Pakar Jelaskan Alasan Alex Rins Tak Bisa Melanjutkan Perjalanan dengan Flying Marshal di Mandalika

Pakar Jelaskan Alasan Alex Rins Tak Bisa Melanjutkan Perjalanan dengan Flying Marshal di Mandalika
banner 468x60

Lombok | Insiden yang melibatkan pebalap Yamaha asal Spanyol, Alex Rins, menjadi perhatian setelah ia terlihat mengacungkan jari tengah di Sirkuit Mandalika, Lombok, pada Jumat (9/10). Sikap tersebut muncul ketika Rins tidak diperbolehkan melintas menggunakan motor flying marshal melalui jalur evakuasi. Peristiwa ini segera menimbulkan sorotan karena melibatkan pebalap MotoGP dan petugas yang bertugas di area sirkuit.

Jalur evakuasi merupakan bagian penting dari tata kelola keselamatan di lintasan. Karena itu, akses menuju area tersebut tidak dapat digunakan secara bebas, termasuk oleh pebalap yang hendak melanjutkan perjalanan dengan kendaraan petugas. Dalam kejadian ini, Rins disebut dihalangi ketika berusaha melewati jalur evakuasi dengan motor flying marshal. Ia kemudian memberikan gestur yang menuai perhatian dari publik dan memunculkan pembahasan mengenai keputusan petugas di lokasi.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Persoalan utama yang kemudian muncul bukan hanya mengenai gestur Rins, melainkan juga tindakan petugas yang menghalanginya. Publik mempertanyakan alasan Rins tidak diperbolehkan melintas dengan kendaraan tersebut serta mengapa ia tidak diantar hingga lokasi yang dituju. Pertanyaan itu menjadi penting untuk memahami penerapan prosedur di area sirkuit dan batas kewenangan petugas ketika membantu pebalap menggunakan motor flying marshal. Penjelasan dari pakar diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai keputusan tersebut, tanpa mengabaikan aturan keselamatan serta pengaturan akses di jalur evakuasi Sirkuit Mandalika.

Andhi Satria, mantan direktur utama Mandalika Grand Prix Association (MGPA) sekaligus pemilik lisensi Federasi Balap Motor Internasional (FIM), menilai tindakan flying marshal yang menghalangi jalan Alex Rins sudah sesuai dengan fungsi dan prosedur yang berlaku di area lintasan. Menurutnya, petugas tidak bertindak secara pribadi atau berdasarkan penilaian terhadap karakter maupun sikap pebalap tersebut.

Andhi menjelaskan bahwa marshal memiliki tanggung jawab untuk menangani pebalap yang mengalami kecelakaan, termasuk memastikan kondisi dan posisi pebalap sebelum ia kembali bergerak. Dalam situasi seperti itu, petugas dapat meminta pebalap berhenti atau mencegahnya melanjutkan perjalanan apabila langkah tersebut diperlukan untuk menjaga keselamatan serta kelancaran penanganan di lintasan.

Penilaian tersebut berkaitan dengan mekanisme operasional yang harus dijalankan marshal ketika terjadi insiden. Area lintasan memiliki risiko tinggi, sementara setiap keputusan setelah kecelakaan perlu mengikuti koordinasi dan tata kerja yang telah ditetapkan. Karena itu, tindakan menghalangi laju Rins dipandang sebagai bagian dari pelaksanaan tugas, bukan sebagai bentuk perselisihan petugas dan pebalap.

Andhi juga menekankan bahwa pemahaman terhadap peristiwa itu sebaiknya didasarkan pada peran marshal dalam prosedur keselamatan. Petugas berkewajiban memastikan situasi terkendali sebelum pebalap bergerak menuju lokasi lain, terutama ketika terdapat kemungkinan bahaya bagi pebalap, petugas, maupun pengguna lintasan lainnya. Dengan dasar tersebut, ia menilai keputusan marshal tidak semestinya dihubungkan dengan dugaan mengenai sikap Rins.

Keterangan resmi itu disampaikan Andhi pada Sabtu (10/10). Ia memberikan penjelasan berdasarkan tugas, kewenangan, dan prosedur operasional marshal dalam penanganan kecelakaan. Pernyataan tersebut tidak mengubah makna utama bahwa tindakan petugas dalam menghentikan atau mengarahkan pebalap merupakan bagian dari mekanisme keselamatan yang berlaku selama kegiatan balap berlangsung.

Kendaraan yang terlihat dalam video saat Alex Rins berada di lintasan Mandalika merupakan motor flying marshal, bukan moto taxi. Penjelasan ini disampaikan Andhi untuk meluruskan perbedaan fungsi kedua jenis kendaraan tersebut. Meskipun sama-sama digunakan dalam rangkaian operasional balapan dan dapat berinteraksi dengan pebalap, flying marshal serta moto taxi memiliki tugas yang berbeda. Penyebutan yang tepat penting agar situasi dalam video tidak dipahami secara keliru, terutama ketika kendaraan tersebut terlihat membawa atau mendampingi pebalap di area sirkuit.

Flying marshal bertugas membantu pengawasan dan penanganan kondisi di lintasan. Personel yang mengendarainya dapat bergerak menuju lokasi ketika terjadi insiden, termasuk saat pebalap terjatuh atau membutuhkan bantuan setelah keluar dari jalur balap. Kehadirannya menjadi bagian dari sistem keselamatan dan dukungan operasional selama perlombaan berlangsung. Kendaraan ini dirancang untuk menunjang respons cepat terhadap situasi di trek, sehingga perlengkapannya berkaitan dengan kebutuhan penanganan insiden, bukan semata-mata mengantar pebalap dari satu titik ke titik lain.

Sementara itu, moto taxi digunakan untuk membantu mengantar pebalap dari area tertentu menuju lokasi yang telah ditentukan. Perannya lebih berkaitan dengan transportasi pebalap setelah mereka meninggalkan lintasan atau membutuhkan perjalanan menuju area lain dalam kompleks sirkuit. Andhi juga menegaskan adanya petunjuk visual yang mendukung identifikasi kendaraan dalam video tersebut. Pada bagian belakang motor terlihat APAR atau alat pemadam api ringan. Perlengkapan itu lazim ditempatkan pada kendaraan yang mendukung pengawasan dan penanganan keadaan darurat di lintasan, sehingga semakin memperkuat bahwa motor tersebut adalah flying marshal, bukan moto taxi.

Dalam penanganan pebalap yang mengalami insiden di lintasan, flying marshal memiliki prosedur kerja yang berbeda dari kendaraan evakuasi utama. Petugas tersebut tidak bertugas mengantar pebalap hingga garasi, paddock, atau lokasi lain yang diinginkan. Menurut Andhi, flying marshal hanya membawa pebalap sampai titik transit kendaraan penjemputan yang sudah disiapkan oleh penyelenggara.

Titik transit itu berfungsi sebagai lokasi perpindahan. Setelah tiba di sana, pebalap dapat melanjutkan perjalanan menggunakan kendaraan lain sesuai kebutuhan evakuasi dan kondisi yang dihadapi. Pemisahan tahapan tersebut memungkinkan setiap petugas menjalankan fungsi masing-masing tanpa mengganggu pengamanan area lintasan maupun alur penanganan insiden.

Mekanisme ini bukan prosedur baru yang hanya diterapkan di Mandalika. Sistem serupa telah digunakan dalam berbagai kejadian sebelumnya dan menjadi bagian dari safety plan yang disepakati oleh race director. Rencana tersebut disusun untuk menangani beragam situasi, termasuk ketika pebalap harus segera dipindahkan dari area berbahaya, memerlukan pemeriksaan lebih lanjut, atau diarahkan menuju fasilitas tertentu.

Flying marshal juga tidak diperbolehkan meninggalkan area kerja yang telah ditentukan. Karena itu, kendaraan yang sedang berada di lintasan tidak otomatis bisa digunakan untuk mengantar pebalap sampai garasi atau paddock. Pergerakan kendaraan harus mengikuti batas tugas, jalur, dan koordinasi yang telah ditetapkan demi menjaga keselamatan seluruh pihak selama balapan berlangsung.

Penjelasan tersebut menegaskan bahwa proses evakuasi Alex Rins mengikuti pembagian tugas dalam prosedur operasional standar. Andhi menyebut setiap petugas telah menjalankan SOP masing-masing. Kendaraan yang terlihat dalam video memang hanya diperkenankan mengantar pebalap sampai titik transit car, yakni lokasi yang sebelumnya telah disetujui dan disiapkan oleh penyelenggara untuk mendukung proses pemindahan menuju kendaraan berikutnya.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60