Teknologi Rem Motor Dinilai Mampu Kurangi Korban dan Kerugian Ekonomi

Teknologi Rem Motor Dinilai Mampu Kurangi Korban dan Kerugian Ekonomi
banner 468x60

JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 5 Oktober 2026, Kajian Institut Teknologi Bandung (ITB) menunjukkan bahwa penerapan teknologi pengereman modern pada sepeda motor baru memiliki potensi besar untuk meningkatkan keselamatan di jalan. Berdasarkan temuan tersebut, penggunaan teknologi ini diperkirakan mampu mencegah hingga 111.163 kematian sampai 2045. Angka itu menegaskan bahwa sistem pengereman bukan sekadar fitur pendukung, melainkan bagian penting dari upaya mengurangi dampak kecelakaan lalu lintas.

Teknologi pengereman modern juga dinilai dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat dan negara. Selain berpotensi menyelamatkan banyak nyawa, penerapannya diperkirakan mampu menekan beban kerugian ekonomi nasional yang timbul akibat kecelakaan lalu lintas. Nilai kerugian tersebut ditaksir mencapai Rp2,16 triliun, sehingga pencegahan kecelakaan melalui peningkatan fitur keselamatan memiliki arti penting bagi perlindungan ekonomi.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Temuan ITB memperlihatkan bahwa investasi pada teknologi pengereman modern berpeluang menghasilkan manfaat keekonomian yang signifikan. Manfaat yang diperkirakan muncul disebut lebih dari lima kali lipat dibandingkan total biaya investasi yang diperlukan. Perbandingan ini menunjukkan bahwa penerapan teknologi tersebut tidak hanya relevan dari sisi keselamatan, tetapi juga layak dipandang sebagai langkah strategis untuk mengurangi beban ekonomi akibat kecelakaan.

Dengan potensi pencegahan kematian dan pengurangan kerugian yang besar, teknologi pengereman modern pada sepeda motor baru dapat menjadi salah satu pilihan penting dalam memperkuat keselamatan transportasi. Hasil kajian ini memberikan dasar bahwa peningkatan fitur keselamatan dapat menghadirkan manfaat langsung bagi pengguna jalan sekaligus mendukung kepentingan ekonomi nasional. Penerapannya diharapkan mendorong perhatian yang lebih besar terhadap pentingnya teknologi pengereman dalam upaya menekan dampak kecelakaan lalu lintas.

Dalam diseminasi hasil riset dan rekomendasi kebijakan keselamatan kendaraan roda dua di Jakarta, peneliti Institut Teknologi Bandung (ITB) Sony Sulaksono Wibowo menekankan pentingnya melihat teknologi keselamatan berdasarkan dampaknya terhadap masyarakat. Selama ini, perangkat keselamatan pada kendaraan kerap dipahami sebagai komponen tambahan yang meningkatkan harga pembelian atau biaya produksi. Pandangan tersebut, menurut inti pemaparannya, perlu ditinjau kembali dengan mempertimbangkan data dan fakta yang ditemukan di lapangan.

Data kecelakaan menunjukkan bahwa risiko berkendara tidak hanya berkaitan dengan kerusakan kendaraan, tetapi juga dapat menimbulkan korban jiwa, cedera, kehilangan produktivitas, serta beban biaya bagi keluarga dan negara. Karena itu, teknologi seperti sistem pengereman yang lebih aman perlu ditempatkan dalam kerangka manfaat yang lebih luas. Pengeluaran untuk menghadirkan teknologi tersebut bukan semata-mata beban bagi konsumen, melainkan bagian dari upaya mengurangi dampak sosial dan ekonomi akibat kecelakaan lalu lintas.

Pendekatan berbasis bukti ini mengubah cara pandang terhadap keselamatan kendaraan. Fitur keselamatan tidak lagi hanya dinilai dari tambahan biaya yang terlihat ketika kendaraan dibeli, tetapi juga dari kerugian yang dapat dicegah sepanjang penggunaannya. Ketika suatu teknologi mampu menurunkan kemungkinan kecelakaan atau mengurangi tingkat keparahan dampaknya, nilai manfaatnya mencakup perlindungan terhadap pengendara, penumpang, pengguna jalan lain, dan keberlanjutan aktivitas ekonomi.

Pernyataan tersebut juga menegaskan perlunya kebijakan yang mendorong penerapan teknologi keselamatan secara lebih luas pada kendaraan roda dua. Pemerintah, industri, dan masyarakat perlu menggunakan hasil penelitian serta kondisi nyata di lapangan sebagai dasar dalam menentukan prioritas. Dengan cara itu, investasi keselamatan dapat dipahami sebagai langkah pencegahan untuk menekan jumlah korban dan kerugian ekonomi, bukan sekadar penambahan fitur atau biaya pada kendaraan.

Data yang disampaikan Sony menunjukkan besarnya kontribusi kendaraan roda dua terhadap kecelakaan lalu lintas di Indonesia. Dari total sekitar 149 ribu kecelakaan yang terjadi setiap hari, sepeda motor disebut menyumbang sekitar 73 persen. Angka tersebut menggambarkan bahwa pengendara sepeda motor menghadapi tingkat paparan risiko yang tinggi, terutama karena kendaraan ini tidak memiliki perlindungan struktural seperti mobil. Ketika terjadi benturan atau kehilangan kendali, dampaknya dapat langsung dirasakan oleh pengendara dan penumpang.

Salah satu faktor yang perlu mendapat perhatian adalah kegagalan pengereman. Kondisi ini tidak selalu berarti sistem rem mengalami kerusakan total. Pengereman dapat menjadi tidak efektif ketika pengendara melakukan pengereman mendadak, permukaan jalan licin, ban kehilangan daya cengkeram, atau tekanan rem terlalu kuat sehingga roda terkunci. Dalam situasi tersebut, sepeda motor lebih mudah kehilangan stabilitas dan sulit diarahkan untuk menghindari objek di depan.

Perbedaan waktu terjadinya pengereman dan respons manusia turut memperbesar risiko. Pada pengereman mendadak, roda sepeda motor dapat terkunci dalam waktu kurang dari 0,2 detik. Sementara itu, manusia rata-rata memerlukan sekitar 0,75 detik untuk bereaksi ketika panik. Selisih waktu tersebut dapat menentukan apakah pengendara masih mampu mempertahankan kendali atau justru terjatuh dan menabrak. Jarak yang ditempuh selama pengendara mengenali bahaya dan merespons juga dapat membuat tabrakan semakin sulit dihindari.

Karena itu, teknologi anti-lock braking system (ABS) dinilai penting sebagai lapisan perlindungan tambahan. Sistem ini bekerja dengan mengatur tekanan pengereman agar roda tidak mudah terkunci, sehingga pengendara memiliki peluang lebih besar untuk mempertahankan kendali dan arah sepeda motor saat melakukan pengereman kuat. Kendati demikian, ABS bukan jaminan bahwa kecelakaan dapat dihilangkan sepenuhnya. Kecepatan, kondisi jalan, jarak aman, kondisi ban, kemampuan berkendara, dan kewaspadaan tetap berperan penting dalam keselamatan. Penggunaan teknologi perlu berjalan bersama perilaku berkendara yang disiplin dan perawatan kendaraan secara berkala.

Catatan PT Jasa Raharja memperlihatkan bahwa kecelakaan sepeda motor juga membawa beban finansial yang besar bagi negara dan masyarakat. Sepanjang 2025, santunan kecelakaan untuk kendaraan roda dua yang disalurkan mencapai Rp3,22 triliun. Nilai tersebut menunjukkan besarnya kebutuhan pembiayaan yang muncul ketika kecelakaan terjadi, sekaligus menggambarkan dampak ekonomi yang tidak dapat dipandang sebagai persoalan individual semata.

Dari total penyaluran itu, sebesar Rp1,36 triliun diberikan untuk korban meninggal dunia. Angka ini menjadi bagian penting dalam melihat konsekuensi kecelakaan lalu lintas, karena santunan yang disalurkan mencerminkan skala kerugian dan kebutuhan dukungan bagi pihak yang terdampak. Data tersebut tidak hanya berbicara mengenai nilai rupiah, tetapi juga menunjukkan besarnya dampak sosial yang menyertai kecelakaan kendaraan roda dua.

PT Jasa Raharja juga mencatat bahwa sebagian besar korban berada dalam kelompok usia produktif, yakni 15–34 tahun. Kelompok usia ini memiliki posisi penting dalam kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Karena itu, tingginya jumlah korban pada rentang usia tersebut turut mempertegas bahwa keselamatan pengendara sepeda motor perlu mendapat perhatian serius, termasuk melalui penggunaan teknologi kendaraan yang mendukung keselamatan.

Besarnya santunan yang dibayarkan dan dominannya korban dari usia produktif memperlihatkan bahwa peningkatan keselamatan kendaraan memiliki relevansi yang luas. Teknologi rem motor yang dirancang untuk membantu pengendalian kendaraan dapat ditempatkan sebagai salah satu bagian dari upaya keselamatan, tanpa mengabaikan faktor lain yang juga berperan. Data santunan PT Jasa Raharja menjadi pengingat bahwa pencegahan kecelakaan berkaitan erat dengan perlindungan masyarakat serta upaya mengurangi beban finansial yang harus ditanggung akibat kecelakaan sepeda motor.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60