Pengalaman Radja Nainggolan Beradaptasi dengan Kehidupan di Indonesia

Pengalaman Radja Nainggolan Beradaptasi dengan Kehidupan di Indonesia
banner 468x60

Jakarta | Kedatangan Radja Nainggolan ke Indonesia menjadi babak baru dalam perjalanan kariernya. Setelah bertahun-tahun tampil di kompetisi Eropa dan memperkuat sejumlah klub ternama di Liga Italia, mantan gelandang tersebut sempat mempertimbangkan untuk pensiun dari sepak bola. Keputusan untuk tetap bermain membawanya pada pengalaman yang berbeda, terutama ketika ia menerima kesempatan bergabung dengan Bhayangkara FC. Klub tersebut menjadi tempat bagi Radja untuk melanjutkan kiprahnya sekaligus mengenal lingkungan sepak bola Indonesia secara langsung.

Radja menjalani periode bermain bersama Bhayangkara FC pada 2023 hingga 2024. Dalam rentang waktu itu, ia tercatat tampil dalam 10 pertandingan, menyumbangkan satu gol, dan memberikan tiga assist. Meskipun jumlah penampilannya tidak terlalu banyak, kehadirannya tetap menarik perhatian karena pengalaman panjang yang dimilikinya di level tertinggi sepak bola Eropa. Kemampuan membaca permainan, karakter kuat, serta reputasinya sebagai pemain berpengalaman membuat setiap penampilan Radja bersama klub memperoleh sorotan dari penggemar dan pengamat sepak bola nasional.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Masa kerja Radja di Bhayangkara FC berakhir setelah kontraknya selesai pada Juni 2024. Berakhirnya kerja sama tersebut menandai penutup salah satu fase penting dalam perjalanannya di Indonesia. Selama tinggal dan bermain di tanah air, Radja tidak hanya beradaptasi dengan tuntutan pertandingan, tetapi juga menghadapi perbedaan dalam kehidupan sehari-hari. Ritme kompetisi, suasana latihan, lingkungan sosial, budaya, hingga kebiasaan masyarakat Indonesia memiliki karakter yang tidak sepenuhnya sama dengan pengalaman yang biasa ia jalani di Eropa. Perbedaan-perbedaan inilah yang kemudian membentuk pengalaman adaptasi Radja selama berada di Indonesia.

Menetap di Jakarta membuat Radja Nainggolan perlu menyesuaikan rutinitas hariannya dengan perbedaan waktu yang cukup besar Indonesia dan Belgia. Perbedaan tersebut terasa terutama ketika ia ingin tetap berkomunikasi serta bermain secara daring bersama teman-temannya di Eropa. Waktu di Jakarta berjalan lebih cepat dibandingkan waktu di Belgia, sehingga jadwal yang biasa dilakukan pada malam hari di Belgia berlangsung pada dini hari di Indonesia.

Radja tinggal di lantai 28 sebuah gedung di Jakarta. Dari tempat tinggal tersebut, ia menjalani pola aktivitas yang berbeda agar tetap dapat terhubung dengan lingkaran pertemanannya di Belgia. Ketika teman-temannya di Belgia sudah memasuki waktu malam dan menunjukkan pukul 22.00, waktu di Indonesia sudah sekitar pukul 05.00. Dengan demikian, sesi bermain PlayStation bersama mereka baru dapat dilakukan pada pagi buta menurut waktu Jakarta.

Situasi ini mengharuskan Radja mengubah kebiasaan bermainnya. Ia tidak bisa mengikuti waktu malam Indonesia apabila ingin bermain bersamaan dengan teman-teman di Belgia, karena pada saat itu mereka masih berada pada waktu yang lebih awal. Sebaliknya, ia perlu menunggu hingga waktu di Belgia mencapai malam hari, yang berarti di Jakarta hari sudah berganti dan waktu telah memasuki sekitar pukul 05.00.

Perbedaan zona waktu tersebut menjadikan komunikasi dan permainan daring sebagai bagian dari rutinitas yang berlangsung pada jam tidak biasa. Radja harus menyesuaikan pola aktivitasnya dengan jadwal teman-temannya di Eropa, termasuk menerima bahwa waktu bermain bersama berlangsung pada dini hari waktu Indonesia. Pengalaman ini menunjukkan bahwa kehidupan di Jakarta tidak hanya menuntut penyesuaian terhadap tempat tinggal, tetapi juga terhadap ritme keseharian ketika hubungan dengan Belgia tetap dijaga melalui komunikasi dan permainan PlayStation.

Bagi Radja Nainggolan, salah satu pengalaman yang paling berkesan selama tinggal di Indonesia berkaitan dengan suara azan subuh. Ketika masih bermain sepak bola atau melakukan aktivitas hingga dini hari, ia beberapa kali belum sempat beristirahat saat waktu subuh tiba. Dari tempat tinggalnya di lantai 28, suara azan terdengar dari berbagai arah. Ia memperkirakan suara tersebut berasal dari sekitar 50 masjid yang berada di lingkungan sekitar, sehingga kumandangnya muncul hampir bersamaan dan dapat terdengar dengan jelas.

Situasi itu menjadi pengalaman yang berbeda bagi Radja dibandingkan kebiasaan yang ia kenal sebelumnya. Karena berada di ketinggian, ia dapat mendengar suara dari banyak tempat sekaligus, bukan hanya dari satu masjid yang letaknya paling dekat dengan tempat tinggalnya. Perbedaan jarak dan arah membuat suara azan datang secara berlapis. Bagi dirinya, pengalaman tersebut terasa menonjol terutama ketika ia masih terjaga setelah beraktivitas atau bermain sampai larut malam.

Radja juga menyampaikan bahwa keadaan tersebut terkadang membuatnya sulit tidur. Saat tubuh membutuhkan istirahat, kumandang dari berbagai masjid yang terdengar pada waktu hampir bersamaan membuat suasana dini hari terasa berbeda dari yang biasa ia alami. Pernyataan itu menggambarkan pengalaman pribadinya ketika menyesuaikan diri dengan lingkungan tempat tinggal di Indonesia, bukan penilaian umum terhadap azan, masjid, atau kehidupan masyarakat Indonesia. Seiring waktu, suara tersebut menjadi bagian dari hal-hal yang ia temui dalam kesehariannya selama berada di tanah air. Pengalaman ini menunjukkan bahwa proses adaptasi dapat mencakup detail sederhana dari rutinitas harian, termasuk perubahan suasana pada waktu subuh setelah malam yang panjang.

Pengalaman mendengar azan subuh menjadi salah satu bagian dari kehidupan Radja Nainggolan selama berada di Indonesia. Suara azan yang terdengar pada pagi hari tidak membuatnya merasa terganggu atau tidak nyaman tinggal di negara ini. Sebaliknya, pengalaman tersebut menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat setempat yang ia temui selama menjalani aktivitas di Jakarta. Ia dapat menerima suasana tersebut sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari di lingkungan tempatnya tinggal.

Selain azan subuh, Radja juga menikmati berbagai kebiasaan masyarakat Indonesia, termasuk tradisi yang berlangsung selama bulan Ramadan. Bulan puasa memberinya pengalaman berbeda karena terdapat kebiasaan untuk bangun pada pagi hari dan makan bersama sebelum menjalankan ibadah puasa. Ia ikut terbangun pada waktu tersebut untuk menikmati makan bersama, sehingga kegiatan yang mungkin terasa tidak biasa baginya justru menjadi pengalaman yang menyenangkan.

Bagi Radja, momen makan bersama pada pagi hari selama Ramadan terasa spesial. Kegiatan itu memperlihatkan suasana kebersamaan yang ia rasakan di tengah kehidupan masyarakat Indonesia. Ia tidak hanya menyaksikan kebiasaan tersebut dari luar, tetapi juga ikut mengalaminya secara langsung. Dengan demikian, pengalaman selama Ramadan menjadi salah satu hal yang dikenang Radja dari waktunya tinggal di Jakarta.

Kesan positif itu menunjukkan bagaimana Radja menjalani kesehariannya di Jakarta dengan menikmati kebiasaan yang ada di sekitarnya. Azan subuh tidak dipandang sebagai sesuatu yang mengusik, sementara kegiatan makan bersama selama Ramadan justru memberikan pengalaman yang menyenangkan dan spesial. Kedua pengalaman tersebut menjadi bagian dari kesehariannya selama berada di Indonesia, tanpa mengubah pernyataannya bahwa ia menikmati kebiasaan masyarakat setempat.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60