JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 5 Oktober 2026, Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti mendorong penguatan perlindungan hak cipta atas motif dan karya tenun Nusa Tenggara Timur (NTT). Menurutnya, langkah tersebut penting untuk memastikan karya para penenun tidak mudah ditiru, digunakan, atau dikomersialkan oleh pihak lain tanpa memberikan manfaat yang layak kepada penciptanya. Perlindungan melalui hak kekayaan intelektual (HKI) juga dinilai dapat menjadi dasar yang lebih kuat bagi pengembangan industri tenun daerah.
Destry menilai perlindungan HKI tidak hanya berkaitan dengan aspek hukum, tetapi juga dengan upaya melindungi penenun dan meningkatkan nilai ekonomi produk yang mereka hasilkan. Ketika motif serta karya tenun memiliki perlindungan yang jelas, identitas dan keaslian produk dapat lebih terjaga. Kondisi itu berpotensi meningkatkan kepercayaan konsumen, memperluas akses pemasaran, dan mendorong terbentuknya nilai tambah bagi produk lokal NTT.
Karya tenun, dalam pandangan tersebut, perlu diposisikan secara seimbang sebagai bagian dari kekayaan budaya sekaligus produk bernilai ekonomi. Tenun tidak semata-mata merepresentasikan sejarah, tradisi, dan identitas masyarakat, tetapi juga dapat menjadi sumber pendapatan yang lebih besar bagi penenun serta komunitas yang terlibat dalam proses produksinya. Karena itu, pengakuan dan perlindungan terhadap motif khas perlu berjalan bersama dengan pengembangan usaha, promosi, serta akses pasar.
Pernyataan itu disampaikan Destry dalam keterangan pers di Jakarta pada Minggu, 4 Oktober. Sebelumnya, ia menyampaikan pesan serupa dalam Flobamorata Creative Expo 2026 di Kupang pada Sabtu, 3 Oktober. Dorongan tersebut menegaskan perlunya kolaborasi pemerintah, lembaga terkait, pelaku usaha, dan masyarakat adat untuk mendata, mendaftarkan, serta menjaga motif tenun NTT. Dengan perlindungan yang lebih kuat, manfaat ekonomi dari karya budaya diharapkan dapat kembali kepada penenun sebagai pembuat dan penjaga warisan tersebut.
Gagasan mengenai perlindungan motif tenun NTT disampaikan dalam konteks Flobamorata Creative Expo 2026, sebuah pameran yang memperlihatkan kekayaan produk daerah. Kegiatan ini tidak hanya menampilkan kain tenun dengan beragam motif dan karakter, tetapi juga menghadirkan produk kuliner serta kopi dari berbagai wilayah. Kehadiran beragam komoditas tersebut menunjukkan bahwa potensi ekonomi Nusa Tenggara Timur tidak bertumpu pada satu jenis produk, melainkan tumbuh dari kekayaan budaya, kreativitas, dan sumber daya lokal yang saling melengkapi.
Dalam pameran tersebut, Destry memandang pengembangan produk unggulan daerah sebagai unsur penting dalam membangun perekonomian NTT. Produk yang lahir dari pengetahuan, tradisi, dan kemampuan masyarakat setempat memiliki nilai yang lebih luas daripada sekadar barang dagangan. Produk-produk itu juga merepresentasikan identitas daerah dan dapat menjadi penggerak kegiatan ekonomi apabila dikembangkan secara konsisten. Karena itu, keberagaman tenun, kuliner, dan kopi perlu dipandang sebagai kekuatan bersama yang memiliki peluang untuk memberikan manfaat lebih besar bagi masyarakat.
Potensi tersebut masih perlu dikembangkan secara optimal agar produk lokal mampu memperoleh perhatian dan menjangkau konsumen yang lebih luas. Peningkatan nilai ekonomi tidak hanya berkaitan dengan jumlah produk yang dihasilkan, tetapi juga dengan kemampuan menjaga keunikan serta kualitas yang menjadi pembeda setiap karya. Dalam konteks ini, tenun NTT memiliki posisi penting karena motifnya menyimpan ciri khas budaya yang kuat dan dapat meningkatkan daya tarik produk di tengah persaingan pasar.
Perlindungan terhadap karya tenun dapat membantu menjaga nilai keunikan tersebut sekaligus mendukung perluasan jangkauan produk lokal. Ketika karya budaya dihargai dan identitasnya tetap terpelihara, tenun memiliki peluang lebih besar untuk dikenal oleh masyarakat di luar daerah. Langkah ini sejalan dengan upaya menjadikan produk unggulan daerah sebagai bagian dari penguatan ekonomi NTT. Dengan mengembangkan potensi secara optimal, keberagaman produk lokal dapat memberikan kontribusi yang semakin berarti bagi pelaku usaha dan masyarakat.
Pelaksana Tugas Deputi Bidang Usaha Mikro Kementerian UMKM Reghi Perdana menekankan bahwa peningkatan kapasitas produksi perlu berjalan seiring dengan penguatan kemampuan pelaku usaha dalam memahami pasar. Penambahan jumlah produksi tidak akan memberikan dampak optimal apabila produk yang dihasilkan tidak sesuai dengan kebutuhan, selera, dan daya beli konsumen. Karena itu, UMKM perlu menjadikan informasi pasar sebagai dasar dalam menentukan desain, bahan, ukuran, harga, serta strategi penjualan.
Kemampuan membaca kebutuhan konsumen juga harus diikuti penerapan standar kualitas yang konsisten. Produk yang memiliki ciri khas lokal, termasuk tenun NTT, tetap perlu memenuhi harapan pembeli dari sisi ketahanan, kerapian, keamanan, dan ketepatan waktu pengiriman. Pemenuhan standar tersebut penting untuk membangun kepercayaan, baik di pasar domestik maupun ketika produk ditawarkan kepada pembeli yang lebih luas. Kualitas yang terjaga akan memperbesar peluang terjadinya pembelian ulang dan memperkuat reputasi pelaku usaha.
Reghi menyampaikan bahwa UMKM tidak cukup hanya mampu membuat produk, tetapi juga harus dapat membaca kebutuhan pasar, menghasilkan barang berkualitas, dan terhubung dengan rantai pasok. Hubungan dengan pembeli dan mitra usaha perlu dibangun secara berkelanjutan melalui komunikasi, pemenuhan kesepakatan, serta evaluasi terhadap permintaan yang terus berubah. Pola tersebut memungkinkan pelaku usaha memperoleh masukan langsung sekaligus menyesuaikan kapasitas produksi dengan peluang penjualan yang tersedia.
Bagi UMKM NTT, peningkatan mutu produk perlu diikuti akses yang lebih luas kepada pembeli, pembiayaan, pasar ekspor, dan rantai pasok. Tanpa dukungan tersebut, kemampuan menghasilkan tenun dan produk lokal berkualitas belum tentu berujung pada transaksi yang berkelanjutan. Akses pembeli membantu pelaku usaha menemukan permintaan yang sesuai, sedangkan pembiayaan memberi ruang untuk memenuhi pesanan, memperbaiki peralatan, menjaga ketersediaan bahan baku, dan meningkatkan kapasitas produksi. Pada saat yang sama, keterhubungan dengan pasar ekspor dapat membuka peluang pertumbuhan, selama produk mampu memenuhi standar serta kebutuhan konsumen yang dituju.
Reghi menegaskan bahwa penguatan UMKM tidak boleh berhenti pada peningkatan kemampuan produksi. Produk yang dibuat juga harus memiliki jalur pemasaran yang jelas dan mampu menjawab kebutuhan konsumen. Karena itu, pelaku usaha memerlukan pendampingan yang menghubungkan kualitas, desain, kapasitas, harga, dan ketepatan pasokan dengan permintaan pasar. Pendekatan tersebut penting agar perbaikan produk tidak berjalan sendiri, melainkan mendukung terciptanya transaksi dan memperkuat keberlanjutan usaha. Pemenuhan standar pasar juga menjadi bagian penting untuk membantu produk lokal diterima oleh pembeli yang lebih beragam.
Kementerian UMKM berharap kolaborasi pemerintah pusat dan daerah, Bank Indonesia, perbankan, dunia usaha, serta pemangku kepentingan lainnya dapat membantu lebih banyak produk UMKM NTT memenuhi standar pasar. Kerja bersama itu diperlukan untuk memperluas akses pembiayaan, mempertemukan pelaku usaha dengan pembeli, dan membangun hubungan yang lebih kuat dalam rantai pasok. Dengan dukungan lintas pihak, produk lokal memiliki peluang masuk ke rantai pasok yang lebih luas, baik untuk memenuhi kebutuhan pasar nasional maupun bersaing di pasar global. Hal tersebut tetap bergantung pada kemampuan UMKM menjaga kualitas, memenuhi kebutuhan konsumen, dan menyediakan produk secara konsisten sesuai tuntutan pasar.
















