Banggai — Kinerja aparat penegak hukum di wilayah Kecamatan Toili Barat, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, menjadi sorotan tajam publik. Warga Desa Dongin mempertanyakan keseriusan penanganan laporan dugaan ancaman dan aksi premanisme yang disebut melibatkan pemilik cafe, setelah laporan polisi yang dibuat sejak 3 Mei 2026 hingga kini disebut belum menunjukkan tindak lanjut yang jelas, sehingga diminta agar bapak kapolda sulteng copot aparat penegak hukum yang terlibat konspirasi pembiaran, nyawa warga terancam.
Peristiwa itu mencuat setelah seorang warga mengaku rumahnya didatangi sejumlah orang yang diduga preman cafe sambil membawa senjata tajam jenis parang. Tidak hanya masuk ke pekarangan rumah, mereka juga disebut masuk ke dalam rumah hingga memeriksa kamar secara paksa tanpa izin pemilik rumah.

Ironisnya, menurut pengakuan pihak pelapor, laporan yang telah disampaikan ke pihak kepolisian hingga delapan hari berjalan belum membuahkan tindakan nyata. Kondisi <a href="https://patrolihukum.net/satu-nama-diduga-kuasai-paket-mamin-pupr-probolinggo-lsm-macan-kumbang-siap-bongkar-dugaan/”>tersebut memicu kekecewaan mendalam dari pihak korban dan masyarakat sekitar.
“Kalau laporan masyarakat seperti ini saja diabaikan, rakyat harus mengadu ke mana lagi,” ungkap pihak keluarga pelapor dengan nada kecewa.
Disebutkan, istri pelapor awalnya menghubungi layanan darurat 110 saat kejadian berlangsung. Selanjutnya laporan resmi dibuat ke Polsek Toili pada 3 Mei 2026. Namun hingga berita ini ditulis, belum ada kepastian hukum maupun langkah tegas dari aparat terkait.
Situasi tersebut memunculkan dugaan adanya pembiaran terhadap aksi premanisme. Bahkan, masyarakat mulai mempertanyakan independensi dan keberpihakan aparat dalam penegakan hukum.
Pihak keluarga korban menilai penanganan perkara terkesan lamban dan tidak sebanding apabila dibandingkan dengan kasus masyarakat kecil yang kerap diproses cepat oleh aparat.
“Kalau rakyat kecil yang jadi terlapor, biasanya cepat diproses. Tapi ketika yang dilaporkan diduga orang berduit dan punya pengaruh, prosesnya seolah mandek. Ini yang membuat masyarakat kehilangan kepercayaan,” ujar sumber keluarga pelapor.
Tidak hanya soal dugaan ancaman, persoalan lain yang ikut menjadi perhatian adalah aktivitas cafe yang disebut-sebut berkedok restoran namun diduga menjalankan praktik maksiat. Warga mengaku sebelumnya telah berupaya menyuarakan penolakan terhadap aktivitas tersebut.
Namun menurut mereka, respons yang muncul justru bukan penindakan, melainkan upaya fasilitasi perizinan dan pertemuan dengan pengelola cafe.
Kondisi ini memunculkan persepsi negatif di tengah masyarakat. Aparat penegak hukum dan pemerintah daerah dinilai tidak cukup tegas terhadap dugaan pelanggaran yang terjadi.
“Kami melihat seolah ada toleransi terhadap aktivitas yang meresahkan warga. Padahal masyarakat hanya ingin lingkungan tetap aman dan kondusif,” ujar salah satu warga.
Sorotan juga diarahkan kepada jajaran penyidik Polsek Toili. Saat dikonfirmasi awak media terkait perkembangan laporan tersebut, Kanit Reskrim Polsek Toili hanya memberikan jawaban singkat.
“Sementara proses, sabar pak,” ujarnya singkat.
Namun saat dikonfirmasi kembali terkait perkembangan penanganan perkara, hingga berita ini diterbitkan belum ada tanggapan lanjutan dari pihak terkait.
Kondisi tersebut membuat publik mempertanyakan profesionalitas dan keberanian aparat dalam menangani perkara yang menyangkut dugaan premanisme. Sejumlah pihak bahkan mendesak Kapolda Sulawesi Tengah untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap jajaran di wilayah hukum Polres Banggai, khususnya Polsek Toili.
Masyarakat berharap aparat kepolisian tidak membiarkan munculnya kesan hukum tajam ke bawah namun tumpul ke atas. Terlebih, kasus yang dilaporkan menyangkut rasa aman warga di lingkungan tempat tinggalnya sendiri.
“Jangan sampai masyarakat merasa keselamatannya kalah oleh kepentingan orang-orang tertentu. Institusi Polri harus hadir memberi rasa keadilan dan perlindungan kepada semua warga tanpa pandang bulu,” tegas salah satu tokoh masyarakat setempat.
Hingga berita ini tayang, pihak Polsek Toili, Polres Banggai maupun pihak terkait lainnya belum memberikan penjelasan resmi secara lengkap mengenai perkembangan laporan polisi tersebut maupun langkah hukum yang akan ditempuh.
**Lp. Tim Redaksi**
- Teror Petasan Guncang Rumah Warga di Kraksaan, LIBAS88 Desak Polisi Tangkap Pelaku dan Otak di Balik Aksi Brutal
- Diduga Laporan Ancaman Preman Cafe Diabaikan, Polsek Toili Disorot Tidak Punya Nyali: Warga Minta Kapolda Sulteng Turun Tangan
- Ribuan Pelari Padati Probolinggo, Fun Run Halbi 2026 Jadi Ajang Silaturahmi Sekaligus Gaya Hidup Sehat


























11 Komentar