JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 9 Oktober 2026, Joko Widodo mengungkapkan isi pertemuannya dengan Presiden Prabowo Subianto di kediaman Prabowo, kawasan Kertanegara, Jakarta Selatan, pada Selasa malam, 6 Oktober. Pertemuan tersebut berlangsung sekitar dua jam dan menjadi perhatian karena melibatkan dua tokoh yang pernah berada dalam satu pemerintahan serta memiliki hubungan politik yang erat.
Menurut Jokowi, perbincangan dengan Prabowo berlangsung dalam suasana terbuka dan mencakup sejumlah topik. Keduanya membahas sepak bola, perkembangan ekonomi, serta isu politik. Jokowi tidak memerinci seluruh isi pembicaraan, tetapi menyebut pertemuan itu sebagai kesempatan untuk bertukar pandangan mengenai berbagai hal yang sedang menjadi perhatian publik.
Sepak bola turut menjadi salah satu pembahasan dalam pertemuan tersebut. Jokowi dan Prabowo menyoroti kemenangan tim nasional Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026. Hasil itu menjadi kabar positif yang ikut mewarnai percakapan mereka, terutama di tengah meningkatnya perhatian masyarakat terhadap prestasi olahraga nasional.
Pembahasan mengenai ekonomi dan politik juga berlangsung dalam pertemuan yang digelar secara tertutup tersebut. Kendati demikian, Jokowi memberikan gambaran bahwa percakapan tidak terbatas pada satu isu tertentu. Beragam perkembangan nasional dibicarakan dalam suasana yang santai, tetapi tetap mencerminkan perhatian terhadap kondisi Indonesia.
Keterangan Jokowi mengenai pertemuan selama dua jam itu memperlihatkan bahwa agenda di Kertanegara mencakup percakapan yang cukup luas. Selain membahas isu publik, pertemuan tersebut juga menjadi ruang bagi Jokowi dan Prabowo untuk berkomunikasi secara langsung. Hingga keterangan itu disampaikan, tidak ada penjelasan lebih rinci mengenai keputusan atau kesepakatan khusus yang dihasilkan dari pertemuan tersebut.
Pertemuan Presiden Joko Widodo dan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto di kediaman Prabowo, Jalan Kertanegara, Jakarta, berlangsung selama sekitar dua jam. Pertemuan tersebut terjadi pada waktu yang bersamaan dengan agenda Mahkamah Konstitusi membacakan putusan terkait perkara persyaratan pencalonan wakil presiden. Salah satu isu yang menjadi perhatian publik dalam putusan itu ialah ketentuan yang berkaitan dengan pencalonan Gibran Rakabuming Raka.
Jokowi menegaskan bahwa putusan Mahkamah Konstitusi tersebut tidak dibahas dalam pertemuannya dengan Prabowo. Ia menyampaikan bahwa pertemuan itu tidak berkaitan dengan proses maupun materi perkara yang sedang diputuskan oleh lembaga konstitusional tersebut. Penegasan itu disampaikan untuk menjelaskan bahwa kesamaan waktu pertemuan dan pembacaan putusan tidak berarti isu tersebut menjadi bagian dari pembicaraan keduanya.
Menurut Jokowi, perkara mengenai putusan Mahkamah Konstitusi berada dalam ranah yudikatif. Sementara itu, pertemuannya dengan Prabowo berkaitan dengan ranah eksekutif. Ia memisahkan kedua hal tersebut berdasarkan kewenangan dan konteks masing-masing, tanpa mengaitkan pembicaraan di Kertanegara dengan proses pengambilan keputusan di Mahkamah Konstitusi. Dengan demikian, keterangan Jokowi berfokus pada penjelasan mengenai waktu pertemuan serta batas pembahasan yang berlangsung selama pertemuan tersebut.
Kehadiran Joko Widodo di kediaman Prabowo Subianto di Kertanegara, Jakarta Selatan, disebut berlangsung atas undangan langsung dari Prabowo. Informasi tersebut memperjelas bahwa pertemuan itu bukan agenda yang muncul secara spontan, melainkan pertemuan yang telah disiapkan melalui komunikasi kedua pihak. Jokowi kemudian datang memenuhi undangan tersebut dan berbincang secara langsung dengan Prabowo di kediaman pribadinya.
Ajudan Jokowi, AKBP Syarif, membenarkan adanya pertemuan tersebut. Keterangan itu disampaikan untuk menjawab informasi mengenai keberadaan Jokowi di kawasan Kertanegara pada Rabu, 7 Oktober. Menurut penjelasan Syarif, Jokowi hadir karena menerima undangan dari Prabowo, tanpa menyebut adanya agenda lain di luar pertemuan tersebut. Konfirmasi dari ajudan itu menjadi salah satu keterangan resmi mengenai alasan kunjungan Jokowi pada malam itu.
Pertemuan dimulai sekitar pukul 19.00 WIB dan berakhir sekitar pukul 21.00 WIB. Dengan demikian, pembicaraan berlangsung kurang lebih dua jam di rumah Prabowo di Jakarta Selatan. Durasi tersebut menunjukkan bahwa keduanya memiliki cukup waktu untuk membahas sejumlah hal secara tertutup, meskipun rincian materi pembicaraan tidak seluruhnya disampaikan kepada publik. Setelah agenda selesai, Jokowi meninggalkan lokasi, sementara informasi yang beredar mengenai pertemuan itu tetap mengacu pada keterangan bahwa undangan berasal dari Prabowo.
Penjelasan mengenai undangan, waktu, dan lokasi pertemuan membantu memberikan gambaran faktual tentang rangkaian kunjungan Jokowi ke Kertanegara. Keterangan tersebut juga menempatkan pertemuan pada konteks yang jelas, yakni berlangsung pada malam hari di kediaman Prabowo dan dihadiri langsung oleh kedua tokoh. Adapun isi pembicaraan menjadi bagian terpisah yang kemudian menarik perhatian karena pertemuan berlangsung dalam durasi cukup panjang.
Ketika ditanya apakah pertemuan tersebut turut membahas peluang Gibran Rakabuming Raka dalam Pemilihan Presiden 2029, Jokowi tidak memberikan penjelasan mengenai kemungkinan pencalonan maupun arah politik putra sulungnya itu. Ia justru menilai pembahasan mengenai kontestasi nasional tersebut masih terlalu dini untuk dilakukan. Menurut Jokowi, masih tersedia waktu yang panjang sebelum tahapan menuju Pilpres 2029 dimulai.
Jokowi meminta semua pihak tidak terburu-buru menarik pembicaraan politik ke agenda pemilu yang masih jauh. Ia menekankan bahwa perhatian utama saat ini seharusnya diarahkan pada pekerjaan dan tanggung jawab yang sedang diemban. Setiap tokoh, partai politik, serta unsur pemerintahan perlu lebih dahulu menunjukkan kinerja yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Pesan tersebut mencakup dua ruang kerja yang berjalan beriringan, yakni urusan politik dan pemerintahan. Dalam bidang politik, para pihak dinilai perlu menjaga komunikasi serta menjalankan peran masing-masing secara bertanggung jawab. Sementara itu, dalam pemerintahan, fokus pentingnya adalah melaksanakan program, menyelesaikan persoalan publik, dan memastikan pelayanan kepada rakyat tetap menjadi prioritas.
Pernyataan Jokowi menempatkan pembahasan mengenai Pilpres 2029 bukan sebagai agenda yang perlu diputuskan sekarang. Ia tidak menyampaikan dukungan, penolakan, atau gambaran mengenai langkah Gibran pada pemilu mendatang. Sikap tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pertemuan dengan Prabowo di Kertanegara tidak dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan adanya kesepakatan terkait pencalonan tertentu.
Dengan demikian, keterangan Jokowi tetap berpegang pada ajakan agar semua pihak bekerja terlebih dahulu untuk rakyat. Pembicaraan mengenai kontestasi 2029 dinilai belum waktunya menjadi perhatian utama. Soal peluang Gibran maupun arah politiknya, Jokowi tidak memberikan prediksi, sehingga informasi yang dapat disampaikan sejauh ini terbatas pada penegasan agar pembahasan tersebut tidak dilakukan terlalu dini.















