Samarinda | Sejumlah wilayah di Kalimantan Timur menghadapi kekeringan ekstrem dan kebakaran hutan serta lahan dalam sebulan terakhir. Curah hujan yang sangat rendah membuat tanah kehilangan kelembapan, sementara vegetasi yang mengering mudah terbakar. Asap dari titik-titik kebakaran turut mengganggu aktivitas masyarakat dan memperburuk kondisi lingkungan, terutama di kawasan yang sejak awal mengalami keterbatasan air.
Fenomena El Nino menjadi salah satu faktor yang memperpanjang periode kering tersebut. Debit Sungai Mahakam dilaporkan menyusut drastis, begitu pula permukaan air di Danau Melintang, Danau Jempang, dan Danau Semayang. Penyusutan badan air ini tidak hanya mengubah bentang alam, tetapi juga memengaruhi jalur transportasi, ketersediaan air, serta kegiatan ekonomi warga yang bergantung pada ekosistem sungai dan danau.
Dampak paling terasa terlihat di kawasan Danau Kaskade Mahakam. Nelayan di Kecamatan Muara Wis, Kutai Kartanegara, mengeluhkan penurunan hasil tangkapan ikan karena air yang semakin dangkal membatasi ruang gerak perahu dan mengubah habitat ikan. Mereka harus menempuh jarak lebih jauh untuk mencari lokasi penangkapan, dengan waktu dan biaya operasional yang meningkat. Situasi tersebut berisiko menekan pendapatan rumah tangga nelayan apabila berlangsung lebih lama.
Kondisi serupa terlihat di Danau Jempang, Kutai Barat. Di sejumlah bagian, permukaan air surut hingga dasar danau mengering dan dapat dilintasi sepeda motor. Pemandangan itu menunjukkan besarnya tekanan hidrologis yang sedang terjadi di Kalimantan Timur. Kekeringan juga meningkatkan potensi kebakaran di lahan gambut dan semak, sehingga penanganan bencana menjadi semakin kompleks. Gambaran lapangan ini menjadi konteks penting untuk memahami perkembangan ekonomi daerah, termasuk perubahan angka inflasi pada periode yang sama.
Inflasi Kalimantan Timur pada Agustus 2026 tercatat sebesar 0,10 persen secara bulanan. Angka tersebut berdasarkan data resmi Bank Indonesia dan menunjukkan bahwa laju kenaikan harga di provinsi ini melandai dibandingkan bulan sebelumnya. Pada Juli 2026, inflasi bulanan Kaltim berada pada level 0,18 persen. Dengan demikian, terdapat penurunan laju inflasi sebesar 0,08 poin persentase dari Juli ke Agustus.
Angka 0,10 persen perlu dipahami sebagai hasil bersih dari pergerakan berbagai komponen harga, bukan sebagai tanda bahwa seluruh barang dan jasa mengalami penurunan harga. Pada periode yang sama, sebagian komponen tetap mengalami kenaikan dan memberikan tekanan terhadap inflasi. Sementara itu, komponen lain mencatat deflasi atau penurunan harga, sehingga secara keseluruhan mampu menahan laju kenaikan indeks harga konsumen.
Perbedaan arah pergerakan antarkomponen tersebut membuat angka inflasi bulanan menjadi ukuran gabungan atas kondisi harga di masyarakat. Karena itu, inflasi yang lebih rendah pada Agustus tidak serta-merta berarti semua kebutuhan rumah tangga menjadi lebih murah. Sebagian harga mungkin meningkat, tetapi kenaikannya dapat diimbangi oleh penurunan harga pada kelompok pengeluaran lain. Pembacaan data secara menyeluruh diperlukan untuk melihat komoditas mana yang menjadi penyumbang inflasi dan mana yang memberikan kontribusi deflasi.
Perlambatan dari 0,18 persen pada Juli menjadi 0,10 persen pada Agustus menjadi indikator bahwa tekanan harga secara agregat lebih terkendali. Namun, perkembangan tersebut tetap perlu dipantau bersama faktor musiman, kondisi pasokan, distribusi barang, serta dampak kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan. Faktor-faktor tersebut dapat memengaruhi ketersediaan komoditas dan biaya logistik pada bulan berikutnya. Data Bank Indonesia memberikan gambaran umum mengenai arah inflasi Kaltim, sedangkan rincian kontribusi setiap kelompok barang membantu menjelaskan dinamika harga secara lebih spesifik.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Timur, Jajang Hermawan, mengonfirmasi bahwa inflasi di Kalimantan Timur mulai melandai. Pernyataan tersebut disampaikan saat dirinya meninjau panen raya demonstration plot padi dengan metode Low External Input Sustainable Agriculture (LEISA) di Gapoktan Mandiri, Kecamatan Anggana, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kamis, 10 September 2026.
Kegiatan tersebut menempatkan penguatan sektor pertanian sebagai perhatian utama. Penerapan metode LEISA dalam demonstration plot padi menjadi bagian dari upaya mendorong produktivitas lahan sekaligus mendukung pemberdayaan petani. Dalam peninjauan itu, pembahasan diarahkan pada hasil panen, pengelolaan tanah, dan upaya meningkatkan kemampuan lahan agar dapat memberikan hasil yang lebih baik.
Saat dimintai tanggapan mengenai dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terhadap perekonomian, Jajang tidak memberikan jawaban langsung mengenai persoalan tersebut. Ia mengarahkan pembahasan pada pemberdayaan petani serta peningkatan produktivitas lahan melalui kegiatan pertanian yang sedang ditinjau.
Jajang menegaskan bahwa persoalan karhutla tidak dibahas dalam momen tersebut karena fokus kegiatan adalah peningkatan produktivitas tanah. Dengan demikian, penyampaian Bank Indonesia pada kesempatan itu berkaitan dengan penguatan kegiatan pertanian, penerapan metode budidaya, serta dukungan terhadap petani di wilayah Anggana.
Konfirmasi mengenai inflasi yang melandai disampaikan dalam rangkaian kunjungan tersebut, tanpa mengaitkan secara langsung kondisi karhutla dengan angka inflasi maupun dampak ekonominya. Pembahasan tetap berfokus pada agenda panen raya dan langkah peningkatan produktivitas lahan melalui demonstration plot padi metode LEISA di Gapoktan Mandiri.
Menurut Jajang, produktivitas pertanian merupakan salah satu unsur penting dalam menjaga kecukupan pangan di daerah. Hasil pertanian yang baik membantu memastikan ketersediaan komoditas bagi masyarakat, baik melalui produksi lokal maupun kesinambungan distribusi ke berbagai wilayah. Ketersediaan tersebut berkaitan dengan dinamika harga pangan, yang pada akhirnya menjadi bagian dari perkembangan inflasi daerah. Karena itu, penguatan sektor pertanian dipandang tidak hanya berhubungan dengan kesejahteraan petani, tetapi juga mendukung stabilitas ekonomi secara lebih luas.
Jajang menekankan bahwa produksi yang terjaga dapat membantu memenuhi kebutuhan pangan masyarakat secara berkelanjutan. Ketika pasokan tersedia dan distribusi berjalan lancar, tekanan terhadap harga komoditas pangan dapat dikelola dengan lebih baik. Kondisi ini menjadi salah satu pertimbangan dalam upaya pengendalian inflasi, terutama karena perubahan harga pangan dapat memengaruhi daya beli rumah tangga. Pemantauan terhadap produksi, pasokan, dan kelancaran distribusi pun perlu dilakukan secara berkelanjutan.
Dalam menghadapi tantangan ketahanan pangan, termasuk kondisi karhutla yang masih berlangsung, Bank Indonesia Kalimantan Timur terus berkoordinasi dengan kementerian terkait dan pemerintah daerah. Koordinasi tersebut diarahkan untuk memperkuat langkah pemantauan serta menjaga ketersediaan pangan di daerah. Kerja sama lintas lembaga diperlukan agar kebijakan dan tindakan di lapangan dapat berjalan selaras, mulai dari pengamanan pasokan hingga dukungan terhadap kelancaran distribusi komoditas strategis.
Jajang menyampaikan bahwa upaya menjaga produktivitas pertanian dan keberlanjutan pasokan tetap menjadi bagian dari perhatian dalam pengendalian inflasi. Secara keseluruhan, inflasi Kalimantan Timur masih berada dalam kisaran sasaran yang telah ditetapkan Bank Indonesia.
















