bahan untuk memahami keadaan penerbangan menjelang peristiwa tersebut.
Kepala Dinas Penerangan TNI AD Brigjen TNI Donny Pramono menyampaikan bahwa perangkat yang sedang diupayakan untuk diambil itu diharapkan menyediakan informasi mengenai kondisi penerbangan serta komunikasi di kokpit sebelum kecelakaan. Informasi dari FDR dan CVR dapat membantu memberikan gambaran tentang apa yang terjadi selama penerbangan dan interaksi yang berlangsung di ruang kendali pesawat. Keterangan tersebut disampaikan pada Sabtu, 7 November 2026. Harapan itu menunjukkan pentingnya memperoleh rekaman dari kedua perangkat sebagai bahan yang dapat mendukung penelusuran kejadian.
FDR dan CVR memiliki fungsi yang saling melengkapi. Data penerbangan dapat berkaitan dengan kondisi operasional helikopter, sementara rekaman kokpit dapat memuat komunikasi sebelum kecelakaan. Apabila perangkat berhasil diambil, isi rekamannya diharapkan dapat diperiksa untuk memberikan petunjuk yang lebih jelas mengenai situasi menjelang insiden. Namun, informasi tersebut perlu dipahami sebagai harapan atas manfaat perangkat, bukan sebagai kesimpulan mengenai penyebab kecelakaan. Penentuan sebab tetap memerlukan pemeriksaan dan analisis terhadap bukti yang tersedia. Karena itu, pengambilan black box menjadi salah satu upaya penting untuk memperoleh informasi yang diperlukan dalam proses pengungkapan penyebab kecelakaan Mi-17V5 di Seruyan.
Mi-17V5 dengan nomor registrasi HA-5235 tengah menjalankan misi pemadaman kebakaran hutan dan lahan di wilayah Taman Nasional Tanjung Puting. Penerbangan tersebut merupakan bagian dari upaya penanganan karhutla, yang mengharuskan helikopter mengangkut dan menjatuhkan air pada area terdampak. Pada hari kejadian, helikopter lepas landas dari Kuala Pembuang pada pukul 09.55 WIB dengan tujuan Telaga Pulang. Rute itu berkaitan dengan pelaksanaan tugas di kawasan yang membutuhkan dukungan pemadaman udara. Informasi mengenai misi dan tujuan penerbangan memberi konteks penting untuk memahami kegiatan yang sedang dilakukan awak sebelum kecelakaan dilaporkan.
Kecelakaan dilaporkan terjadi ketika Mi-17V5 sedang mengambil air laut untuk operasi pemadaman menggunakan metode water bombing. Dalam metode tersebut, helikopter membawa air dari sumber yang tersedia, lalu menjatuhkannya ke titik kebakaran. Pengambilan air merupakan bagian dari rangkaian kerja pemadaman, sehingga insiden berlangsung saat helikopter tengah bertugas, bukan dalam penerbangan yang tidak berkaitan dengan misi. Meski demikian, keterangan mengenai aktivitas terakhir itu belum menjelaskan secara rinci bagaimana kecelakaan terjadi. Informasi tersebut hanya menempatkan insiden dalam konteks operasi udara yang sedang dijalankan di wilayah Taman Nasional Tanjung Puting.
Dugaan awal menyebut peristiwa itu sebagai kecelakaan kerja saat helikopter menjalankan tugas pemadaman karhutla. Penyebutan tersebut menggambarkan hubungan insiden dengan pekerjaan dan misi yang sedang berlangsung, tetapi tidak dapat diperlakukan sebagai penetapan penyebab kecelakaan. Penyebab pasti masih perlu ditelusuri melalui pemeriksaan dan pengumpulan bukti. Karena itu, kronologi lepas landas dari Kuala Pembuang, tujuan Telaga Pulang, serta aktivitas pengambilan air laut menjadi informasi latar yang relevan, bukan kesimpulan tentang faktor pemicu. Penyelidikan atas kecelakaan diperlukan untuk memastikan rangkaian kejadian dan menjelaskan apa yang menyebabkan helikopter jatuh.
Kecelakaan helikopter Mi-17V5 di Seruyan menimbulkan dampak serius bagi personel yang berada di dalamnya. Tiga prajurit TNI Angkatan Darat gugur, sementara lima orang lainnya selamat dan kini menjalani perawatan di RS Kuala Pembuang. Informasi mengenai korban tersebut menjadi bagian penting dari penanganan kejadian, di samping upaya untuk mengetahui penyebab kecelakaan melalui pemeriksaan yang masih berlangsung.
Tiga prajurit yang gugur adalah Letkol Cpn (Anumerta) Dudi Firmansyah, Kapten Cpn (Anumerta) Nurhafiz Akbar Rizki Hartio, dan Sertu (Anumerta) Heri. Penyebutan nama mereka menegaskan besarnya kehilangan yang dialami keluarga, rekan, dan satuan tempat para prajurit bertugas. Status anumerta diberikan kepada ketiganya setelah mereka gugur dalam peristiwa tersebut. Keterangan identitas ini disampaikan sebagai bagian dari informasi mengenai korban, tanpa mengurangi perhatian terhadap proses investigasi maupun kondisi para penyintas.
Lima orang yang selamat mendapat perawatan di RS Kuala Pembuang. Informasi yang tersedia menyebutkan lokasi perawatan mereka, tetapi tidak merinci kondisi masing-masing korban. Karena itu, perkembangan mengenai kesehatan para penyintas perlu merujuk pada keterangan resmi dari pihak berwenang atau rumah sakit. Fokus penanganan terhadap korban selamat berjalan bersamaan dengan proses pemeriksaan atas kecelakaan, sementara keluarga dan pihak terkait menantikan informasi lanjutan yang telah dipastikan.
Donny menyampaikan bahwa hasil investigasi belum dapat disampaikan kepada publik karena pemeriksaan masih berjalan. Tim masih mengumpulkan dan menelaah bukti sebelum menyusun kesimpulan mengenai penyebab kejadian. Dengan demikian, belum ada hasil akhir yang dapat dijadikan dasar untuk memastikan faktor pemicu kecelakaan. Donny meminta semua pihak memberi ruang kepada tim agar dapat bekerja secara profesional, objektif, dan berdasarkan bukti. Permintaan tersebut penting agar proses penelusuran berlangsung tanpa kesimpulan dini atau spekulasi yang berpotensi menyesatkan. Informasi tentang korban dan perawatan penyintas dapat disampaikan terpisah dari penetapan penyebab. Kesimpulan baru dapat diberikan setelah pemeriksaan selesai dan temuan diverifikasi. Sampai saat itu, penghormatan terhadap para prajurit yang gugur serta perhatian terhadap lima korban selamat tetap menjadi bagian utama dari respons atas peristiwa ini.
Baca juga: Apakah NIK Dapat Mengungkap Keterkaitan Seseorang dengan Judi Online? | Rangkaian Peristiwa Keamanan di Jakarta: Balap Liar, Pencurian, dan Kecelakaan Maut 67 kunjungan















