Patrolihukum.net — Pertumbuhan ilmu pengetahuan di Indonesia saat ini masih terpusat pada bidang kesehatan otak atau neurologi, sementara potensi dalam spektrum ilmu sains otak (neorosains) masih minim dieksplorasi. Hal ini disampaikan oleh Prof. Dr. Taruna dalam sebuah diskusi ilmiah terkait tantangan dan peluang dalam pengembangan ilmu pengetahuan di tanah air.
“Penting untuk diakui bahwa fokus kita saat ini terutama pada neurologi, terutama dalam konteks kesehatan otak,” kata Prof. Dr. Taruna. “Namun, potensi dari sisi ilmu sains otak, seperti neurosains, belum sepenuhnya dieksplorasi dengan baik.”

Pertanyaan pun muncul mengenai implikasi ini dalam konteks program pencegahan stunting di Indonesia. Meskipun program-program pencegahan stunting sering kali terkait dengan aspek gizi dan perawatan kesehatan, bagaimana nasib mereka yang sudah terlanjur mengalami stunting tetap menjadi pertanyaan penting yang perlu dijawab.
Prof. Dr. Taruna juga menyampaikan optimisme terkait masa depan pengembangan ilmu pengetahuan di Indonesia. “Saya melihat era kepemimpinan Prabowo Gibran sebagai fase kritis dalam perjalanan menuju Indonesia sebagai negara super power, termasuk dalam bidang ilmu pengetahuan,” tambahnya.
Pertemuan ini diakhiri dengan seruan untuk terus mendorong eksplorasi dan investasi dalam ilmu pengetahuan, baik dalam neurologi maupun neorosains, sebagai langkah krusial dalam membangun masa depan yang lebih baik bagi Indonesia.
*Subscribe, like, share*
[Link Video Diskusi: Prof. Dr. Taruna di YouTube](https://youtu.be/LCLlELJvNaI?si=olCbRa_37IU-3yVy)
—
Berita ini memberikan gambaran tentang fokus dan tantangan dalam pengembangan ilmu pengetahuan di Indonesia, serta menghubungkan hal ini dengan isu kesehatan masyarakat seperti pencegahan stunting. (**)



























1 Komentar