Bally Bagayoko, Wali Kota di Prancis yang Viral Lindungi Demonstran

Bally Bagayoko, Wali Kota di Prancis yang Viral Lindungi Demonstran
banner 468x60

Kota Saint-Denis | Wali Kota Saint-Denis, Prancis, Bally Bagayoko menjadi sorotan setelah videonya menghadang polisi demi melindungi demonstran mahasiswa viral di media sosial. Bagayoko bahkan terkena gas air mata saat berdiri di demonstran dan polisi dalam aksi protes di Paris pada Selasa (6/10).

Keterangan yang tercatat menyebut Menurut Bagayoko, pemerintah belum memenuhi janji untuk menciptakan kesetaraan bagi masyarakat, terutama warga kelas pekerja dan masyarakat di daerah pedesaan.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Data lain dalam laporan menunjukkan Pria 53 tahun itu mengatakan dirinya mendukung para mahasiswa dari kawasan pinggiran Paris yang mayoritas dihuni masyarakat kelas pekerja. Bally Bagayoko lahir di Levallois-Perret pada 1973. Setelah itu, Bagayoko meraih gelar master di bidang Sains dan Teknologi Pengetahuan serta mengikuti pelatihan geopolitik di Universitas Paris-8 di Saint-Denis. Ia bekerja sebagai eksekutif di RATP sejak 2000. Selain itu, ia pernah menjadi pemain bola basket semi-profesional di level Nasional 2.

Informasi lain yang berkaitan dengan peristiwa tersebut mencakup Dalam video yang beredar, Bagayoko terlihat berdiri di depan polisi anti huru hara sambil meminta mereka untuk "berhenti". Ia berada di tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes minimnya investasi pemerintah untuk sekolah negeri. Ia juga meminta polisi tidak menuntut para mahasiswa yang mengikuti aksi. Ia menempuh pendidikan di SMA Paul-Eluard. Bagayoko juga memiliki latar belakang di bidang transportasi dan olahraga.

Mereka telah memutuskan untuk menuntut dan secara efektif mengejar para mahasiswa, yang banyak di antaranya sama sekali tidak menunjukkan perilaku agresif terhadap petugas polisi," kata Bagayoko kepada Reuters di Balai Kota Saint-Denis, Rabu (7/10). Di tengah sorotan terhadap aksinya, Bagayoko memiliki perjalanan panjang sebelum menjadi wali kota Saint-Denis. Keluarganya pindah ke wilayah Plaine, Saint-Denis, pada 1975 dan Bagayoko kemudian tumbuh di kawasan tersebut. Karier politiknya dimulai pada 2001 ketika ia terlibat dalam pemerintahan Patrick Braouezec, wali kota Saint-Denis dari Partai Komunis Prancis. Setahun kemudian, Bagayoko menjadi wakil wali kota yang menangani komunikasi dan teknologi informasi baru. Pada 2004, ia dipercaya menangani urusan pemuda di bawah pemerintahan wali kota Didier Paillard. Pada 2014, Bagayoko kembali terpilih sebagai wakil wali kota Saint-Denis. Bagayoko maju dalam pemilihan wali kota Saint-Denis pada 2020 melalui partai sayap kiri La France Insoumise (LFI). Ia memperoleh 18 persen suara dan berada di posisi ketiga di belakang Laurent Russier dari Partai Komunis Prancis dan Mathieu Hanotin dari Partai Sosialis yang akhirnya terpilih sebagai wali kota. Setelah itu, Bagayoko menjadi anggota dewan kota dari pihak oposisi hingga 2026. Bagayoko terpilih sebagai wali kota Saint-Denis dan Pierrefitte-sur-Seine setelah memenangkan pemilihan putaran pertama dengan 50,77 persen suara. Kota di pinggiran utara Paris itu menjadi salah satu lokasi awal demonstrasi mahasiswa yang dimulai pada akhir September. Ia kemudian menekuni olahraga tersebut di Saint-Denis. Bagayoko memperoleh diploma kepelatihan negara dan bergabung dengan Saint-Denis Union Sports (SDUS). Bagayoko kemudian terpilih sebagai anggota Dewan Umum Seine-Saint-Denis pada 2008. Ia juga menjadi wakil presiden dewan tersebut dan menjabat hingga 2015. Pada 2012, Bagayoko bergabung dengan gerakan Ensemble yang merupakan bagian dari Front Kiri. Gerakan tersebut kemudian berkembang menjadi La France Insoumise yang digunakan dalam pemilihan presiden Prancis 2017. Ia bertanggung jawab atas bidang olahraga dan integrasi lapangan kerja. Karier politiknya mencapai puncak pada 15 Maret. Pada aksi demonstrasi yang pecah sejak sepekan terakhir, Bagayoko ikut turun dalam aksi dan berdiri di demonstran dan polisi ketika aparat menembakkan gas air mata ke arah kerumunan. Gas air mata juga mengenai Bagayoko. Ia kemudian terlihat mendapat perawatan dengan larutan garam untuk meredakan iritasi pada matanya. Aksi tersebut bukan kali pertama Bagayoko terlibat dalam isu pendidikan di Saint-Denis. Para mahasiswa memprotes ruang kelas yang terlalu padat, kondisi sekolah yang tidak layak, kekurangan guru, serta ketimpangan akses pendidikan. Saint-Denis juga memiliki tingkat kemiskinan lebih dari dua kali lipat rata-rata nasional Prancis. Ia meminta pemerintah meningkatkan investasi di bidang pendidikan dan mengenakan pajak lebih tinggi kepada para miliarder.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60