Pemadaman Karhutla Ciremai Masuk Tahap Akhir, Jabar Kerahkan Water Bombing

Pemadaman Karhutla Ciremai Masuk Tahap Akhir, Jabar Kerahkan Water Bombing
banner 468x60

Medan | Kebakaran hutan dan lahan di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, dilaporkan relatif berhasil dipadamkan setelah penanganan selama dua hari. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa upaya pengendalian telah memasuki tahap akhir, meskipun pemantauan dan penanganan di lapangan tetap diperlukan untuk memastikan tidak ada titik api yang kembali membesar.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memantau langsung proses penanganan pada Jumat (23/10). Dalam kegiatan itu, ia meninjau sejumlah titik terdampak menggunakan helikopter. Pemantauan dari udara dilakukan untuk melihat keadaan kawasan secara lebih menyeluruh, termasuk perkembangan kebakaran dan kondisi area yang sebelumnya menjadi perhatian petugas.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Berdasarkan hasil pemantauan udara, kondisi kebakaran di kawasan Ciremai telah menurun. Informasi tersebut menjadi salah satu indikator bahwa penanganan yang berlangsung selama dua hari menunjukkan perkembangan positif. Namun, penurunan kondisi kebakaran tidak serta-merta berarti seluruh risiko telah berakhir. Pemeriksaan lanjutan tetap penting, terutama untuk mengetahui apakah masih terdapat bara atau titik panas yang berpotensi memicu api kembali.

Peninjauan langsung oleh gubernur juga memberi gambaran mengenai perkembangan pekerjaan di kawasan taman nasional. Dengan melihat lokasi dari helikopter, kondisi sejumlah titik dapat diamati dalam cakupan yang lebih luas dibandingkan pengamatan dari darat. Hasil pemantauan itu membantu memberikan gambaran mengenai tingkat penurunan kebakaran, sekaligus menjadi bagian dari evaluasi atas penanganan yang telah dilakukan.

Pada tahap akhir pemadaman, kewaspadaan tetap dibutuhkan karena karakter kawasan hutan dan lahan dapat membuat api sulit terdeteksi sepenuhnya. Pemantauan berkala dan pemeriksaan di titik-titik terdampak menjadi langkah penting untuk memastikan situasi tetap terkendali. Upaya tersebut juga membantu mencegah kebakaran kembali meluas setelah api utama berhasil ditekan.

Dengan kondisi yang dilaporkan semakin membaik, penanganan kebakaran di Taman Nasional Gunung Ciremai kini berfokus pada memastikan api benar-benar padam dan kawasan aman. Pemerintah daerah bersama pihak terkait diharapkan terus mengikuti perkembangan di lapangan hingga tidak ditemukan lagi indikasi kebakaran. Langkah lanjutan ini diperlukan agar pemulihan kondisi kawasan dapat berlangsung tanpa gangguan api susulan.

Berdasarkan hasil pemantauan dari udara, luas kawasan yang terdampak kebakaran hutan dan lahan di Gunung Ciremai diperkirakan sekitar 30 hektare. Perkiraan tersebut disampaikan Dedi untuk memberikan gambaran mengenai skala area yang terbakar sekaligus meluruskan informasi yang beredar. Angka itu berbeda dari isu yang menyebut kebakaran telah meluas hingga 60 hektare. Pengamatan udara menjadi salah satu acuan dalam menilai sebaran dampak, karena kondisi lapangan dapat terlihat lebih menyeluruh dari atas dibandingkan hanya dari titik tertentu di kawasan hutan.

Dedi menegaskan bahwa luasan terbakar yang terpantau tidak mencapai 60 hektare seperti kabar yang beredar. Perbedaan angka perlu diperhatikan agar informasi mengenai penanganan kebakaran tetap akurat. Luas sekitar 30 hektare merupakan perkiraan berdasarkan pemantauan, sehingga penyampaiannya tidak sepatutnya diubah menjadi angka pasti yang lebih besar tanpa dukungan data. Informasi tersebut juga memberi konteks bagi perkembangan penanganan di lapangan, termasuk sisa titik api yang masih perlu dipantau oleh petugas setelah upaya pemadaman pada hari sebelumnya.

Setelah penanganan yang dilakukan sehari sebelumnya, sekitar 20 persen masih tersisa. Bagian yang belum tertangani itu berupa titik-titik api, dan kondisinya dinilai tidak terlalu rawan. Namun, keterangan tersebut tidak berarti seluruh titik api telah padam ataupun seluruh kawasan sudah sepenuhnya bebas dari risiko. Sisa api tetap menjadi perhatian dalam proses penanganan, sementara pemantauan diperlukan untuk melihat perkembangannya. Dengan demikian, perkiraan luas terbakar dan persentase sisa penanganan menggambarkan dua hal yang berbeda: luas area terdampak sekitar 30 hektare, sedangkan sekitar 20 persen merujuk pada bagian penanganan yang masih tersisa setelah upaya sebelumnya.

Penanganan kebakaran hutan dan lahan di kawasan Gunung Ciremai memasuki tahap akhir dengan dukungan helikopter untuk menjangkau titik api yang sulit diakses melalui jalur darat. Pesawat tersebut melakukan water bombing, yakni menjatuhkan air langsung ke area yang terbakar untuk membantu mengendalikan kobaran. Dukungan udara berasal dari sejumlah lembaga, yaitu Kementerian Pertahanan, Mabes TNI, TNI Angkatan Udara, dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Pengerahan lintas instansi ini melengkapi upaya petugas di lapangan, terutama pada lokasi dengan akses terbatas dan kondisi medan yang menyulitkan mobilisasi personel maupun peralatan.

Dedi menjelaskan bahwa karakter kebakaran di Ciremai menghadirkan tantangan tersendiri. Api merambat ke atas mengikuti kemiringan lereng, berbeda dengan kebakaran di Kalimantan yang, menurutnya, cenderung menjalar ke samping. Perbedaan arah rambatan tersebut memengaruhi cara petugas mengantisipasi perluasan api dan menentukan titik penanganan. Ketersediaan sumber air di sekitar lokasi juga terbatas, sehingga suplai untuk pemadaman tidak selalu mudah diperoleh. Kondisi itu membuat water bombing menjadi salah satu dukungan penting, meskipun operasi udara tetap perlu diselaraskan dengan penanganan dari darat agar air dapat diarahkan ke titik yang paling membutuhkan.

Selain pemadaman langsung, strategi penanganan dilakukan dengan membuat sekat untuk menahan api agar tidak meluas ke area lain. Petugas berupaya mengaktifkan kembali kanal-kanal alami di dalam hutan, yang dapat membantu menghambat pergerakan api apabila alirannya kembali berfungsi. Sebanyak 500 orang dikerahkan untuk membersihkan sampah yang menyumbat kanal. Pembersihan tersebut ditujukan agar aliran air dapat bergerak lebih lancar dan kanal berperan sebagai batas alami bagi rambatan api. Dengan dukungan helikopter, kerja petugas di lapangan, serta pemulihan fungsi kanal, upaya pengendalian dilakukan melalui kombinasi pemadaman dan pencegahan agar api tidak menyeberang ke kawasan hutan lain.

Menjelang musim tanam pada November, Dedi mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Imbauan ini ditujukan terutama kepada warga yang bersiap mengolah lahan sebelum masa tanam tiba. Menurut Dedi, membakar ilalang merupakan kebiasaan yang biasa dilakukan sebagian petani menjelang musim tanam. Namun, kebiasaan tersebut diminta untuk tidak dilakukan. Ia menegaskan bahwa pembukaan lahan tidak perlu dilakukan dengan membakar, khususnya ketika masyarakat mulai menyiapkan lahan untuk penanaman pada November.

Dedi menyampaikan bahwa pembakaran ilalang menjelang masa tanam memang dikenal sebagai praktik yang dilakukan oleh sebagian petani. Meski demikian, ia meminta agar praktik tersebut ditinggalkan saat masyarakat memasuki persiapan musim tanam. Pesan ini disampaikan agar warga tidak memilih pembakaran sebagai cara membuka lahan. Imbauan tersebut berlaku bagi masyarakat yang hendak menyiapkan lahan untuk kegiatan pertanian menjelang November. Dengan demikian, kebiasaan membakar ilalang yang biasa dilakukan sebagian petani tidak dilanjutkan dalam persiapan masa tanam kali ini.

Permintaan Dedi kepada masyarakat berfokus pada satu hal, yakni tidak membuka lahan dengan cara membakar menjelang musim tanam November. Ia mengakui bahwa sebagian petani biasa membakar ilalang sebelum masa tanam, tetapi meminta praktik itu tidak dilakukan. Warga yang akan mengolah lahan diharapkan memperhatikan imbauan tersebut ketika memasuki masa persiapan tanam. Dedi kembali menekankan agar pembakaran ilalang tidak menjadi pilihan untuk membuka lahan. Imbauan ini disampaikan menjelang November, saat sebagian petani biasanya mulai bersiap menghadapi musim tanam.

Baca juga: Bromo Kembali Dibuka untuk Wisatawan, Polres Probolinggo Beri Atensi Khusus Pencegahan Karhutla | Upaya Pemadaman Kebakaran di Puncak Setampol Gunung Rinjani | Pemadaman Lampu Serentak di Jakarta: Efek Positif untuk Lingkungan

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60