Probolinggo, Patrolihukum.net – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo melalui Satuan Tugas (Satgas) Makan Bergizi Gratis (MBG) melakukan monitoring dan evaluasi (monev) distribusi ompreng di SDN Sumberbulu Kecamatan Tegalsiwalan, Senin (6/4/2026). Langkah ini diambil sebagai tindak lanjut atas laporan distribusi yang dinilai belum optimal.
Kegiatan monev dipimpin oleh Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Probolinggo M. Sjaiful Efendi bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikdaya) Kabupaten Probolinggo, Camat Tegalsiwalan Hariyanto, Korwil Bidang Dikdaya Kecamatan Tegalsiwalan serta Kepala SDN Sumberbulu.

SDN Sumberbulu merupakan hasil penggabungan dua lembaga dengan total 239 siswa yang terbagi dalam dua gedung. Sebanyak 159 siswa kelas 1 hingga 4 berada di gedung timur dan 80 siswa kelas 5 dan 6 menempati gedung barat.
Sebelumnya, distribusi makanan hanya dilakukan di satu titik di gedung timur. Kondisi ini membuat siswa dari gedung barat harus berjalan kaki menyeberang jalan untuk mengambil ompreng dengan pendampingan guru, sehingga berpotensi menimbulkan risiko keselamatan.
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekda Kabupaten Probolinggo M. Sjaiful Efendi mengatakan distribusi dalam program MBG harus mengutamakan aspek keamanan dan kenyamanan peserta didik.
“Distribusi ompreng ini adalah tanggung jawab penyedia, bukan siswa. Karena itu, mulai hari ini pengantaran harus dilakukan langsung ke masing-masing lokasi gedung agar tidak membebani peserta didik,” ujarnya.
Sjaiful meminta agar setiap keluhan yang muncul segera ditindaklanjuti oleh pihak terkait, khususnya Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) agar pelaksanaan program berjalan optimal.
“Saya minta pihak SPPG agar semua keluhan pihak sekolah dan penerima manfaat harus cepat direspon. Alhamdulillah selama ini sudah terjalin komunikasi yang baik antara pihak sekolah dan SPPG. Harapannya ke depan lebih ditingkatkan khususnya kualitas pelayanan SPPG,” tegasnya.
Lebih lanjut Sjaiful menekankan makanan program MBG wajib dikonsumsi di sekolah guna menjaga kualitas dan keamanan pangan. “Makanan harus dikonsumsi di sekolah, tidak boleh dibawa pulang untuk menghindari risiko penurunan kualitas makanan,” jelasnya.
Sjaiful menambahkan, koordinasi antar pihak perlu terus diperkuat, termasuk dengan Satgas MBG di tingkat kecamatan yang melibatkan unsur kecamatan, kepolisian, koramil dan puskesmas sebagai jalur komunikasi apabila terjadi kendala.
“Hasil monev ini diharapkan menjadi pedoman bagi seluruh sekolah di Kabupaten Probolinggo dalam pelaksanaan program MBG. Pemkab Probolinggo berkomitmen untuk terus melakukan pengawasan agar program ini benar-benar memberikan manfaat bagi peningkatan gizi siswa,” lanjutnya.
Dari hasil monev, pihak SPPG menyatakan kesiapan untuk melakukan distribusi langsung ke dua titik gedung sekolah. Sementara pihak sekolah diminta menyiapkan tempat yang bersih dan aman untuk penempatan ompreng serta tidak meletakkannya di lantai.
“Dengan perbaikan sistem distribusi ini, program MBG diharapkan dapat berjalan lebih efektif, aman dan tepat sasaran serta mampu mendukung tumbuh kembang peserta didik secara optimal,” tambahnya.
Saat monev oleh Satgas MBG Kabupaten Probolinggo, ompreng sudah diletakkan di atas meja dan distribusi sudah dilakukan pada 2 titik SDN Sumberbulu 1 dan eks SDN Sumberbulu 2.(Bambang)

























