Jakarta | Katie Zacharia, sekretaris pers Gedung Putih yang baru ditunjuk Presiden Amerika Serikat Donald Trump, mengakui pernah gagal dalam ujian profesi advokat. Pengakuan itu disampaikan dalam wawancara Fox News pada Kamis, 15 Oktober 2026. Saat berbincang dengan pembawa acara Sean Hannity, Zacharia menjawab “ya” ketika ditanya apakah ia pernah mengikuti ujian tersebut dan tidak lulus. Pernyataan singkat itu segera menarik perhatian karena kualifikasi profesionalnya tengah menjadi sorotan publik.
Dalam percakapan tersebut, Hannity mengajukan pertanyaan secara langsung mengenai pengalaman Zacharia mengikuti ujian advokat. Ia tidak menguraikan lebih jauh dalam jawaban itu kapan ujian berlangsung, berapa kali ia mengikutinya, atau apa hasil dari upaya lain, jika ada. Karena itu, pengakuannya menegaskan bahwa ia pernah gagal, tetapi tidak dengan sendirinya menjelaskan keseluruhan riwayat pendidikan, pelatihan, maupun status profesionalnya. Detail-detail tersebut perlu dipisahkan dari jawaban yang disampaikan dalam wawancara agar cakupan informasi yang tersedia tetap jelas.
Pengakuan itu muncul di tengah perhatian terhadap penyebutan dirinya sebagai pengacara. Zacharia beberapa kali menggunakan sebutan tersebut, sehingga riwayat ujian advokat menjadi relevan bagi publik yang ingin memahami dasar klaim dan kualifikasinya. Kegagalan dalam ujian pada suatu kesempatan, secara tersendiri, tidak menjelaskan apakah seseorang kemudian menempuh ujian kembali atau memperoleh izin praktik; informasi demikian memerlukan keterangan tambahan. Wawancara tersebut dengan demikian menghadirkan fakta terbatas: Zacharia membenarkan pernah gagal, sementara rincian lain belum dijelaskan dalam jawaban yang dikutip. Sorotan terhadap perkara ini terutama berkaitan dengan konsistensi gelar profesional yang digunakan dan keterangan mengenai proses memperoleh kualifikasi sebagai advokat.
Katie Zacharia menyelesaikan pendidikan hukum di Pepperdine University pada 2011. Namun, kelulusan dari fakultas hukum tidak dengan sendirinya menjadikan seseorang berlisensi untuk berpraktik sebagai pengacara. Di Amerika Serikat, lulusan umumnya perlu memenuhi persyaratan profesi yang berlaku, termasuk lulus ujian advokat di yurisdiksi terkait, sebelum dapat memberikan layanan hukum dalam kapasitas tersebut. Perbedaan gelar akademik dan izin praktik ini menjadi penting di tengah sorotan terhadap klaim Zacharia sebagai pengacara. Riwayat pendidikannya menunjukkan bahwa ia menempuh pendidikan hukum, tetapi tidak otomatis membuktikan bahwa ia memperoleh lisensi untuk menjalankan praktik hukum. Dalam wawancara terpisah, Zacharia sendiri menyampaikan bahwa ia pernah mendaftar untuk mengikuti ujian advokat, tetapi tidak berhasil melewatinya.
Dalam wawancara dengan media konservatif Real America’s Voice, Zacharia menjelaskan bahwa saat itu ia merasa “terganggu dan kewalahan” menghadapi rencana pindah ke China bersama suaminya. Keadaan tersebut, menurut penuturannya, memengaruhi fokusnya ketika menghadapi ujian. Ia juga mengatakan bahwa hasil ujian itu tidak terlalu penting baginya, karena ia memperkirakan tidak akan membutuhkan lisensi advokat setelah tinggal di China. Pernyataan tersebut menggambarkan alasan pribadi yang ia sampaikan, bukan keterangan mengenai ketentuan lisensi di negara tujuan. Zacharia mengakui bahwa ia tidak pernah mencoba mengikuti ujian tersebut lagi. Karena itu, berdasarkan penuturannya, upaya yang ia lakukan berhenti pada pendaftaran ujian yang tidak berujung pada kelulusan, tanpa percobaan ulang untuk memperoleh izin praktik.
Zacharia turut menjelaskan konteks keluarganya pada masa tersebut. Ia mengatakan memiliki empat anak dalam kurun enam tahun, suatu periode yang menurut keterangannya menyita perhatian dan waktu. Ia juga menyebut bahwa sejak awal tidak berniat menjalani praktik hukum, meskipun telah menempuh pendidikan di bidang itu. Penjelasan ini membantu membedakan latar akademik, proses memperoleh lisensi, dan pilihan karier yang ia buat. Dengan demikian, gelar hukum dari Pepperdine pada 2011 merupakan bagian dari rekam pendidikannya, sedangkan status berlisensi memerlukan bukti kelulusan ujian serta pemenuhan persyaratan profesi yang berlaku. Keterangan Zacharia mengenai rencana pindah, tanggung jawab keluarga, dan minat karier merupakan alasannya sendiri atas keputusan untuk tidak mengulang ujian advokat. Semua unsur tersebut perlu dipahami secara terpisah saat menilai latar pendidikan dan klaim profesionalnya.
Katie Zacharia pernah mencantumkan jabatan penasihat hukum umum di sebuah organisasi nirlaba konservatif yang berbasis di California. Penyebutan jabatan tersebut menjadi bagian dari sorotan terhadap klaimnya sebagai pengacara, terutama setelah ia mengakui tidak lulus ujian advokat. Namun, Zacharia menyatakan bahwa ia mendapat keyakinan dari sejumlah orang di bidang hukum bahwa dirinya dapat menyebut diri sebagai pengacara karena memiliki gelar hukum dan pengalaman profesional yang relevan.
Pengalaman yang ia kemukakan mencakup pekerjaan di bidang hukum bisnis ketika bekerja di sebuah firma hukum di Beijing. Menurut penjelasannya, kombinasi pendidikan dan pengalaman itu membuatnya percaya bahwa penggunaan sebutan tersebut dapat dibenarkan. Ia juga membedakan pekerjaan yang dapat dilakukannya dari praktik hukum yang memerlukan kewenangan sebagai advokat. Batas yang ia nyatakan sendiri adalah bahwa ia dapat memberikan “analisis hukum, bukan nasihat hukum”. Pernyataan itu menunjukkan bagaimana Zacharia menggambarkan lingkup kontribusinya, tetapi tidak dengan sendirinya menjawab apakah penggunaan gelar atau jabatan tersebut sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Persoalan itu kemudian memicu tanggapan dari Campaign for Accountability, organisasi yang berfokus pada akuntabilitas dan etika politik. Pada Rabu, kelompok tersebut mendesak Asosiasi Pengacara California untuk menyelidiki perkara itu. Desakan tersebut menempatkan klaim mengenai status profesional Zacharia dalam kerangka pemeriksaan resmi, bukan semata-mata perdebatan tentang pilihan kata atau cara seseorang menjelaskan latar belakangnya.
Campaign for Accountability menyatakan bahwa di California, mengaku sebagai pengacara tanpa memiliki lisensi dapat merupakan tindak pidana. Dengan demikian, menurut organisasi itu, persoalan tersebut berpotensi melampaui klaim yang berlebihan dalam biografi atau profil profesional. Penentuan apakah aturan telah dilanggar tetap memerlukan penelaahan oleh pihak berwenang terhadap fakta, pernyataan, dan konteks penggunaannya. Desakan pemeriksaan itu tidak berarti bahwa pelanggaran telah terbukti; proses penyelidikan diperlukan untuk menilai apakah tindakan yang dipersoalkan memenuhi unsur hukum. Hingga ada hasil pemeriksaan, perbedaan gelar hukum, pengalaman kerja, dan lisensi untuk berpraktik tetap menjadi inti pertanyaan publik mengenai klaim Zacharia.
Kontroversi mengenai pengakuan Katie Zacharia bahwa ia gagal dalam ujian advokat muncul ketika ia mulai menjalankan tugas barunya sebagai sekretaris pers Gedung Putih. Penunjukan tersebut menempatkannya di pusat komunikasi pemerintahan dan membuat latar belakang profesionalnya mendapat perhatian publik. Dalam peran itu, Zacharia bertanggung jawab menyampaikan informasi kepada wartawan serta menjawab pertanyaan mengenai agenda dan kebijakan pemerintah. Karena itu, pembahasan tentang klaimnya sebagai pengacara dan hasil ujian advokat berlangsung beriringan dengan sorotan terhadap penampilannya di hadapan pers. Namun, kedua hal tersebut tetap merupakan aspek berbeda dari perhatian publik terhadap pejabat baru itu.
Zacharia memimpin pengarahan pers pertamanya di Gedung Putih pada Selasa, 13 Oktober 2025. Sesi pembuka tersebut berlangsung singkat dan hanya mencakup pertanyaan dari tiga jurnalis. Jumlah pertanyaan yang terbatas membuat pengarahan itu menjadi pengenalan awal, bukan kesempatan panjang untuk membahas berbagai isu yang mungkin menarik perhatian media. Meski demikian, penampilan perdana itu berlangsung dalam suasana ketika profil dan riwayat Zacharia sedang menjadi bahan pembicaraan. Perhatian terhadap pengalaman profesionalnya turut memberi konteks pada tugas barunya, meskipun pengarahan tersebut sendiri memiliki cakupan yang terbatas.
Dalam posisi itu, Zacharia menggantikan Karoline Leavitt, yang mengundurkan diri pada Agustus untuk merawat anak-anaknya yang masih kecil. Leavitt dikenal sebagai pendukung Trump dan kerap bersikap konfrontatif ketika menjawab pertanyaan wartawan. Riwayat tersebut membentuk gambaran tentang pendekatan yang pernah terlihat dalam pengarahan pers Gedung Putih, sekaligus menjadi pembanding bagi penampilan awal Zacharia.
Baca juga: Mengungkap Sosok Anthony Xie di Tengah Sorotan Gugatan Cerai | Sorotan Pembatalan Konser Juicy Luicy akibat Biaya Kelebihan Bagasi | Kenaikan Harga Bahan Pokok Menjadi Sorotan di Awal September















