Dari Jelantah ke Bioavtur: Rantai Energi Sirkular di Kilang Cilacap

Dari Jelantah ke Bioavtur: Rantai Energi Sirkular di Kilang Cilacap
banner 468x60

Jakarta | Pertamina Patra Niaga mengembangkan pemanfaatan minyak jelantah rumah tangga sebagai bahan baku sustainable aviation fuel (SAF), atau bioavtur, di Green Refinery Cilacap, Jawa Tengah. Inisiatif ini menghubungkan pengumpulan limbah minyak dari aktivitas sehari-hari dengan produksi bahan bakar untuk sektor penerbangan. Dengan mengolah minyak yang sebelumnya berpotensi menjadi limbah, perusahaan berupaya memperluas penggunaan bahan baku alternatif sekaligus mendukung pemanfaatan sumber daya secara lebih sirkular.

Pengolahan dilakukan di fasilitas Thermal Distillate Hydro Treating (TDHT) melalui skema co-processing. Dalam pendekatan ini, minyak jelantah tidak diproses sendirian, melainkan dicampurkan dan diolah bersama komponen bahan baku lain di dalam unit. Skema tersebut memungkinkan bahan alternatif masuk ke dalam proses produksi yang tersedia, dengan tetap memperhatikan batas penggunaan dan kemampuan fasilitas. Hasil pengolahan berupa co-processed SAF yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar penerbangan berkelanjutan.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Wakil Direktur Utama I Pertamina Patra Niaga, Taufik Aditiyawarman, menyampaikan bahwa produksi SAF tersebut telah memasuki tahap komersialisasi. Pada Oktober, produksi co-processed SAF tercatat sekitar 11 juta liter. Keterangan ini menandai peralihan dari tahapan pengembangan menuju produksi untuk kebutuhan komersial. Angka tersebut juga menunjukkan bahwa pemanfaatan minyak jelantah telah diterapkan dalam skala produksi, bukan hanya sebagai uji coba laboratorium.

Dalam proses di unit TDHT, minyak jelantah digunakan dengan rasio maksimal 5 persen dari total kapasitas produksi. Batas tersebut menjadi bagian dari pengaturan bahan baku dalam skema co-processing. Karena itu, volume minyak jelantah yang dibutuhkan bergantung pada kapasitas unit serta ketersediaan bahan lain yang diproses bersamanya. Pengumpulan minyak bekas dari rumah tangga menjadi salah satu mata rantai penting: pasokan yang terkelola dapat membantu menjaga kesinambungan bahan baku, sementara pengolahan di kilang mengubahnya menjadi produk bernilai guna. Inisiatif di Cilacap memperlihatkan bagaimana limbah domestik dapat masuk ke rantai energi dan mendukung diversifikasi bahan baku untuk produksi bioavtur.

Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka meninjau Kilang Cilacap pada Senin, 26 Oktober 2026, untuk melihat langsung proses pengolahan minyak jelantah menjadi bioavtur. Kunjungan ini memperlihatkan bagaimana limbah yang kerap dianggap tidak bernilai dapat menjadi bahan baku energi alternatif. Peninjauan tersebut juga menyoroti upaya menghubungkan pengelolaan sumber daya di tingkat masyarakat dengan proses industri, sehingga manfaatnya tidak berhenti pada pengurangan limbah, tetapi turut mendukung penyediaan bahan bakar bagi sektor penerbangan.

Di kilang, perhatian tertuju pada teknologi yang memungkinkan minyak jelantah diolah menjadi bahan bakar penerbangan berkelanjutan atau sustainable aviation fuel (SAF). Pengembangan teknologi pengolahan menjadi bagian penting dari rantai energi sirkular: bahan yang telah digunakan dikumpulkan, diproses, lalu dimanfaatkan kembali. Pendekatan ini membuka peluang untuk mengurangi ketergantungan pada bahan baku konvensional, sekaligus memperluas pilihan energi bagi industri penerbangan. Namun, penerapan dan peningkatan skala produksi tetap membutuhkan proses yang terencana, pasokan bahan baku yang konsisten, serta kerja sama lintas pihak.

Gibran menekankan bahwa pengembangan SAF perlu berjalan beriringan dengan pemberdayaan warga. Minyak jelantah yang dikumpulkan masyarakat melalui bank sampah, menurut pesan yang disampaikan dalam kunjungan tersebut, perlu memperoleh nilai ekonomi dan memiliki jalur yang jelas menuju industri nasional. Dengan demikian, warga tidak hanya berperan sebagai pemasok bahan baku, tetapi juga dapat merasakan manfaat dari sistem pengumpulan dan pengolahan yang tertata. Bank sampah dapat menjadi penghubung rumah tangga, komunitas, dan pelaku industri, selama tata kelola, mutu, serta mekanisme penghargaan bagi pemasok dikembangkan secara transparan.

Pesan itu menempatkan warga sebagai bagian dari transisi energi, bukan sekadar penerima dampak kebijakan. Keterlibatan masyarakat dapat memperkuat ketersediaan minyak jelantah sekaligus mendorong kebiasaan pengelolaan limbah yang lebih bertanggung jawab. Di sisi lain, industri membutuhkan bahan baku yang aman, terukur, dan dapat ditelusuri agar proses produksi bioavtur berjalan andal. Karena itu, hubungan bank sampah dan kilang perlu didukung koordinasi, standar pengumpulan, serta informasi mengenai nilai dan tujuan pemanfaatan bahan. Peninjauan Kilang Cilacap menegaskan bahwa energi berkelanjutan akan lebih bermakna ketika inovasi teknologi, kebutuhan penerbangan, dan peluang ekonomi warga berkembang bersama.Pengembangan bioavtur dari minyak jelantah membutuhkan pasokan bahan baku yang terkumpul secara konsisten. Karena itu, Pertamina Patra Niaga membangun ekosistem pengumpulan di sekitar Kilang Cilacap dengan melibatkan warga dan kelompok pengelola sampah. Pendekatan ini menghubungkan aktivitas rumah tangga sehari-hari dengan rantai energi sirkular: minyak bekas yang sebelumnya berpotensi menjadi limbah dikumpulkan, disalurkan, lalu dimanfaatkan kembali sebagai bahan baku.

Bank sampah binaan berperan sebagai titik penghubung masyarakat dan proses pengumpulan. Tiga kelompok yang terlibat adalah Beo Asri, Abhipraya, dan Cahaya Asri. Dalam setahun, Beo Asri mengumpulkan 2.283 liter jelantah, sementara Abhipraya mengumpulkan 984 liter dan Cahaya Asri 717 liter. Angka tersebut menunjukkan bagaimana kontribusi kelompok masyarakat dapat membentuk pasokan yang berarti ketika dilakukan secara teratur dan terorganisasi.

Warga yang menyetorkan jelantah memperoleh uang sebagai imbalan. Skema penukaran ini memberi nilai ekonomi tambahan bagi minyak bekas sekaligus menjadi dorongan agar masyarakat memisahkan dan menyimpan jelantah, bukan membuangnya ke saluran air atau mencampurkannya dengan sampah lain. Bagi kelompok pengelola, pengumpulan juga membuka ruang untuk memperkuat kegiatan bank sampah dan partisipasi warga. Manfaatnya dapat dirasakan langsung, sementara bahan yang terkumpul masuk ke jalur pemanfaatan yang lebih produktif.

Akses penyetoran diperluas melalui collection box yang tersedia di Pasar Amarta Kutawaru. Fasilitas ini menyediakan titik pengumpulan yang mudah dijangkau oleh masyarakat dan dapat membantu menjadikan penyetoran bagian dari rutinitas. Jelantah yang diserahkan di sana dapat ditukar dengan uang atau saldo e-wallet, sehingga warga memiliki pilihan bentuk penerimaan. Kehadiran titik tersebut melengkapi peran bank sampah dan memperluas peluang partisipasi di lingkungan sekitar kilang.

Dengan jaringan kelompok binaan, insentif langsung, dan fasilitas pengumpulan, pengelolaan jelantah tidak bergantung pada satu saluran saja. Warga dapat berkontribusi melalui kelompok setempat maupun collection box, sementara minyak bekas memperoleh jalur yang lebih jelas untuk dimanfaatkan. Ekosistem ini membantu menghubungkan kebiasaan memilah limbah dengan kebutuhan bahan baku energi, sekaligus memperlihatkan bahwa transisi menuju energi sirkular dapat melibatkan tindakan sederhana di tingkat komunitas.

Pengembangan sustainable aviation fuel (SAF) di Kilang Cilacap tidak berhenti pada tahap pengolahan dan pembuktian teknologi. Produk SAF Pertamina telah dipasarkan kepada sejumlah maskapai penerbangan domestik maupun internasional. Pemasaran ini menandai langkah penting dalam menghubungkan produksi bahan bakar penerbangan berkelanjutan dengan kebutuhan nyata industri aviasi. Di tengah upaya sektor penerbangan menekan emisi, tersedianya produk SAF membuka pilihan bagi maskapai untuk mulai mengintegrasikan bahan bakar alternatif ke dalam operasional mereka.

Perluasan pemanfaatan minyak jelantah juga tidak terbatas pada produksi SAF. Pertamina Patra Niaga telah melakukan uji coba pengolahan minyak jelantah sebagai salah satu bahan baku green gasoline. Uji coba tersebut memperlihatkan potensi bahan yang selama ini kerap dipandang sebagai limbah untuk digunakan dalam jalur pengembangan produk energi lain. Dengan demikian, pengumpulan jelantah dapat mendukung beragam inovasi, sembari memperluas pemanfaatannya di luar sektor penerbangan.

Peluang tersebut tetap memerlukan tata kelola yang baik. Minyak jelantah perlu dikumpulkan dan disalurkan melalui proses yang teratur agar kualitas bahan baku dapat dijaga dan pengolahannya berlangsung secara bertanggung jawab.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60