Bogor | Gempa tektonik bermagnitudo 4,1 mengguncang wilayah Bogor, Jawa Barat, pada Kamis sore, 15 Oktober 2026. Peristiwa tersebut terjadi dalam rangkaian aktivitas gempa beruntun yang juga mencakup kawasan Sukabumi. Menurut BBMKG Wilayah II Tangerang, rangkaian ini dipicu oleh aktivitas sesar aktif di sekitar wilayah tersebut. Gempa kedua, yang memiliki magnitudo lebih besar, terjadi pada pukul 17.49 WIB.
Analisis BMKG mencatat gempa pertama bermagnitudo 3,5. Pusat gempa berada di darat, sekitar 25 kilometer di utara Kabupaten Sukabumi, dengan kedalaman hiposenter 9 kilometer. Gempa kedua bermagnitudo 4,1 dan berpusat di darat sekitar 26 kilometer barat daya Kota Bogor. Kedalaman hiposenternya tercatat 5 kilometer. Kedua kejadian berada pada koordinat yang berdekatan, yakni sekitar 6,73 derajat lintang selatan dan 106,61 serta 106,60 derajat bujur timur.
Lokasi episenter yang berada di daratan dan kedalaman hiposenter yang relatif kecil membuat kedua gempa tersebut tergolong gempa dangkal. Dalam pengamatan kegempaan, kedalaman merupakan salah satu unsur penting untuk menggambarkan karakter sumber gempa, sementara posisi episenter menunjukkan lokasi sumber di permukaan bumi. Karena itu, rangkaian kejadian ini dipantau sebagai aktivitas tektonik di kawasan Bogor dan Sukabumi, bukan sebagai dua peristiwa yang terpisah jauh secara geografis.
Perbedaan magnitudo dan kedalaman kedua gempa menunjukkan bahwa setiap kejadian dalam rangkaian memiliki karakteristik tersendiri, meskipun letak pusatnya berdekatan. Informasi awal BMKG mengidentifikasi aktivitas sesar aktif sebagai pemicu, dengan gempa kedua berpusat lebih dekat ke Kota Bogor dan lebih dangkal daripada gempa pertama. Data waktu, koordinat, magnitudo, serta kedalaman membantu menjelaskan susunan peristiwa yang berlangsung pada sore itu. Rangkaian gempa tersebut menjadi dasar bagi pemantauan aktivitas seismik di kawasan Bogor–Sukabumi.Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor mencatat gempa dangkal bermagnitudo 4,1 berdampak pada 17 rumah dan menyebabkan 52 warga mengungsi. Kerusakan tersebut tersebar di 11 kampung yang berada di dua desa, yakni Desa Purasari, Kecamatan Leuwiliang, dan Desa Cibunian, Kecamatan Pamijahan. Data itu menunjukkan bahwa dampak gempa tidak hanya dirasakan pada satu titik permukiman, melainkan menjangkau beberapa wilayah di kedua desa tersebut.
Kasi Kedaruratan BPBD Kabupaten Bogor, Andi Sumardi, menyampaikan bahwa pendataan dampak gempa masih berlangsung. Karena proses pemeriksaan belum selesai, informasi mengenai rumah terdampak dapat terus diperbarui seiring petugas menghimpun keterangan dan memeriksa kondisi di lapangan. Andi juga menjelaskan bahwa rumah yang terdampak berada di sejumlah wilayah. Dengan demikian, angka sementara yang dilaporkan BPBD menjadi gambaran awal kondisi pascagempa, sementara cakupan dampak masih ditelusuri.
Sejumlah warga memilih mengungsi karena kondisi rumah mereka terdampak gempa. Selain mempertimbangkan keadaan bangunan, warga juga merasa khawatir terhadap keselamatan apabila tetap berada di rumah. Rasa takut dan trauma setelah mengalami guncangan turut menjadi alasan untuk meninggalkan tempat tinggal sementara waktu. Keputusan mengungsi tersebut mencerminkan kebutuhan warga untuk merasa aman, terutama ketika kondisi rumah belum dipastikan dan pendataan masih berjalan. Angka 52 orang yang mengungsi merujuk pada warga yang terdampak di kawasan tersebut; informasi yang disampaikan BPBD menempatkan kondisi rumah, kekhawatiran atas keselamatan, serta trauma sebagai latar keputusan mereka. Selama pendataan berlangsung, keterangan mengenai rumah rusak dan warga yang mengungsi menjadi bagian penting dari pemantauan dampak gempa di Purasari dan Cibunian.
Dampak gempa juga dirasakan warga Kampung Muaradua, Desa Cibunian. Berdasarkan pendataan BPBD, tiga rumah mengalami kerusakan ringan, dengan total 12 jiwa terdampak. Kerusakan yang dilaporkan meliputi dinding tembok yang retak atau hancur serta bagian plafon pada atap rumah. Kondisi tersebut menjadi perhatian warga dan petugas, terutama untuk memastikan bagian bangunan yang rusak tidak membahayakan penghuni.
Jumlah warga terdampak di Kampung Muaradua tidak sama dengan jumlah warga yang mengungsi. Dari 12 jiwa yang terdampak, enam jiwa dilaporkan mengungsi. Angka ini merujuk pada warga yang meninggalkan rumahnya, sedangkan 12 jiwa mencakup keseluruhan warga yang tercatat terdampak. Pembedaan tersebut penting agar kondisi di desa ini tergambarkan secara akurat.
Kerusakan yang lebih luas juga tercatat di Desa Purasari, Kecamatan Leuwiliang. Sebanyak 14 rumah dilaporkan rusak, tersebar di lima kampung. Di desa tersebut, 14 kepala keluarga atau 46 jiwa memilih mengungsi. Dengan demikian, jumlah rumah yang mengalami kerusakan, jumlah keluarga, dan jumlah orang yang mengungsi merupakan catatan yang berbeda, meskipun semuanya menggambarkan dampak gempa terhadap kehidupan warga setempat.
Tempat tinggal sementara para pengungsi di Purasari beragam. Sebagian warga tinggal di tenda sementara, sedangkan lainnya menumpang di rumah kerabat yang berada di wilayah yang sama. Pengaturan tempat berlindung ini membantu warga menjauh dari rumah yang rusak sambil menunggu kondisi dinilai lebih lanjut. Keberadaan keluarga atau kerabat di sekitar lokasi juga menjadi salah satu pilihan bagi warga yang tidak tinggal di tenda.
Data dari Cibunian dan Purasari menunjukkan bahwa dampak gempa tidak hanya terlihat pada kerusakan bangunan, tetapi juga pada kebutuhan warga untuk mencari tempat aman. Pendataan jumlah rumah rusak serta warga terdampak dan mengungsi memberikan gambaran berbeda mengenai skala kebutuhan di masing-masing lokasi. Informasi tersebut diperlukan dalam pemantauan dan penanganan lanjutan oleh pihak terkait, tanpa mencampuradukkan jumlah penduduk terdampak dengan jumlah pengungsi.
BMKG mencatat bahwa kekuatan guncangan gempa tidak dirasakan sama di seluruh wilayah yang terdampak. Perbedaan intensitas tersebut terlihat dari laporan warga di sejumlah kecamatan dan daerah sekitar Bogor. Skala yang digunakan adalah Modified Mercalli Intensity (MMI), yang menggambarkan dampak getaran berdasarkan pengalaman manusia serta pengaruhnya terhadap benda-benda di lingkungan sekitar.
Di Pamijahan dan Kabandungan, guncangan mencapai intensitas IV MMI. Pada tingkat ini, getaran dirasakan oleh banyak orang di dalam rumah dan sebagian orang yang berada di luar. Sejumlah tanda yang dapat menyertai intensitas tersebut lain gerabah pecah, jendela atau pintu berderik, serta dinding yang berbunyi. Gambaran ini menunjukkan bahwa getaran cukup jelas dirasakan dan dapat mengganggu aktivitas warga, meskipun intensitas yang tercatat tidak dengan sendirinya memastikan adanya kerusakan struktural pada bangunan.
Sementara itu, Kalapanunggal, Leuwiliang, Cipeuteuy, Lengkong, dan Parakansalak tercatat mengalami intensitas III MMI. Getaran pada tingkat ini terasa nyata di dalam rumah, dengan sensasi yang kerap disamakan dengan berada di dalam truk yang sedang melintas. Bagi sebagian warga, guncangan dapat dikenali melalui gerakan benda atau perubahan suasana di dalam ruangan, walaupun dampaknya umumnya lebih ringan daripada yang dilaporkan di lokasi dengan intensitas IV MMI.
Intensitas II MMI dilaporkan di Palabuhan Ratu, Pabuaran, dan Cicantayan. Pada skala tersebut, getaran hanya dirasakan oleh beberapa orang dan dapat membuat benda-benda ringan bergoyang. Perbedaan laporan ini memperlihatkan bahwa pengalaman warga dipengaruhi oleh lokasi dan tingkat intensitas guncangan yang tercatat.
BMKG menyampaikan bahwa hingga pukul 18.40 WIB terpantau satu gempa susulan dengan magnitudo 2,4. Pada saat keterangan itu disampaikan, belum ada laporan kerusakan bangunan yang diterima dalam pemantauan BMKG. Keterangan tersebut merujuk pada laporan yang tersedia bagi BMKG pada waktu itu; hal ini perlu dibedakan dari pendataan BPBD, yang telah mencatat laporan kerusakan rumah. Karena itu, ketiadaan laporan dalam pemantauan BMKG tidak berarti tidak ada laporan kerusakan yang dihimpun oleh lembaga lain.















