Kenaikan IPH Menjangkau 309 Daerah, Pesisir Selatan Tertinggi di Sumbar

Kenaikan IPH Menjangkau 309 Daerah, Pesisir Selatan Tertinggi di Sumbar
banner 468x60

Kabupaten Pesisir Selatan | Badan Pusat Statistik mencatat Indeks Perkembangan Harga (IPH) mengalami kenaikan di 309 kabupaten/kota pada minggu keempat Oktober 2026. Catatan tersebut menunjukkan bahwa pergerakan harga yang tercermin dalam indeks meningkat di banyak wilayah pada periode pemantauan itu. Angka tersebut disampaikan Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, dalam rapat pengendalian inflasi daerah yang dipantau secara daring di Jakarta pada Senin. Penyampaian ini menjadi bagian dari pemantauan pemerintah terhadap perkembangan harga di berbagai daerah.

Sebaran kenaikan IPH memberi gambaran mengenai luasnya wilayah yang mencatat perubahan harga ke arah meningkat, tetapi tidak dengan sendirinya menjelaskan besarnya kenaikan di setiap kabupaten atau kota. Jumlah 309 merujuk pada daerah yang mengalami kenaikan, bukan ukuran tingkat kenaikan yang seragam. Karena itu, angka tersebut perlu dibaca sebagai gambaran cakupan perubahan, sementara kondisi masing-masing daerah dapat berbeda. Data agregat itu juga menjadi salah satu bahan untuk melihat dinamika harga secara kewilayahan dan mendukung pembahasan dalam forum pengendalian inflasi.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Dalam pemaparan BPS, perubahan pada pekan keempat Oktober ditempatkan dalam konteks perbandingan dengan perkembangan pada bulan sebelumnya. Perbandingan tersebut membantu melihat apakah arah pergerakan indeks pada periode terbaru berbeda dari pola yang tercatat sebelumnya. Namun, informasi yang disampaikan dalam catatan ini tidak memuat angka pembanding maupun rincian perubahan untuk bulan sebelumnya. Oleh sebab itu, tidak tepat untuk menyimpulkan besaran selisih atau perubahan laju kenaikan berdasarkan jumlah daerah saja. Pembacaan yang cermat perlu memisahkan jumlah wilayah yang mengalami kenaikan dari ukuran perubahan indeksnya.

Catatan mingguan tersebut menyediakan dasar bagi pemerintah daerah dan pemangku kepentingan untuk mencermati perkembangan harga di wilayah masing-masing. Perhatian dapat diarahkan pada kabupaten/kota yang mencatat kenaikan, sembari mempertimbangkan data pembanding dan informasi pendukung yang tersedia. Dengan pendekatan itu, angka sebaran dapat digunakan sebagai sinyal pemantauan, bukan sebagai penjelasan tunggal mengenai penyebab perubahan harga. BPS menyampaikan data tersebut dalam rapat pengendalian inflasi daerah, sehingga temuan mengenai perkembangan IPH dapat menjadi bahan pembahasan lebih lanjut dalam memantau kondisi harga secara terukur dan konsisten.

Sumatera Barat menjadi salah satu wilayah yang mencatat cukup banyak kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH). Dari enam kabupaten dan kota di provinsi tersebut yang mengalami peningkatan, Pesisir Selatan mencatat kenaikan tertinggi. Perkembangan ini menempatkan Sumatera Barat sebagai salah satu sorotan dalam pemantauan perubahan harga di berbagai daerah, terutama karena kenaikan tidak hanya terjadi di satu wilayah, tetapi tersebar di sejumlah kabupaten dan kota.

IPH Pesisir Selatan meningkat sebesar 5,68 persen. Angka tersebut diikuti Padang Pariaman dengan kenaikan 5,47 persen dan Agam sebesar 4,61 persen. Tiga daerah lainnya yang juga tercatat mengalami kenaikan adalah Payakumbuh, Tanah Datar, dan Sawahlunto. Meski persentase peningkatan untuk ketiga wilayah tersebut tidak dirinci dalam keterangan yang tersedia, catatan tersebut menunjukkan bahwa perubahan harga menjangkau berbagai bagian Sumatera Barat.

Di luar Sumatera Barat, sejumlah daerah lain di Pulau Sumatera turut melaporkan kenaikan IPH. Sarolangun di Provinsi Jambi mengalami kenaikan sebesar 5,64 persen, sementara Muaro Jambi tercatat meningkat 3,68 persen. Perbandingan angka ini memperlihatkan bahwa kenaikan di Pesisir Selatan menjadi yang paling besar di daerah-daerah yang disebutkan, dengan Sarolangun berada pada tingkat yang juga cukup tinggi.

Ateng menyebut Sumatera Barat menonjol dalam peningkatan IPH di Pulau Sumatera. Penilaian tersebut sejalan dengan banyaknya kabupaten dan kota di provinsi itu yang masuk dalam daftar daerah dengan kenaikan. Pesisir Selatan menjadi catatan utama, disusul Padang Pariaman dan Agam, sementara Payakumbuh, Tanah Datar, serta Sawahlunto melengkapi daftar tersebut. Sebaran ini penting diperhatikan dalam membaca dinamika harga regional, karena pergerakan IPH dapat berbeda antarwilayah. Data kenaikan pada tiap daerah memberi gambaran tentang luasnya perubahan yang terjadi, sekaligus menjadi bahan pemantauan bagi pemerintah dan pihak terkait. Dengan mencermati perkembangan di Sumatera Barat bersama angka dari Jambi, pembaca dapat melihat bahwa tekanan kenaikan harga tercatat di beberapa lokasi di Sumatera, dengan variasi besaran dan jangkauan wilayah.Di Pulau Jawa, kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) terutama tercatat di sejumlah wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan enam kabupaten/kota di Jawa Timur mengalami kenaikan, sedangkan di Jawa Tengah terdapat empat kabupaten/kota dengan kondisi serupa. Sebaran ini memperlihatkan bahwa perubahan harga tidak hanya terkonsentrasi di satu wilayah, tetapi muncul di beberapa daerah dalam kedua provinsi tersebut. Meski demikian, jumlah wilayah yang mengalami kenaikan tidak dengan sendirinya menunjukkan besarnya perubahan pada setiap daerah. Untuk memahami tekanan harga setempat, besaran kenaikan dan komoditas yang berkontribusi tetap perlu diperhatikan secara terpisah.

Di wilayah yang disebutkan, Kabupaten Blitar mencatat kenaikan IPH sebesar 3,04 persen, sementara Kabupaten Lamongan naik 2,61 persen. Keduanya berada di Jawa Timur dan menjadi contoh daerah dengan perubahan yang relatif menonjol dalam data yang tersedia. Di Jawa Tengah, Kabupaten Purbalingga mencatat kenaikan sebesar 2,30 persen. Angka-angka tersebut memberi gambaran mengenai variasi perubahan antardaerah, tetapi tidak mewakili seluruh kabupaten/kota yang mengalami kenaikan. Karena rincian untuk wilayah lainnya tidak dicantumkan dalam bahan sumber, perbandingan lebih luas mengenai besaran kenaikan di tiap daerah belum dapat disusun berdasarkan informasi ini saja.

Pada tingkat provinsi, Sumatera Barat, Kalimantan Utara, dan Sulawesi Barat dilaporkan mengalami kenaikan IPH di atas 3 persen. Sementara itu, Sulawesi Tengah, Jambi, Sulawesi Selatan, dan Maluku berada pada kisaran kenaikan 2 persen. Gambaran tersebut menempatkan beberapa provinsi di luar Pulau Jawa sebagai wilayah dengan perubahan harga yang perlu dicermati, sekaligus menunjukkan bahwa kenaikan terjadi di berbagai kawasan. Namun, bahan sumber tidak memberikan angka rinci untuk seluruh provinsi tersebut. Oleh sebab itu, persentase tepat masing-masing provinsi, periode pembanding, maupun rincian komoditas penyumbang kenaikan tidak dapat dipastikan dari informasi yang tersedia. Data yang lebih lengkap diperlukan agar besaran perubahan dapat dibandingkan secara setara dan dibaca dengan konteks wilayah yang memadai.

Kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) di berbagai daerah terutama berkaitan dengan perubahan harga cabai merah dan cabai rawit. Kedua komoditas tersebut menjadi pendorong penting karena pergerakan harganya tercatat berpengaruh di ratusan kabupaten dan kota. Cabai merah memengaruhi perubahan IPH di 327 kabupaten/kota, sedangkan cabai rawit berpengaruh di 269 kabupaten/kota. Luasnya sebaran pengaruh ini menunjukkan bahwa harga komoditas pangan tersebut masih menjadi faktor utama dalam dinamika harga daerah.

Selain cabai, daging ayam ras dan daging sapi turut memengaruhi perubahan harga di sejumlah wilayah. Beras juga berkaitan dengan kenaikan IPH di beberapa daerah. Kenaikan yang dipengaruhi beras tercatat di 138 kabupaten/kota, meningkat dibandingkan 134 kabupaten/kota pada minggu sebelumnya. Meski jumlah wilayah yang terdampak bertambah, beras bukan satu-satunya komoditas yang membentuk pergerakan indeks. Perubahan harga pangan lain, terutama cabai, tetap menjadi perhatian dalam membaca kondisi harga di tingkat lokal.

Di sisi lain, sejumlah komoditas berkaitan dengan penurunan IPH. Bawang merah berpengaruh terhadap penurunan di 187 kabupaten/kota, sementara bawang putih terkait dengan penurunan di 183 kabupaten/kota. Penurunan terdalam tercatat di Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, sebesar 5,23 persen.

Baca juga: Kenaikan Harga Emas Antam Terus Berlanjut

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60