Jakarta | Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) telah menyelesaikan Aptisi Executive Rector Leadership Academy (AERLA) angkatan pertama. Program pengembangan kepemimpinan ini berlangsung selama tiga hari, pada 21–23 Oktober 2026, dengan sasaran memperkuat kapasitas pimpinan perguruan tinggi swasta (PTS) di Indonesia.
Penyelenggaraan AERLA mencerminkan perhatian terhadap peran strategis pimpinan kampus dalam mengarahkan institusi menghadapi perubahan di sektor pendidikan tinggi. Rektor dan pimpinan PTS tidak hanya bertanggung jawab atas pelaksanaan kegiatan akademik, tetapi juga perlu memastikan kebijakan, pengelolaan sumber daya, dan arah pengembangan kampus berjalan secara terencana. Penguatan kapasitas kepemimpinan menjadi salah satu unsur penting agar perguruan tinggi dapat merespons tantangan sekaligus menjaga mutu layanan pendidikan.
APTISI dan Kemdiktisaintek merancang program ini sebagai upaya strategis jangka panjang, bukan sekadar kegiatan pelatihan yang berdiri sendiri. AERLA diarahkan untuk mendorong peningkatan mutu dan tata kelola PTS melalui penguatan kemampuan para pemimpinnya. Dengan kepemimpinan yang lebih siap, perguruan tinggi diharapkan dapat mengembangkan pengelolaan yang akuntabel, memperjelas prioritas institusi, serta membangun lingkungan akademik yang mendukung pencapaian tujuan pendidikan tinggi.
Skala kebutuhan pengembangan tersebut tergambar dari sekitar 70.000 pimpinan PTS di Indonesia yang menjadi sasaran jangka panjang program. Angka itu menunjukkan luasnya kelompok pemimpin yang dapat memperoleh manfaat dari inisiatif penguatan kapasitas ini; bukan berarti seluruhnya mengikuti angkatan pertama. Penyelesaian program perdana menandai dimulainya langkah yang lebih berkelanjutan untuk menjangkau kebutuhan kepemimpinan di berbagai perguruan tinggi swasta.
Ke depan, kesinambungan AERLA dan penerapan pembelajaran kepemimpinan dalam tata kelola kampus akan menjadi bagian penting dari upaya peningkatan mutu. Kolaborasi APTISI dan Kemdiktisaintek menyediakan landasan bagi agenda tersebut, dengan fokus pada penguatan pimpinan sebagai penggerak perubahan institusi. Melalui pendekatan jangka panjang, pengembangan kapasitas diharapkan mendukung PTS agar mampu menjalankan tata kelola yang baik dan berkontribusi terhadap kemajuan pendidikan tinggi di Indonesia.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto mengapresiasi inisiatif Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) dalam menyelenggarakan AERLA. Program ini dinilai penting karena menyediakan ruang pembelajaran bagi para rektor perguruan tinggi swasta (PTS), sekaligus mempertemukan pimpinan kampus dengan kementerian untuk membahas kebutuhan dan arah pengembangan pendidikan tinggi. Apresiasi tersebut juga mencerminkan pengakuan atas peran organisasi perguruan tinggi dalam mendukung peningkatan kapasitas kepemimpinan di lingkungan kampus.
Melalui pelatihan ini, peserta memperoleh kesempatan untuk memperkuat kemampuan dalam menjalankan kepemimpinan perguruan tinggi. Tanggung jawab rektor mencakup pengelolaan institusi, pengembangan mutu akademik, serta upaya merespons perubahan di sektor pendidikan tinggi. Karena itu, forum yang mempertemukan para pimpinan PTS dapat membantu mereka bertukar pandangan dan memperluas pemahaman tentang tantangan yang dihadapi masing-masing kampus. Kegiatan ini juga menjadi sarana bagi Kemdiktisaintek untuk menyampaikan program-program kementerian secara langsung kepada para pimpinan perguruan tinggi swasta.
Brian berharap manfaat AERLA tidak berhenti pada peserta yang mengikuti angkatan pertama. Ia mendorong para rektor untuk membagikan pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh kepada sesama pimpinan perguruan tinggi di wilayah masing-masing. Penyebaran pembelajaran tersebut diharapkan memperluas dampak program, sehingga lebih banyak kampus dapat mengambil manfaat dari gagasan, wawasan, dan praktik yang dibahas selama kegiatan. Pertukaran antarrektor juga dapat membantu memperkuat jejaring dan mendorong kerja sama yang sesuai dengan kebutuhan wilayah.
Pelaksanaan AERLA direncanakan berlanjut ke angkatan berikutnya, sehingga kesempatan pengembangan kepemimpinan dapat menjangkau lebih banyak pimpinan PTS. Kementerian juga membuka ruang bagi peserta untuk menyampaikan masukan mengenai kebijakan dan pelaksanaannya. Masukan itu, terutama terkait aspek pelayanan kepada perguruan tinggi swasta yang masih perlu diperbaiki, dapat menjadi bahan evaluasi bagi Kemdiktisaintek. Dengan mendengar pengalaman langsung dari pengelola kampus, kementerian memiliki gambaran lebih jelas tentang kendala yang muncul dalam layanan maupun penerapan kebijakan. Komunikasi dua arah ini penting agar program dan pelayanan pemerintah semakin relevan dengan kebutuhan PTS, sekaligus memperkuat hubungan kerja kementerian dan perguruan tinggi.
Brian menekankan bahwa pimpinan perguruan tinggi swasta (PTS) perlu memahami dunia akademik secara menyeluruh. Pemahaman tersebut tidak cukup berhenti pada urusan administrasi atau pengelolaan institusi, tetapi perlu mencakup proses pendidikan, pengembangan ilmu pengetahuan, serta dinamika riset. Dengan bekal itu, pemimpin dapat melihat hubungan keputusan kelembagaan dan mutu kegiatan akademik. Kepemimpinan yang memahami ruang lingkup tersebut juga lebih mampu menempatkan kebutuhan dosen, mahasiswa, dan pengembangan institusi dalam pertimbangan yang seimbang. Menurut Brian, pemahaman menyeluruh menjadi landasan agar arah perguruan tinggi tidak terlepas dari misi pendidikan dan kontribusinya kepada masyarakat.
Ia juga mengingatkan bahwa kepemimpinan PTS tidak semestinya dimaknai semata-mata sebagai upaya mengejar keuntungan materi. Aspek keberlanjutan kelembagaan tetap penting, tetapi perlu berjalan bersama perhatian terhadap manfaat sosial. Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan pendidikan yang bermakna, mendorong lahirnya pengetahuan, dan memberi dampak bagi lingkungan sekitarnya. Karena itu, keputusan pimpinan idealnya mempertimbangkan bukan hanya hasil finansial, melainkan juga nilai dan manfaat yang dirasakan oleh masyarakat. Pandangan ini menempatkan kepemimpinan sebagai amanah yang mencakup pengelolaan institusi sekaligus upaya memastikan kegiatan akademik dan pendidikan memberi kontribusi lebih luas.
Brian berharap praktik-praktik baik yang telah berjalan di sejumlah PTS dapat terus dipertahankan dan dikembangkan. Ia mendorong agar pengalaman tersebut tidak berhenti pada periode kepemimpinan tertentu, tetapi dapat dibagikan kepada para pemimpin berikutnya. Proses berbagi dapat membantu menjaga kesinambungan program dan memberi bekal bagi penerus untuk memahami pendekatan yang telah terbukti bermanfaat dalam konteks masing-masing institusi. Harapan itu tidak berarti bahwa seluruh PTS memiliki kondisi, tantangan, atau capaian yang sama. Setiap perguruan tinggi memiliki latar dan kebutuhan tersendiri, sehingga praktik baik perlu dipahami secara kontekstual sebelum diterapkan. Dengan cara tersebut, pengetahuan antarpemimpin dapat menjadi sumber pembelajaran, tanpa mengabaikan karakter dan prioritas tiap kampus.
Ketua Umum Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI), Budi Djatmiko, memandang AERLA sebagai wadah bagi para pemimpin perguruan tinggi swasta untuk berbagi praktik baik, bertukar pengalaman, dan merumuskan solusi bersama. Ruang kolaborasi tersebut dinilai penting karena perguruan tinggi menghadapi tantangan global yang terus berkembang, mulai dari perubahan kebutuhan dunia kerja hingga tuntutan peningkatan mutu pendidikan. Melalui pertemuan dan pembelajaran bersama, peserta dapat memahami persoalan dari beragam sudut pandang sekaligus membawa pulang gagasan yang relevan untuk diterapkan di kampus masing-masing.
Dalam menghadapi perubahan itu, kepemimpinan perguruan tinggi perlu memiliki visi yang adaptif dan transformatif. Pemimpin kampus dituntut bukan hanya merespons keadaan, tetapi juga mampu mengarahkan perubahan dengan tujuan yang jelas dan berorientasi pada dampak nyata bagi institusi, mahasiswa, serta masyarakat. Budi menyebut para peserta memperoleh masukan baru mengenai kepemimpinan dan arah pendidikan tinggi menuju 2035. Wawasan tersebut diharapkan membantu rektor dan unsur pimpinan lainnya menyusun langkah strategis, memperkuat tata kelola, serta menyesuaikan program kampus dengan perkembangan masa depan tanpa meninggalkan kebutuhan lokal.
APTISI menjelaskan bahwa program sejenis sebenarnya telah dijalankan sejak 2014. Namun, tahun ini kegiatan tersebut diresmikan secara khusus sebagai program AERLA, sehingga pengembangan kepemimpinan perguruan tinggi memiliki wadah dan identitas yang lebih terarah. Ke depan, APTISI berencana memprioritaskan pendampingan bagi perguruan tinggi swasta di wilayah Indonesia bagian timur dan tengah.
Baca juga: Wali Kota Dan Wakil Wali Kota Beserta Sekda Kota Langsa, Lakukan Peletakkan Batu Pertama, Pembangunan Masjid Asy-Syakirin | Latihan Bersama TNI AU dan Angkatan Udara Prancis di Jakarta | Persija Jakarta Ciptakan Rekor Kemenangan Pertama Sejak Era Liga Super Indonesia















