Jogjastory Meramu Lurik dan Motif Yogyakarta dalam Busana Kasual Modern

Jogjastory Meramu Lurik dan Motif Yogyakarta dalam Busana Kasual Modern
banner 468x60

Yogyakarta | Jogjastory berawal dari pengalaman Sri Utami menjalani keseharian pada masa pandemi. Ketika berbagai kegiatan berlangsung dengan keterbatasan, bersepeda menjadi salah satu cara untuk tetap aktif sekaligus menikmati waktu di luar rumah. Dari kebiasaan tersebut, Sri menyadari perlunya pakaian yang nyaman dikenakan saat bergerak, namun tetap terlihat rapi dan memiliki karakter. Pilihan busana yang tersedia belum sepenuhnya menjawab kebutuhan itu: pakaian untuk aktivitas luar ruang sering kali terasa terlalu sporty, sedangkan busana kasual lainnya belum tentu praktis digunakan ketika bersepeda. Pengalaman inilah yang kemudian menjadi titik awal gagasan untuk menghadirkan pakaian dengan perpaduan kenyamanan, fungsi, dan gaya urban.

Sri lalu merintis Jogjastory dengan menghadirkan kemeja sebagai produk awal. Rancangannya diarahkan agar mudah dipakai untuk beragam kegiatan, termasuk bersepeda dan aktivitas harian, tanpa meninggalkan kesan kasual modern. Dalam pengembangannya, identitas lokal Yogyakarta menjadi bagian penting dari karakter busana yang ingin dibangun. Unsur lurik dan motif khas daerah dapat memberi sentuhan berbeda pada pakaian sehari-hari, sehingga tampilannya tidak sekadar mengikuti gaya umum. Pada tahap awal, produk kemeja dipasarkan dengan sistem pre-order. Cara ini memungkinkan Sri menawarkan rancangan kepada calon pembeli sekaligus melihat tanggapan pasar sebelum mengembangkan produksi lebih jauh. Respons dan minat konsumen menjadi petunjuk bagi perjalanan merek tersebut.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Seiring bertambahnya peminat, Jogjastory mulai berkembang melampaui gagasan awal. Pada 2023, Sri mulai mengurus legalitas usaha sebagai bagian dari langkah untuk membangun bisnis yang lebih tertata dan berkelanjutan. Perkembangan itu juga diikuti perluasan jenis produk, sehingga pilihan yang ditawarkan tidak lagi terbatas pada kemeja. Perubahan tersebut mencerminkan upaya menjangkau kebutuhan pemakai yang lebih beragam, sambil mempertahankan pendekatan kasual dan sentuhan identitas Yogyakarta. Dalam struktur usahanya, Jogjastory berada di bawah PT Jayasri Samahita Utama. Dari kebiasaan bersepeda yang sederhana, merek ini tumbuh menjadi usaha busana yang mengolah kebutuhan praktis menjadi gagasan produk, dengan perhatian pada kenyamanan, gaya, dan unsur lokal.

Jogjastory menghadirkan busana kasual modern yang berangkat dari kekayaan budaya dan cerita Yogyakarta. Setiap rancangan berupaya membawa unsur lokal ke dalam pakaian yang nyaman dikenakan dalam kegiatan sehari-hari, tanpa membuatnya terasa terbatas pada acara adat atau suasana formal. Motif dan bahan tradisional diperlakukan sebagai bagian hidup dari gaya masa kini, sehingga pemakainya dapat mengenal identitas Yogyakarta melalui pilihan busana yang praktis. Pendekatan ini juga memberi ruang bagi kisah di balik ragam hias dan wastra untuk hadir dalam bentuk yang lebih dekat dengan keseharian.

Proses pengembangan motif dimulai dengan gambar yang dibuat secara manual. Tahap ini memungkinkan ide visual dirancang dengan cermat, sekaligus menjaga karakter ilustrasi agar tidak kehilangan kesan personal. Setelah bentuknya matang, gambar tersebut didigitalisasi untuk disesuaikan dengan kebutuhan produksi dan kemudian diterapkan pada kain katun organik. Pemilihan katun organik mendukung kenyamanan pemakaian, sementara proses digital membantu motif tampil konsisten pada kain. Perpaduan tahapan manual dan teknologi tersebut menghubungkan keterampilan kreatif dengan kebutuhan desain busana modern, tanpa mengabaikan asal inspirasi yang berakar pada lingkungan budaya Yogyakarta.

Selain mengolah motif, Jogjastory menggunakan lurik melalui kolaborasi dengan perajin lokal. Keterlibatan mereka membantu menjaga keberlanjutan keterampilan menenun sekaligus memberi nilai pada proses produksi yang berakar di daerah. Lurik kemudian dipadukan dengan potongan busana yang lebih modern, misalnya melalui permainan bentuk, detail, dan fungsi agar mudah dipadankan untuk berbagai kesempatan. Hasilnya bukan sekadar menyalin busana tradisional, melainkan menafsirkan unsur wastra dalam siluet yang relevan dengan gaya hidup sekarang. Koleksi Jogjastory terus berkembang dengan pilihan produk yang beragam. Outer menjadi salah satu produk yang diminati pelanggan karena dapat digunakan sebagai lapisan praktis, sekaligus memberi aksen motif atau tekstur yang kuat pada penampilan. Dengan demikian, tradisi dan desain kekinian bertemu dalam busana yang tetap fungsional, nyaman, serta membawa cerita lokal ke ruang sehari-hari.

Jogjastory memperluas jangkauan pasar melalui beberapa jalur agar produk busana kasual berbahan lurik dan bermotif khas Yogyakarta dapat ditemukan oleh beragam pelanggan. Salah satu caranya adalah menitipkan produk secara konsinyasi di sejumlah hotel dan galeri. Kehadiran di lokasi tersebut memberi kesempatan bagi wisatawan maupun pengunjung untuk melihat koleksi secara langsung, mengenali bahan dan detail motif, serta membeli produk sebagai pakaian atau buah tangan. Selain itu, Jogjastory mengikuti pameran untuk memperkenalkan merek, menjalin komunikasi dengan calon pembeli, dan menerima tanggapan langsung mengenai desain yang ditawarkan. Pameran juga menjadi ruang penting untuk memperlihatkan karakter produk kepada masyarakat di luar jaringan penjualan yang sudah tersedia.

Di ranah digital, Jogjastory memanfaatkan Tokopedia dan Shopee sebagai kanal transaksi, sementara Instagram digunakan untuk menampilkan koleksi, membagikan informasi produk, dan berinteraksi dengan audiens. Pelanggan juga dapat menghubungi usaha ini melalui WhatsApp untuk menanyakan ketersediaan, ukuran, atau pilihan produk. Perpaduan kanal daring dan penjualan langsung membantu menjangkau konsumen dengan kebiasaan belanja yang berbeda. Pelanggan Jogjastory berasal dari Yogyakarta dan berbagai daerah lain, termasuk wilayah di luar Pulau Jawa. Jangkauan tersebut menunjukkan bahwa busana yang mengolah kain tradisional dalam bentuk modern dapat menarik minat pembeli lintas wilayah, meskipun mereka tidak datang langsung ke toko atau pameran. Pembelian jarak jauh turut membuka peluang bagi merek untuk memperkenalkan karya lokal kepada khalayak yang lebih luas.

Perluasan pasar membawa tantangan tersendiri pada sisi produksi. Saat ini, kegiatan usaha ditopang oleh tiga pekerja, sehingga kapasitas untuk menangani pesanan dalam jumlah besar masih terbatas. Ketika permintaan meningkat, pemenuhan pesanan perlu disesuaikan dengan kemampuan produksi agar mutu dan ketepatan pengerjaan tetap terjaga. Kondisi ini membuat Jogjastory perlu mengatur jumlah pesanan dan waktu pengerjaan secara cermat, terutama ketika menerima permintaan dalam skala besar dari pelanggan atau kegiatan pameran. Untuk memudahkan transaksi saat pameran, Jogjastory menyediakan QRIS BRI sebagai salah satu pilihan pembayaran. Pembayaran digital tersebut memberi alternatif praktis bagi pengunjung, sekaligus mendukung proses transaksi tanpa mengubah kebutuhan usaha untuk menyeimbangkan permintaan pasar dengan kapasitas kerja yang tersedia.

Sri Utami mengenal LinkUMKM by BRI melalui Instagram. Dari informasi yang ia temukan di platform tersebut, ia kemudian memanfaatkan layanan digital ini untuk menambah wawasan dan memperdalam pengetahuan mengenai pengembangan usaha. Kesempatan memperoleh materi pembelajaran serta masukan dari mentor menjadi salah satu manfaat yang ia rasakan. Bagi pelaku usaha seperti Sri Utami, akses terhadap informasi yang relevan dapat membantu memperluas sudut pandang, mengenali peluang, dan mempertimbangkan langkah yang sesuai dengan kebutuhan bisnis. Pengalaman ini menunjukkan bagaimana kanal digital dapat menjadi pintu masuk bagi UMKM untuk menemukan dukungan, tanpa harus bergantung pada pencarian informasi secara mandiri.

Corporate Secretary BRI Dhanny berpandangan bahwa penguatan UMKM membutuhkan dukungan yang menyeluruh. Pembiayaan tetap penting, tetapi peningkatan kapasitas pelaku usaha dan perluasan akses pasar juga perlu mendapat perhatian. Bekal pengetahuan dapat membantu pemilik usaha mengelola bisnis dengan lebih terarah, sedangkan akses pasar membuka peluang agar produk dikenal oleh lebih banyak calon konsumen. Karena itu, pendampingan dan pembelajaran menjadi bagian dari ekosistem pendukung yang melengkapi pembiayaan. Pendekatan tersebut relevan bagi UMKM yang berada pada tahap perkembangan berbeda, sebab tantangan dan kebutuhan setiap usaha tidak selalu sama.

Baca juga: Peresmian Kodam Mataram Mengubah Struktur Komando TNI di Yogyakarta | WJNC 2026 Hadirkan Festival Budaya untuk Menguatkan Daya Tarik Yogyakarta 50 kunjungan

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60