Jakarta | Direktur Utama Bank Syariah Indonesia, Anggoro Eko Cahyo, memandang bisnis bullion bank sebagai salah satu peluang penting untuk mengembangkan usaha perbankan syariah. Pandangan tersebut bertumpu pada potensi emas yang dapat menjangkau kebutuhan masyarakat sekaligus melengkapi layanan keuangan yang telah tersedia di BSI. Dengan mengembangkan kegiatan terkait emas, bank dapat memperluas pilihan produk bagi nasabah dan membuka hubungan dengan kelompok masyarakat yang sebelumnya belum menjadi pengguna layanan BSI.
Anggoro menyampaikan optimismenya terhadap prospek bisnis ini karena aktivitas emas dinilai memiliki peluang untuk mendorong pertumbuhan nasabah baru. Produk dan layanan yang berkaitan dengan emas dapat menjadi pintu masuk bagi masyarakat untuk mengenal serta menggunakan layanan perbankan syariah. Potensi tersebut penting bagi BSI dalam memperluas basis nasabah, dengan tetap menempatkan kebutuhan dan kepercayaan masyarakat sebagai bagian dari pengembangan usaha. Bisnis bullion bank, dalam pandangan ini, bukan hanya terkait transaksi emas, tetapi juga dapat mendukung perluasan hubungan bank dengan nasabah.
Dalam kontribusinya terhadap pertumbuhan nasabah BSI, bisnis emas disebut berpotensi menjadi sumber pertumbuhan terbesar kedua setelah nasabah haji. Pernyataan ini menunjukkan bahwa pengembangan layanan emas dipandang memiliki peran strategis, berdampingan dengan layanan yang selama ini berkaitan dengan kebutuhan perjalanan ibadah. Posisi tersebut juga mencerminkan harapan manajemen terhadap kemampuan bisnis bullion bank untuk menarik nasabah baru. Karena itu, peluang bisnis emas menjadi salah satu arah pengembangan yang diperhatikan BSI dalam memperluas usahanya sebagai bank syariah. Optimisme Anggoro menggambarkan keyakinan pada potensi tersebut, tanpa mengubahnya menjadi kepastian mengenai hasil yang akan dicapai. Pengembangan bisnis ini tetap dipahami sebagai bagian dari upaya memperkuat layanan dan memperluas jangkauan bank kepada masyarakat yang memiliki kebutuhan berbeda. Dengan demikian, emas dapat berperan sebagai salah satu penggerak pertumbuhan nasabah, sementara layanan haji tetap menjadi sumber pertumbuhan yang lebih besar menurut keterangan tersebut.
Dalam upaya memperluas bisnis emas, BSI mengembangkan layanan yang mencakup beberapa tahapan dalam ekosistem emas. Ragam layanan tersebut meliputi simpanan emas, keuangan emas, layanan kustodian, serta perdagangan emas. Cakupan ini menunjukkan bahwa pengembangan tidak hanya diarahkan pada satu bentuk layanan, melainkan mencakup beragam kebutuhan terkait emas. Bagi masyarakat, ketersediaan pilihan melalui perbankan syariah dapat memperluas cara untuk mengenal dan mengakses investasi emas. Pada saat yang sama, pengembangan ragam layanan menjadi bagian dari upaya perusahaan memperkuat bisnis emas secara lebih menyeluruh. Pendekatan tersebut menempatkan emas sebagai salah satu bidang layanan yang terus dikembangkan BSI, dengan perhatian pada pilihan produk dan penguatan akses bagi nasabah.
Di samping memperluas ragam layanan, BSI juga berupaya memperkuat dukungan digital. Pengembangan ini penting agar layanan emas dapat semakin mudah dijangkau melalui kanal perbankan yang tersedia, sekaligus mengikuti perubahan kebutuhan masyarakat. Digitalisasi dalam konteks ini merupakan bagian dari penguatan layanan, bukan pengganti kebutuhan untuk memahami investasi secara cermat. Dengan tersedianya dukungan digital, masyarakat diharapkan memiliki akses yang lebih baik untuk mengenali pilihan layanan emas melalui bank syariah. Namun, pengembangan layanan perlu berjalan seiring dengan penyampaian informasi yang jelas dan bertanggung jawab. Pemahaman mengenai karakter investasi emas tetap menjadi hal penting sebelum seseorang menentukan pilihan. Karena itu, akses yang lebih luas dan edukasi yang memadai dapat saling melengkapi dalam membangun layanan yang bermanfaat bagi nasabah.
BSI turut mendorong edukasi dan literasi masyarakat agar investasi emas melalui perbankan syariah dapat dipahami dengan lebih baik. Literasi membantu masyarakat mengenali ragam layanan yang tersedia, menilai kesesuaiannya dengan kebutuhan, serta membuat keputusan berdasarkan informasi yang memadai. Upaya edukasi juga dapat memperkenalkan peran bank syariah dalam menyediakan layanan terkait emas, mulai dari simpanan hingga perdagangan, tanpa menyederhanakan pertimbangan yang menyertai investasi. Dengan demikian, pengembangan bisnis tidak hanya berfokus pada perluasan jenis layanan, tetapi juga pada kesiapan masyarakat untuk memanfaatkannya secara bijak. Penguatan akses digital, ragam layanan, dan literasi menjadi unsur yang saling mendukung. Melalui pendekatan tersebut, BSI berupaya menghadirkan pilihan investasi emas dalam ekosistem perbankan syariah yang lebih dikenal dan mudah dijangkau masyarakat.
Penyaluran dana zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ZISWAF) sekitar Rp15,5 triliun menjadi bagian dari upaya Bank Syariah Indonesia (BSI) untuk mendukung kegiatan sosial dan pemberdayaan ekonomi umat. Melalui penyaluran tersebut, dana ZISWAF diarahkan untuk membantu berbagai program yang menyentuh kebutuhan masyarakat. Peran ini melengkapi layanan perbankan syariah BSI dengan dukungan bagi inisiatif sosial, pendidikan, dan penguatan usaha.
Salah satu pemanfaatan yang tercatat ialah pemberian beasiswa kepada 10.000 siswa. Dukungan pendidikan dapat membantu para siswa melanjutkan proses belajar, sekaligus membuka peluang bagi mereka untuk mengembangkan kemampuan dan merencanakan masa depan. Data tersebut menunjukkan skala penerima beasiswa yang disebutkan, tanpa menguraikan jenjang pendidikan, besaran bantuan per siswa, ataupun rincian pembiayaan program.
Penyaluran ZISWAF juga dimanfaatkan untuk mendukung pembiayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Akses terhadap dukungan pembiayaan dapat menjadi salah satu unsur penting bagi pelaku usaha dalam menjalankan atau mengembangkan kegiatan ekonomi. Namun, informasi yang tersedia tidak menyebutkan jumlah UMKM penerima, nilai pembiayaan per usaha, sektor yang didukung, maupun bentuk persyaratan program. Karena itu, besaran dan jangkauan manfaat untuk kelompok tersebut tidak dapat dipastikan dari data ini.
Program lain yang dicatat adalah pemberdayaan kampung nelayan. Inisiatif ini menempatkan masyarakat pesisir sebagai bagian dari sasaran dukungan sosial dan ekonomi. Meski demikian, tidak tersedia keterangan mengenai jumlah kampung yang terlibat, penerima manfaat, atau rincian kegiatan yang dilaksanakan. Penyebutan program tersebut memberi gambaran mengenai cakupan pemanfaatan ZISWAF, tetapi tidak cukup untuk menetapkan detail pelaksanaan ataupun hasil spesifiknya.
Secara keseluruhan, informasi tentang penyaluran sekitar Rp15,5 triliun dan pemanfaatannya pada beasiswa, pembiayaan UMKM, serta pemberdayaan kampung nelayan memperlihatkan beragam bentuk dukungan BSI bagi masyarakat. Pencatatan jumlah penerima beasiswa memberikan satu indikator terukur, sedangkan rincian untuk dua program lainnya belum tersedia. Pemisahan fakta yang telah disebutkan dan informasi yang belum diketahui penting agar gambaran kontribusi ZISWAF tetap akurat serta tidak melampaui keterangan yang ada.
Dalam pembahasan mengenai pergerakan saham BRIS, Anggoro menyampaikan bahwa fundamental bisnis Bank Syariah Indonesia (BSI) tetap baik. Keterangan tersebut disampaikan dalam wawancara pada program Power Lunch, Rabu, 4 November 2026. Fokus pernyataannya berada pada kondisi bisnis perusahaan, dengan merujuk pada sejumlah indikator yang disebutkan secara langsung. Ia menyebut pertumbuhan kredit, dana pihak ketiga (DPK), serta laba yang tumbuh dua digit sebagai bagian dari gambaran fundamental BSI. Dengan demikian, penjelasan itu menghubungkan pembahasan saham dengan indikator kinerja bisnis yang disampaikan Anggoro, tanpa merinci angka pertumbuhan masing-masing.
Pertumbuhan kredit menjadi salah satu indikator yang ia sebut. Kredit dalam konteks tersebut merujuk pada penyaluran pembiayaan oleh BSI, tetapi keterangan yang tersedia tidak mencantumkan besaran pertumbuhannya. Anggoro juga menyoroti DPK, yaitu dana yang dihimpun bank dari nasabah. DPK disebut sebagai indikator lain dalam penjelasan mengenai fundamental bisnis BSI, namun tidak disertai nilai atau persentase tertentu. Karena angka rinci tidak tersedia dalam bahan, informasi ini hanya dapat disampaikan sebagai keterangan bahwa kredit dan DPK mengalami pertumbuhan, tanpa menambahkan ukuran atau perbandingan di luar pernyataan tersebut.
Indikator berikutnya adalah laba, yang menurut Anggoro tumbuh dua digit.
Baca juga: Atasi Krisis Air Bersih, Kodim 1008/Tabalong dan BPBD Salurkan Bantuan ke Warga Ribang | MADAS SERUMPUN Hadir di Tengah Warga, Salurkan Air Bersih di Kota Pasuruan 45 kunjungan















