Deputi Bapanas Dorong UMKM Bawang Hunay Tingkatkan Produksi Ekspor

banner 468x60

Probolinggo, Patrolihukum.net — Deputi Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) RI, Andriko Noto Susanto, mendorong pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Bawang Hunay untuk terus meningkatkan kapasitas produksi serta memperluas pangsa pasar, khususnya di pasar ekspor.

Dorongan itu disampaikan langsung oleh Deputi Andriko saat melakukan kunjungan kerja ke lokasi produksi CV Dua Putri Sholehah, produsen Bawang Hunay yang berlokasi di Desa Tegalrejo, Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo, pada Jumat (16/5/2025). Kunjungan ini dilakukan untuk mengevaluasi efektivitas pemanfaatan bantuan peralatan usaha yang telah diberikan pemerintah pusat kepada UMKM tersebut pada tahun 2024.

Kedatangan Deputi Bapanas disambut hangat oleh sejumlah pejabat daerah, di antaranya Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perdagangan dan Perindustrian (DKUPP) Kabupaten Probolinggo Taufik Alami, Analis Ketahanan Pangan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur Purwinto Nugroho, Kepala Bidang Ketahanan Pangan Masyarakat Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Probolinggo Bambang Suprayitno, serta Owner CV Dua Putri Sholehah Nurul Khotimah.

Dalam kunjungan tersebut, Andriko meninjau secara langsung proses produksi Bawang Hunay, mulai dari penyimpanan bahan baku, tahap perajangan, penggorengan, proses sortasi, hingga pengemasan akhir. Ia mengapresiasi tampilan produk di etalase yang tidak hanya menampilkan Bawang Hunay, tetapi juga berbagai produk UMKM lain dari wilayah Probolinggo.

“Kita ingin UMKM seperti Hunay ini terus didorong naik kelas. Kita bantu peralatannya supaya kapasitas produksinya meningkat. Kalau produksi meningkat, kualitas stabil dan pemasarannya luas, maka dampaknya akan langsung terasa terhadap perekonomian masyarakat,” ujarnya.

Andriko menekankan pentingnya kolaborasi antarpelaku UMKM sebagai strategi untuk menghadapi tingginya permintaan pasar. Menurutnya, pelaku usaha mikro tidak seharusnya bersaing, melainkan bersinergi guna memperkuat daya saing di pasar nasional dan internasional.

“Jika permintaan meningkat dan satu pelaku usaha tidak sanggup memenuhinya sendiri, maka solusinya adalah bersinergi. Kalau Hunay kewalahan memenuhi permintaan, dia bisa menggandeng UMKM lain. Dari situ bisa dibentuk koperasi atau bahkan korporasi yang kuat. Ini yang sedang kami dorong,” jelas Andriko.

Ia juga menyebut keberhasilan CV Dua Putri Sholehah sebagai contoh nyata kolaborasi antara pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten. “Ini bukan cerita di balik meja, tapi bukti nyata di lapangan. Pelaku usahanya semangat, hasilnya sudah bisa ekspor ke luar negeri,” imbuhnya.

Andriko mengungkapkan, dengan dukungan peralatan dari pemerintah, produksi Bawang Hunay meningkat drastis. Dari sebelumnya hanya 10 kg per hari, kini telah mencapai 400 kg per hari. Produk ini bahkan sudah menembus pasar internasional, termasuk Jepang, Singapura, dan Dubai.

Meski begitu, ia menyoroti proses sortasi yang masih dilakukan secara manual, yang berpotensi meningkatkan biaya produksi dan menurunkan efisiensi.

“Kami ingin UMKM seperti Hunay bisa meningkatkan efisiensi dan menjaga kualitas produk secara konsisten. Proses sortasi yang masih manual harus mulai dipikirkan untuk diganti dengan sistem mekanik agar bisa bersaing di pasar ekspor,” tegasnya.

Lebih lanjut, Andriko menekankan pentingnya hilirisasi produk pertanian, seperti bawang merah yang menjadi bahan baku utama Bawang Hunay. Ia menyebut, jika tidak diolah, bawang merah akan mudah membusuk dan harganya bisa jatuh, merugikan petani.

“Bawang merah yang dibeli Hunay ini diolah jadi produk bernilai tambah tinggi. Kalau dikemas baik, bisa bertahan sampai dua tahun. Ini solusi cerdas dan menguntungkan petani sekaligus pelaku industri pengolahan,” ucapnya.

Owner Bawang Hunay, Nurul Khotimah, menyampaikan rasa terima kasih atas perhatian yang diberikan oleh pemerintah pusat, khususnya dari Deputi Bapanas. Ia menyebut kunjungan ini sebagai bentuk nyata komitmen pemerintah dalam membina dan mendampingi UMKM.

“Alhamdulillah, 90 persen peralatan bantuan sudah kami gunakan sesuai fungsinya. Kami sangat terbantu, terutama dalam peningkatan kapasitas dan menjaga kualitas produk,” tuturnya.

Nurul juga mengapresiasi masukan terkait efisiensi sortasi dan pengupasan bawang. Menurutnya, hal itu menjadi catatan penting untuk pengembangan berikutnya.

“Masukan soal meja sortasi sangat konstruktif. Kami memang masih manual, sehingga butuh banyak tenaga kerja. Ke depan, ini akan kami prioritaskan, apalagi untuk memenuhi standar ekspor. Termasuk SOP pengupasan juga akan kami benahi agar Bawang Hunay siap bersaing di pasar global secara berkelanjutan,” pungkasnya.

Penulis: Bambang | Editor: Redaksi Patrolihukum.net

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan