Pandangan Kritis terhadap Dampak Tambang di Indonesia

**Jacob Ereste: *Tambang Atau Tumbang???***

Jakarta, 13 Juni 2024 – Jacob Ereste, seorang intelektual yang dikenal dengan pandangan kritisnya terhadap industri tambang, mengangkat isu yang membingungkan: apakah tambang hanya tempat ekstraksi sumber daya atau justru menjadi akhir dari sebuah cerita yang tragis?

Dalam diskusinya, Ereste menjelaskan bahwa tambang bukan sekadar lubang di tanah untuk mengambil kekayaan alam. Ia menyoroti dampak yang terus menerus ditinggalkan setelah eksploitasi berakhir, seperti lahan terlantar dan lingkungan yang tercemar. “Ini bukan hanya masalah ekonomi, tetapi juga moral,” katanya.

Pemerintah baru-baru ini menawarkan lahan tambang bekas kepada organisasi keagamaan sebagai bagian dari upaya untuk mengelola kembali area yang terabaikan. Namun, reaksi dari berbagai ormas keagamaan tidaklah seragam. Banyak yang menolak tawaran ini dengan alasan bahwa risiko dan tanggung jawab yang terlibat terlalu besar untuk diemban.

Pertimbangan yang dipaparkan Ereste mencakup aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola yang baik. Ia menekankan perlunya menerapkan praktik pertambangan yang baik (good mining practices) serta prinsip ESG (environmental, social, governance) untuk meminimalkan dampak negatif dan memberikan kontribusi yang positif bagi masyarakat dan lingkungan.

Meskipun demikian, Ereste juga memperingatkan bahwa tantangan dalam mengelola tambang tidak bisa diabaikan. Dengan ekonomi rakyat yang tengah terpuruk, keputusan terkait pemanfaatan kembali lahan tambang bekas menjadi semakin penting dan menentukan bagi masa depan pembangunan nasional.

Diskusi ini diakhiri dengan puisi pendek dari Pemimpin Spiritual Nusantara, Sri Eko Sriyanto Galgendu, yang menguatkan pesan bahwa pemilihan antara “tambang” dan “tumbang” bukanlah sekadar soal ekonomi semata, tetapi juga tentang moralitas dan keberlanjutan.

*Ditulis oleh [Jacob Ereste]*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *