Gus Ipul Pastikan Penyelesaian Dapur SRT 3 Sulsel untuk Dukung Makanan Bergizi

Gus Ipul Pastikan Penyelesaian Dapur SRT 3 Sulsel untuk Dukung Makanan Bergizi
banner 468x60

MAKASSAR, SULAWESI SELATAN — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 5 Oktober 2026, Menteri Sosial Saifullah Yusuf, yang akrab disapa Gus Ipul, meninjau dapur Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 3 Sulawesi Selatan di Kota Makassar pada Minggu, 4 Oktober 2026. Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan seluruh fasilitas pendukung telah dipersiapkan secara optimal sebelum kegiatan operasional berjalan sepenuhnya. Pemeriksaan mencakup kondisi ruang dapur, kelengkapan peralatan, alur kerja, serta kesiapan sarana yang akan digunakan untuk menyediakan makanan bergizi bagi para siswa.

Dapur SRT 3 memiliki peran penting dalam mendukung pemenuhan kebutuhan nutrisi peserta didik selama mengikuti proses pembelajaran. Karena itu, kesiapan fasilitas tidak hanya dilihat dari ketersediaan bangunan dan peralatan, tetapi juga dari aspek kebersihan, keamanan pangan, efisiensi pengolahan, serta pengaturan distribusi makanan. Gus Ipul menekankan pentingnya memastikan setiap tahapan berlangsung sesuai standar agar makanan yang disajikan memenuhi kebutuhan gizi dan aman dikonsumsi oleh siswa Sekolah Rakyat.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Dalam peninjauan tersebut, Gus Ipul didampingi Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin. Keduanya melihat langsung perkembangan penyelesaian dapur sekaligus berdiskusi mengenai berbagai kebutuhan yang masih harus dituntaskan. Konsultan dapur, Syahrudin Hamun atau Udhi, turut terlibat memberikan penjelasan teknis terkait desain, tata letak, dan kesiapan operasional fasilitas. Pendampingan tersebut membantu mengidentifikasi bagian yang perlu segera diselesaikan, sehingga dapur SRT 3 dapat berfungsi secara efektif untuk mendukung penyediaan makanan bergizi secara berkelanjutan.

Gus Ipul meninjau langsung berbagai bagian Dapur SRT 3 Sulsel untuk memastikan kesiapan fasilitas dalam mendukung penyediaan makanan bergizi. Peninjauan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari area penyiapan bahan hingga bagian akhir proses operasional dapur. Setiap ruang diperiksa untuk melihat kesesuaian fungsi, kesiapan sarana, serta pekerjaan yang masih perlu dituntaskan sebelum dapur digunakan secara optimal.

Area yang ditinjau meliputi tempat penyiapan bahan, ruang racik, dan area memasak. Gus Ipul juga melihat cold storage yang akan digunakan untuk mendukung penyimpanan bahan pangan, area pemorsian, serta tempat pencucian peralatan makan. Rangkaian pemeriksaan tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan alur kerja dapur dapat berjalan tertib, higienis, dan mendukung proses penyediaan makanan bergizi secara berkelanjutan.

Dari hasil pemeriksaan, sejumlah pekerjaan instalasi masih berada dalam tahap penyelesaian. Pekerjaan tersebut mencakup pemasangan instalasi kompor, jaringan gas, serta beberapa peralatan pendukung lainnya. Kondisi itu menjadi perhatian karena kelengkapan instalasi diperlukan agar seluruh bagian dapur dapat berfungsi sesuai peruntukannya dan siap menunjang kegiatan operasional.

Gus Ipul mengarahkan agar seluruh instalasi yang belum selesai segera dirampungkan dalam waktu dekat. Arahan tersebut disampaikan untuk menjaga kesesuaian proses penyelesaian dengan kebutuhan operasional Dapur SRT 3 Sulsel. Dalam kesempatan itu, Udhi menyatakan kesanggupannya memenuhi target penyelesaian pada 6 Oktober 2026. “Saya minta seluruh instalasi dirampungkan dalam waktu dekat, dan Udhi menyanggupi target penyelesaian pada 6 Oktober 2026,” ujar Gus Ipul.

Fasilitas dapur SRT 3 Sulsel dirancang sebagai ruang pendukung yang mengakomodasi seluruh alur penyediaan makanan, dari tahap awal hingga makanan siap disajikan. Rancangan tersebut menempatkan setiap proses dalam satu rangkaian yang saling terhubung, sehingga kebutuhan penanganan bahan dan makanan dapat ditopang oleh fasilitas yang sesuai. Keberadaan dapur ini menjadi bagian penting dari upaya menyediakan makanan bergizi bagi siswa Sekolah Rakyat, dengan proses kerja yang disusun berdasarkan tahapan penyediaan makanan.

Alur pengolahan dimulai dari penyimpanan bahan baku sebagai tahap awal sebelum bahan digunakan. Setelah itu, bahan dapat melalui proses penyiapan dan pencacahan, kemudian dilanjutkan dengan peracikan sesuai kebutuhan pengolahan makanan. Pembagian tahapan tersebut menunjukkan bahwa dapur tidak hanya berfungsi sebagai tempat memasak, tetapi juga mendukung persiapan bahan secara menyeluruh. Setiap bagian fasilitas diarahkan untuk menunjang kesinambungan proses dari bahan baku hingga menjadi makanan.

Tahap berikutnya adalah pengolahan makanan, yang menjadi bagian utama dalam rangkaian kerja dapur. Setelah makanan selesai diolah, proses dilanjutkan dengan pemorsian agar makanan dapat dipersiapkan untuk penerima manfaat. Tahapan terakhir berupa penyajian melengkapi alur tersebut. Dengan susunan fasilitas yang mencakup penyimpanan, penyiapan, pencacahan, peracikan, pengolahan, pemorsian, dan penyajian, dapur disiapkan untuk mendukung penyediaan makanan bergizi secara terarah bagi siswa Sekolah Rakyat.

Operasional dapur nantinya akan melibatkan sekitar 18 personel Taruna Siaga Bencana atau Tagana. Keterlibatan personel tersebut menjadi dukungan penting dalam menjalankan rangkaian kegiatan di dapur, sesuai dengan pembagian tahapan penyediaan makanan yang telah dirancang. Kehadiran fasilitas dan personel secara bersamaan diharapkan membantu memastikan dapur dapat menjalankan fungsinya sebagai pendukung penyediaan makanan bergizi bagi siswa Sekolah Rakyat.

Gus Ipul mendorong agar lingkungan Sekolah Rakyat tidak hanya dipandang sebagai tempat berlangsungnya kegiatan belajar mengajar. Area sekolah perlu dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan produktif yang dapat memberikan manfaat langsung bagi warga sekolah, terutama dalam mendukung pemenuhan kebutuhan pangan. Menurutnya, pemanfaatan lahan dan fasilitas yang tersedia secara terencana dapat membangun kemandirian sekaligus menanamkan keterampilan praktis kepada peserta didik.

Salah satu contoh yang disampaikan ialah budidaya ikan lele. Kegiatan tersebut dapat dikembangkan di lingkungan sekolah dengan menyesuaikan luas lahan, ketersediaan air, serta kemampuan pengelola. Selain menghasilkan sumber pangan, budidaya lele berpotensi menjadi sarana pembelajaran mengenai perencanaan usaha, perawatan hewan, pengelolaan pakan, hingga pemanfaatan hasil panen. Peserta didik juga dapat memahami bahwa kebutuhan sehari-hari bisa dipenuhi melalui proses yang dimulai dari lingkungan terdekat.

Gus Ipul menekankan bahwa pasokan bahan baku harus dimiliki sendiri. Pesan ini menunjukkan pentingnya membangun sistem penyediaan pangan yang tidak sepenuhnya bergantung pada pihak luar. Apabila sekolah mampu memproduksi sebagian bahan pangan, ketersediaan bahan untuk mendukung makanan bergizi dapat lebih terjaga. Langkah tersebut juga memungkinkan pengelola melakukan pengawasan terhadap kualitas, kebersihan, dan kesinambungan pasokan.

Gagasan pemanfaatan lingkungan sekolah itu sejalan dengan upaya memenuhi sebagian kebutuhan pangan dari area sekolah sendiri. Pelaksanaannya dapat dilakukan secara bertahap melalui pemetaan potensi lahan, penyusunan jadwal pengelolaan, pembagian tanggung jawab, serta pendampingan teknis. Dengan pendekatan tersebut, kegiatan produktif tidak mengganggu proses pendidikan, melainkan memperkuat pengalaman belajar dan membentuk sikap mandiri, disiplin, serta peduli terhadap ketahanan pangan.

Kegiatan tersebut turut disaksikan Staf Khusus Menteri Sosial Malik Haramain, Tenaga Ahli Menteri Sosial Andy Kurniawan, Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial Supomo, Kepala BBPPKS Makassar Wiwit Widiansyah, Kepala Sentra Wirajaya Makassar Syamsudin, Kepala Sentra Pangurangi Takalar Nur Alam, Kepala Sentra Gau Mabaji Gowa Hasatama Hikmah, serta Kepala Dinas Sosial Provinsi Sulawesi Selatan Abd. Malik Faisal.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60