Pada tanggal 6 September 2026, warga Kelurahan Jambangan, yang berada di Kecamatan Jambangan, Kota Surabaya, mulai mengungkapkan kekhawatiran mereka terkait kualitas air yang disuplai oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Banyak penduduk melaporkan bahwa air yang keluar dari keran tampak keruh, memiliki bau tidak sedap, dan dalam beberapa kasus, bahkan tidak layak untuk digunakan. Kondisi ini telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat tentang dampak yang mungkin ditimbulkan terhadap kesehatan dan kebersihan.
Beberapa warga mengaku telah mengalami masalah kesehatan, seperti gangguan pencernaan dan iritasi kulit, yang mereka yakini berkaitan dengan penggunaan air PDAM yang bermasalah. Selain itu, kualitas air yang buruk ini mempengaruhi kegiatan sehari-hari mereka, termasuk memasak, mencuci, dan kebutuhan higienis lainnya. Dengan begitu banyaknya keluhan yang disampaikan, masyarakat mengharapkan adanya perhatian dari pihak berwenang untuk segera menyelesaikan permasalahan ini.
Situasi ini menyoroti pentingnya pengelolaan sumber daya air yang berkualitas, terutama dalam konteks penyediaan air bersih bagi masyarakat. Sebagai salah satu komponen vital dalam kehidupan sehari-hari, kualitas air sangat berpengaruh terhadap kesehatan dan kesejahteraan penduduk. Oleh karena itu, respons yang cepat dan tepat dari PDAM serta instansi terkait sangat diharapkan agar warga Jambangan tidak terus-menerus menghadapi masalah kualitas air yang merugikan ini.
Fery Joedy Eko Purnomo, seorang penduduk berusia 57 tahun dari Jambangan, Surabaya, baru-baru ini merasakan dampak langsung dari permasalahan kualitas air yang dikelola oleh PDAM. Pada malam sebelum wawancara, ia menemukan bahwa air yang mengalir dari keran rumahnya tampak keruh dan tidak layak konsumsi. Hal ini menjadi lebih mencolok ketika ia menggunakan air tersebut untuk keperluan sehari-hari, seperti mencuci dan memasak.
Keluhan ini bukanlah pengalaman pribadi Fery saja, melainkan mencerminkan suara warga lain yang juga mengalami situasi serupa. Sejumlah penduduk di sekitar Jambangan melaporkan masalah serupa dengan kualitas air yang diperoleh dari PDAM. Mereka mencatat bahwa air keruh yang keluar dari keran tampaknya bukan hanya menjadi masalah yang sporadis, tetapi menunjukkan pola yang bertahan dalam beberapa waktu terakhir. Dalam diskusi dengan tetangga, beberapa dari mereka bercerita tentang bagaimana kondisi air yang tidak baik ini bahkan memengaruhi kesehatan keluarga mereka, menyebabkan keluhan seperti gatal-gatal dan ketidaknyamanan.
Warga pun telah mencoba menghubungi pihak PDAM untuk mengekspresikan keluhan mereka. Beberapa di mereka merasa frustrasi ketika tanggapan yang diterima tidak memadai, dan keluhan mereka tidak ditanggapi dengan serius. Hal ini menimbulkan ketidakpuasan dan kekhawatiran mengenai kualitas air yang seharusnya menjadi hak dasar setiap warga. Dalam beberapa kesempatan, Fery dan beberapa warga lainnya berkumpul untuk mendiskusikan langkah-langkah yang bisa diambil. Mereka mulai mempertimbangkan untuk mengajukan petisi resmi atau tindakan kolektif lainnya untuk mendesak agar pihak berwenang memperhatikan dan menangani masalah yang ada.
Kisah Fery Joedy Eko Purnomo dan rekan-rekannya menjadi gambaran bagaimana masalah kualitas air PDAM tidak hanya berdampak pada individu, tetapi memiliki resonansi yang lebih besar dalam komunitas. Dengan keterlibatan lebih banyak warga, harapannya adalah agar perhatian yang lebih serius dapat diberikan kepada isu kritis ini dan diusut tuntas bersama oleh pihak berwenang.
Perubahan mendadak dalam kualitas air PDAM yang dirasakan oleh warga Jambangan Surabaya dapat disebabkan oleh sejumlah faktor. Salah satunya adalah adanya kontaminasi yang terjadi selama proses pengolahan atau distribusi air. Beberapa bahan kimia yang sering terlibat dalam masalah ini adalah klorin dan kaporit, yang digunakan sebagai agen desinfektan untuk membunuh bakteri dan mikroorganisme berbahaya dalam air. Meskipun bermanfaat, penggunaan kaporit yang berlebihan dapat menciptakan rasa dan bau yang tidak sedap, serta dapat menyebabkan air menjadi keruh.
Selain itu, sumber-sumber kontaminasi lain seperti limbah domestik, industri, atau bahkan kebocoran pipa juga dapat memberi kontribusi terhadap penurunan kualitas air. Ketika air PDAM mengalir melalui pipa-pipa yang sudah tua atau rusak, akan ada kemungkinan terjadinya pencemaran dari partikel-partikel yang terdapat di dalam pipa. Proses pengendapan dan penumpukan sedimen juga dapat menyebabkan air menjadi keruh.
Faktor lingkungan juga tidak bisa diabaikan. Hujan deras dan banjir dapat membawa berbagai bahan pencemar dari permukaan tanah, sehingga saat air hujan tersebut masuk ke dalam sistem penyimpanan air, hal ini juga bisa mempengaruhi kualitasnya. Akibatnya, air yang diterima oleh warga mungkin tidak memenuhi standar kebersihan yang diharapkan. Oleh karena itu, pemantauan secara rutin dan sistem pemeliharaan yang baik sangat penting untuk memastikan kualitas air PDAM tetap terjaga.
Keluhan mengenai kualitas air dari PDAM Surya Sembada Surabaya tidak hanya didengar, namun juga direspon oleh berbagai kalangan masyarakat. Warga Jambangan, sebagai salah satu daerah yang rutin mengalami masalah dengan air bersih, telah meluangkan waktu untuk menyampaikan pendapat dan harapan mereka terkait situasi ini. Mereka mengharapkan agar PDAM dapat memberikan solusi yang lebih efektif terhadap masalah kualitas air yang sudah berlangsung lama.
Banyak dari warga yang merasa khawatir dengan dampak kualitas air yang buruk terhadap kesehatan mereka dan keluarga. Terutama, anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan dengan adanya kontaminasi air. Masyarakat berharap PDAM Surya Sembada segera memperbaiki sistem pengolahan air agar kandungan berbahaya dapat diminimalisir. Penyelenggaraan program sosialisasi mengenai pentingnya menjaga kualitas air juga merupakan harapan warga yang ingin dilakukan oleh PDAM.
Selain itu, warga juga menyoroti pentingnya komunikasi yang baik PDAM dan masyarakat. Mereka berharap agar PDAM lebih transparan mengenai status perbaikan kualitas air, serta menginformasikan langkah-langkah yang diambil untuk mengatasi permasalahan ini. Harapan ini muncul karena warga merasa sering kali tidak mendapatkan informasi yang jelas mengenai apa yang sedang dilakukan untuk meningkatkan layanan air bersih.
Dalam pandangan masyarakat, perbaikan kualitas air bukan hanya menjadi kebutuhan dasar, tetapi juga merupakan hak mereka. Sehingga, apabila hak ini terabaikan, rasa kepercayaan terhadap PDAM pun berkurang. Dengan demikian, tindakan nyata dari PDAM untuk memperbaiki kualitas air sangat diharapkan agar situasi dapat kembali ke kondisi yang normal dan tidak merugikan masyarakat Jambangan.














