Jakarta | KMP Batumandi tenggelam di perairan sekitar Pelabuhan Merak pada Rabu malam, 21 Oktober 2026. Menyusul insiden tersebut, PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) mengoordinasikan penanganan pascainsiden bersama instansi berwenang dan pihak-pihak terkait. Koordinasi ini dilakukan untuk mendukung langkah-langkah yang diperlukan di lokasi, sekaligus memastikan penanganan berjalan dengan memperhatikan keselamatan dan kondisi operasional pelayaran. Perusahaan menyampaikan bahwa upaya yang dilakukan berfokus pada pengamanan lokasi, penanganan dampak insiden, serta persiapan penanganan kapal. Informasi yang tersedia tidak menjelaskan penyebab KMP Batumandi tenggelam, sehingga penyebab kejadian belum dapat dipastikan berdasarkan keterangan tersebut.
Dalam situasi pascainsiden, pengamanan area menjadi perhatian penting agar kegiatan penanganan dapat berlangsung secara tertib dan risiko terhadap kapal maupun pengguna jalur pelayaran dapat dikelola. ASDP menyatakan koordinasi dengan otoritas dan pihak terkait dilakukan untuk mendukung penanganan di perairan sekitar pelabuhan. Langkah lanjutan juga disiapkan untuk menangani dampak yang timbul akibat insiden dan menindaklanjuti kondisi kapal. Pelaksanaan tindakan di lapangan tetap perlu mengikuti arahan instansi berwenang serta mempertimbangkan keadaan aktual di sekitar lokasi. Perusahaan tidak menyampaikan rincian teknis mengenai kondisi kapal ataupun bentuk tindakan tertentu, sehingga penjelasan yang dapat ditegaskan saat ini terbatas pada fokus koordinasi dan prioritas keselamatan.
ASDP menempatkan keselamatan sebagai pertimbangan utama dalam proses penanganan, termasuk saat menyiapkan langkah terhadap KMP Batumandi. Pada saat yang sama, kelancaran pelayaran di kawasan Merak juga menjadi perhatian, sehingga koordinasi diperlukan untuk mengatur respons secara hati-hati dan sesuai kewenangan masing-masing pihak. Pengamanan lokasi, penanganan dampak, dan persiapan penanganan kapal merupakan fokus yang dinyatakan perusahaan dalam merespons kejadian tersebut. Perkembangan operasional di sekitar pelabuhan dapat bergantung pada kondisi lapangan dan arahan otoritas terkait. Dengan demikian, informasi mengenai insiden ini perlu merujuk pada keterangan resmi yang telah disampaikan, tanpa menduga-duga penyebab tenggelamnya kapal ataupun detail penanganan yang belum diumumkan. ASDP bersama pihak terkait terus mengoordinasikan upaya pascainsiden sesuai prioritas keselamatan serta kelancaran pelayaran di area tersebut.
Pengamanan di sekitar lokasi tenggelamnya KMP Batumandi di perairan Merak dilakukan untuk membantu menjaga keselamatan dan kelancaran aktivitas pelayaran. Salah satu langkah yang telah dilaksanakan adalah pemasangan buoy atau pelampung penanda pada Rabu sore. Penanda ini membantu tim terkait mengenali posisi kapal di permukaan perairan, sehingga keberadaan lokasi insiden dapat lebih mudah diperhatikan oleh kapal yang melintas maupun petugas yang melakukan pemantauan.
Penempatan buoy juga mendukung upaya mengurangi potensi risiko bagi aktivitas pelayaran di sekitar area tersebut. Dengan adanya penanda, kapal-kapal dapat memperoleh petunjuk visual mengenai titik yang perlu diwaspadai ketika melintas. Informasi mengenai posisi kapal menjadi penting dalam pengaturan pergerakan di perairan, terutama selama proses penanganan lanjutan masih berlangsung. Meski demikian, pelampung berfungsi sebagai penanda lokasi, bukan pengganti arahan keselamatan atau koordinasi dari petugas berwenang.
Selain pemasangan buoy, pemasangan oil boom di area tersebut telah berlangsung. Perangkat pembatas ini disiapkan untuk membantu mengendalikan pergerakan minyak di permukaan air apabila diperlukan, dengan membatasi penyebarannya di sekitar lokasi. Kehadiran oil boom merupakan bagian dari langkah penanganan dampak insiden dan kesiapsiagaan di lapangan. Pemasangan alat ini tidak dengan sendirinya menunjukkan bahwa tumpahan telah terjadi; informasi yang tersedia hanya menyebutkan bahwa perangkat tersebut telah dipasang sebagai langkah penanganan.
Buoy dan oil boom memiliki fungsi yang berbeda, tetapi keduanya mendukung pengelolaan area kapal secara lebih terarah. Penanda membantu mengenali posisi kapal, sementara oil boom disiapkan untuk membatasi pergerakan minyak di permukaan air. Bersama pemantauan dan koordinasi tim terkait, langkah-langkah tersebut diharapkan membantu menjaga keselamatan pelayaran serta mendukung penanganan lanjutan KMP Batumandi. Pengguna jalur pelayaran di sekitar Merak tetap perlu memperhatikan penanda dan mengikuti informasi resmi yang disampaikan petugas selama kegiatan berlangsung.
ASDP menyiapkan tahapan penanganan berikutnya bagi KMP Batumandi di perairan Merak melalui operasi salvage. Rencana ini disusun untuk mendukung upaya penanganan kapal secara terukur setelah insiden, dengan memperhatikan kebutuhan teknis dan situasi di lokasi. Tim salvage dijadwalkan tiba di Merak pada Kamis, 22 Oktober, sekitar pukul 10.00 WIB. Kedatangan tim tersebut diharapkan menjadi bagian dari persiapan, termasuk peninjauan awal dan koordinasi mengenai metode kerja yang sesuai. Pada tahap ini, kedatangan personel bukan berarti operasi pengondisian kapal langsung dinyatakan selesai ataupun telah dilaksanakan. Persiapan tetap perlu dilakukan dengan mempertimbangkan hasil pemeriksaan dan perkembangan kondisi kapal serta lingkungan sekitarnya.
Menurut rencana ASDP, kapal akan dikondisikan kembali ke posisi normal sebelum dipindahkan ke galangan kapal. Pengondisian tersebut merupakan langkah penting dalam rangkaian operasi, sehingga metode dan urutan pekerjaan perlu ditetapkan berdasarkan pemeriksaan teknis. Tim salvage akan mendukung persiapan untuk menilai kebutuhan peralatan, cara penanganan, serta dukungan yang diperlukan selama proses berlangsung. Setelah kondisi kapal dinilai memungkinkan, pemindahan menuju galangan dapat direncanakan sebagai tahapan berikutnya. Namun, jadwal dan pelaksanaan setiap langkah tetap bergantung pada hasil penilaian di lapangan. Karena itu, rencana tersebut belum dapat dipahami sebagai kepastian bahwa kapal sudah kembali tegak atau telah dipindahkan. ASDP menyiapkan tahapan secara bertahap agar keputusan operasional selaras dengan kondisi aktual kapal dan perairan.
Pelaksanaan operasi akan mempertimbangkan kondisi kapal, karakteristik perairan Merak, serta keselamatan dan keamanan di sekitar lokasi. Faktor-faktor tersebut dapat memengaruhi pemilihan metode, waktu kerja, kebutuhan pengamanan, dan koordinasi dengan pihak terkait. Kondisi cuaca, arus, kedalaman, serta ruang gerak kapal dan tim juga perlu menjadi pertimbangan dalam persiapan teknis. Pengamanan area di sekitar lokasi diperlukan untuk melindungi personel, kapal lain, dan aktivitas pelayaran selama pekerjaan direncanakan maupun dilakukan. Dengan mempertimbangkan berbagai aspek tersebut, ASDP dan tim salvage dapat menyesuaikan langkah penanganan apabila ditemukan kondisi yang memerlukan perhatian tambahan. Operasi akan dilanjutkan berdasarkan evaluasi keselamatan dan kesiapan teknis, bukan semata-mata mengikuti jadwal. Dengan demikian, proses menuju pemindahan KMP Batumandi ke galangan masih menunggu persiapan serta penilaian lanjutan di lapangan.
Direktur Utama ASDP Heru Widodo menegaskan bahwa penanganan lanjutan KMP Batumandi di perairan Merak perlu dilakukan melalui perencanaan yang matang pada setiap tahap. Menurutnya, proses yang mencakup penanganan kapal hingga pemindahannya tidak dapat dilakukan secara terburu-buru, melainkan harus mempertimbangkan kondisi dan kebutuhan di lapangan. Perencanaan tersebut diperlukan agar langkah yang diambil memiliki arah yang jelas, dapat dijalankan secara terukur, serta sesuai dengan ketentuan yang berlaku. ASDP menempatkan keselamatan dan keamanan sebagai pertimbangan utama dalam menentukan langkah, sekaligus memastikan setiap keputusan disiapkan secara cermat dan bertanggung jawab.
Heru juga menekankan pentingnya koordinasi erat dengan instansi berwenang dan pihak-pihak terkait. Keterlibatan berbagai pemangku kepentingan diperlukan untuk menyelaraskan tahapan penanganan, memastikan informasi yang dibutuhkan dapat dipertimbangkan, serta mendukung pelaksanaan langkah sesuai peran masing-masing. Koordinasi ini menjadi bagian dari upaya ASDP menjaga agar proses penanganan dan pemindahan kapal berlangsung tertib, terukur, dan bertanggung jawab. Dalam situasi pascainsiden, setiap tahapan perlu memperhatikan keselamatan personel maupun keamanan kapal, serta mengikuti arahan pihak berwenang. Karena itu, komunikasi dan kerja sama menjadi unsur penting selama proses berlangsung, tanpa mengabaikan kebutuhan operasional penyeberangan.
ASDP menyatakan akan terus memantau perkembangan penanganan KMP Batumandi dan memperkuat koordinasi dengan pihak-pihak yang berwenang serta terkait.
Baca juga: Upaya Maksimal BPBD Jatim dalam Penanganan Karhutla di Gunung Buthak dan Kawinajang | Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan di Indonesia: Hasil Pertemuan Terkini















